Oleh: iismail hasan (hilang orang)
Syarif, wajah lugu dengan segala keterbatasan dihidupmu, membuat aku belajar banyak hal.
tidak ada yang bisa menentukan dari keluarga apa dan bagaimana kita dilahirkan. namun nasib yang sejati adalah bagaimana kita belajar menjadi untuk baik. meskipun baik itu masih subjektif dari mana kita memandang.
terlahir dari keluarga tak punya, Tuju bersaudara, dan tak pernah menikmati kasih sayang ibu kandung dari usia 9 bulan. Kau diasuh oleh teman dari ayahmu, sebab ayahmu tak mampu mengasuh mu dan tak mampu membelikan susu untukmu.
kini diusia muda dengan segala pristiwa yang kau jalani, menjadilah dirimu.
dengan mengayuh sepeda tua mu dan seutas payung. berjalan menyusuri malam berkeliling di kisaran keramaian, berbaur dengan setiap orang yang kau temui, berbincang dan berdialog untuk mencapai pengetahuan mu.
diusiamu yang masih sangat muda, sewjarnya masih bermain-main dengan teman sebayamu. mungkin aku tak samapai beratnya, kenapa tak bermain dengan trman sebayamu, dan kau tak istirahat waktu sudah terlalu malam??
pukul sudah menujukan waktu 00.11, perbincangan kita semua semakin menarik, seluruh arah pembicaraan terporos di dirimu.
kau bicara tentang pentingnya membaca, kau bicara tentang tokoh-tokoh dunia yang mampu membawa perubahan karena membaca.
kau mengulas tentang generasi bangsa yang semakin terpuruk sebab tidak membaca. banyak faktor yang mempengaruhi minat baca katamu, pendidikan yang dijual, hegemoni dari alat-alat dan kondisi yang didesain untuk membuat kita nyaman. hingga kenyamanan itu pula yang menjadi kan kita kecanduan dengan kondisi yang sudah didesain seperti itu.
lantas apa yang harus dilakukan oleh generasi seperti ini? tanyaku. dengan santainya kau bilang, bahwa kita itu kurang bersyukur, sehingga kita tidak bisa mencapai tingkat kenyamanan yang muncul dari diri sendiri, hingga kenyamanan kita harus ikut-ikutan.
syarif malam ini, kau menelanjangi ku, setiap argumen yang terucap dari mulut mu, melucuti pakaian-pakaian yang penuh kepalsuan yang ada di tubuhku.
mungkin aku harus belajar dari dirimu, syarif. tentang ketabahan dan kesyukuran pada hidup dan setiap fase kehidupan.




https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar