data-ad-format="auto"

SMARTPHONE, KETAKUTAN, DAN KEBOSANAN


Kusuma Ndaru


Teknologi saat ini diciptakan dengan prinsip mempermudah aktivitas manusia, namun bagaimana bila yang terjadi sebaliknya. Ketika teknologi memenjarakan pikiran, yang kata heideger bahwa teknologi hanya sekedar manipulatif saja. Pernahkah kita mempertanyakan "mengapa saya mengunakan smartphone? Memiliki akun instagram, facebook, twitter, game, tiktok, PUBG, atau mobile legend? Mengaksesnya setiap saat tanpa mengalami kebosanan?" Bila kita sadari penggunaan Smartphone begitu otomatis, apakah perilaku in sudah masum ke dalam alam bawa sadar dan terpatri di otak, Dan mengapa kita bosan dalam belajar atau membaca buku? Saya pikir otak kita telah mengalami gangguan. Ketika berkumpul dengan keluarga, pasangan, atau dalam jamuan makan malam kita tidak bisa melepas smarphone kita, dalam kamar mandi, dalam keadaan apapun dan selagi kita terjaga kita akan mengakses smartphone.

Informasi di media sosial dan hal lain yang kita lakukan sepanjang hari dengan smartphone menstimulasi otak, ada mekanisme dalam pikiran kita yang disebut "novelty bias" sesuatu yang baru merupakan hal yang baik, sehingga menimbulkan "FoMo" (kurang update). dimana pikiran menghadiai dengan pukulan dopamin yang merupakan salah satu bahan kimia kesenangan yang indah yang sama kita dapatkan ketika kita makan dan memesan pizza, hal yang sama didapatkan saat bercinta, juga ketika mengalamai kebahagiaan, terlihat dopamin ini menalir melalui pikiran kita. Itulah kenapa otak kita selalu "mengidam" smartphone. Sehingga kita mendambakan gangguan karena kita mengalami pikiran yang menyenangkan, sensasi kebahagian pada dosis yang pas, (saya masih belum bisa memberikan indikator dosis yang pas itu seperti apa, bisa jadi dopamin yang mengalir begitu fluktuatif, sehingga ketika kurang mendapatkanya kita akan semakin dalam berselancar di smartphone).

Pada akhirnya pikiran kita mencari cari gangguan ini terus menerus.  Saya sebut smartphone sebagai gangguan karena dalam penggunaanya smartphone meningkatkan aktivitas "atensi" otak, sehingga otak mengalami kelelahan.  Jarak antara stimulus atensi tinggi dan stimulus atensi rendah dinamakan "kebosnanan". Itulah kenapa kita akan merasa kehilanagan sebagian hidup saat kita berada jauh dari smartphone. Ketika terjadi penurunan atensi kita akan berusaha untuk meningkatkan kembali,  menscroll smartphone dan, membuka kanal berita atau yang lain.

Saya rasa para pemilik modal memahami bahwa kalau hanya mengandalkan dunia dalam genggan manusia bisa lepas dari mengidam, maka dibuatlah smartwatch yang merefleksikan borgol di tangan. Segala notifikasi smartphone dapat di lihat, bergetar ketika ada yang baru.

1 wicara:

terserah mengatakan...

ayo daftarkan diri anda di 4g3n365*c0m :D
WA : +85587781483

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE