data-ad-format="auto"

SANG PERINTIS ITU PERGI

Achluddin Ibnu Rochim
FISIP UNTAG SURABAYA 
29 Mei 2019 pukul 09.51


Tepat tanggal 31 Mei 2019 nanti,
BlackBerry Pamit.

     Saya koq jadi sedih ya,
pada platform perintis ini.
     Betapa saya masih ingat tahun-tahun awal ketika teknologi HP berfitur canggih ini mulai nongol pelan-pelan memasuki pasar, kemudian merangsek menempati hati pengguna smart phone dengan magnet berupa: PIN.
     Pada saat banyak orang menggerutu karena SMS an berbiaya tinggi. Sementara uang pulsa tak pernah lebih.
     Tak pernah cukup. Selalu nge pas.
     Tapi itu untuk mereka yang tak punya BlackBerry, berat di ongkos. Tentu ini beda hal dengan nasib saya, yang oleh BBM saya dibuat bahagia.
     Bagaimana tidak. Berkat revolusi IT yang ditanam dalam gadget pertama kali oleh BlackBerry, saya kirim dan terima pesan menjadi gratis, bebas biaya: Tak terbatas. Tak berwaktu.
     Ya, sungguh amat prestise miliki BlackBerry generasi pertama. Manakala yang lain masih belum banyak yang punya HP ber fitur Chat. Masih jadul. Bisanya cuman sms. Saya sudah bisa berkata dengan jumawa "Apa PIN mu?! "
     Masih segar dalam ingatan ini, bagaimana senengnya bisa godain doi lewat pesan-pesan misterius.
     Padahal saya tak pernah saling tukar PIN dengan si Doi lho. Saya tak mau minta PIN padanya, malu rasanya. PIN justeru saya dapat dari sahabatnya yang lain, Hehehe.
     Akhirnya suatu hari, nge prank lah saya pada si doi lewat pesan dengan cara membobol peer to peer: wah seruu..
     Ngakak saya, melihat dari kejauhan si doi yang justru kebingungan, sebab menurutnya aneh, berkali-kali ada pesan masuk, tapi doi ga pernah merasa beri PIN ke orang iseng ini. Kok bisa ya? ujarnya masih bingung.
     Rasain, batin saya waktu itu. Habisnya ga mau tukar PIN sih.
     Ah, tapi semua itu sudah lewat. peristiwa itu telah menjadi bagian dari masa silam. Sudah berlalu.
     BlackBerry sudah akan pensiun.
     Saya sekarang jadi sedih, karena sang perintis ini akan pamit pergi untuk tak kembali.
     Platform yang pernah mengukir sejarah, dengan andil besar dalam mengawal peradaban komunikasi dan informasi itu harus tahu diri. Ia mundur teratur dari gelanggang persaingan.
     Ia kalah bukan karena kualitasnya rendah.
     Bukan.
     Ia kalah karena generasi baru tak memperdulikannya.
     Saya sedih karena sebelum ini, lumayan lama si BB -demikian kami menyebutnya- terpinggirkan. Terseok-seok di pasaran, dan meskipun begitu, ia tetap mencoba bertahan sekuatnya, dengan inovasi fitur-fitur tambahan yang bersifat lintas platform.
     Dia terus berjuang, bertahan demi saya, mungkin juga demi anda, demi orang-orang lama yang pernah berhutang budi padanya.
     Sebab sebelum ada smartphone canggih yang ada di tangan anda sekarang ini, anda dulu pernah difasilitasi sehingga bisa berpacaran, chat sembunyi-sembunyi dengan pujaan via instan massanger. Ya BBM !
     Kini oleh dinamika revolusi pendatang: android, platform ini harus tersungkur.
     Dia pamit meninggalkan kita semua.
    Sang lokomotif instant massanger itu kini sudah akan pergi. Di saat platform pengekor lain justeru sedang berjaya menangguk untung menggunung.

"Kami harap Anda akan terus mengenang berbagai memori indah bersama BBM yang telah turut membentuk masa depan platform pesan instan hingga hari ini." ujar pisahnya dalam sebuah press release.


     Coba siapa yang gak galau mengetahui statement kayak gitu.
     Sedih tau!
     Kecuali kamu gak pernah punya Blackberry dalam hidupmu, atau mungkin karena umurnu termasuk kategori generasi baru, so kamu ga mungkin bisa empati.

     Blackberry Massanger, now, say good bye. Dan saya pun berkabung karena kenangan yang pernah ditinggalkannya.
Ah,

1 wicara:

terserah mengatakan...


ayo daftarkan diri anda di a*g*e*n*3*6*5 :D
WA : +85587781483

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE