data-ad-format="auto"

Euforia perayaan kesehatan mental duniaea




Oleh: NAFA 
(Mahasiswa psikologi UNTAG Surabaya)


Selamatkan mental rakyat indonesia di hari kesehatan mental dunia

Euforia perayaan kesehatan mental dunia mewarnai negeri ini, mulai dari artis pemain film, penyanyi, pimpinan perusahaan multinasional memeriahkan acara tahunan ini.

Tak luput juga mahasiswa memamerkan aksinya di kanca persaingan eksistensi diri.

Lembaga tertinggi yang menaungi mental rakyat indonesia meluncurkan aksi ICARE untuk menangani sakitnya mental negeri ini.

Bagaimana dengan mental tempe yang selama ini masyarakat sering lontarkan untuk mendiskripkan orang-orang yang penakut, culun, minder dan sebagainya.. apakah mental yang baik merujuk pada abdi negara yang berbadan garang dan memiliki ketegasan dalan setiap langkah.

Terakhir kali saya mengunjungi day care untuk penderita skizofrenia tidak ada parah ahli di sana, tempatnya cukup terkenal, besar, dan memiliki member skizofrenia lebih dari 300. Tempat ini menjadi rujukan kepolisian dan bahkan rumah sakit umum daerah setempat untuk menampung orang dengan skizofrenia.

Di tempat ini tidak ada tenaga profesional yang menangani orang-orang skizofrenia ini. Baik itu doktor jiwa maupun psikolog.

Hebatnya tempat ini dengan keterbatasan tenaga dan berbagai kekurangan banyak member yang sembuh dan kembali bersosialisasi dengan masyarakat umum.

Fakta yang pernah saya hadapi lagi ketika bertemu dengan skizofrenia di taman dekat kampus, orang ini sudah bisa di ajak ngobrol sedikit tahu mengenai dirinya. Di tanganya terdapat gelang yang menunjukan orang ini pasien dari Rumah sakit jiwa milik pemprov jatim, tak begitu lama saya langsung menghubungi pihak rumah sakit. Ternyata respon yang di berikan cukup buruk menyatakan orang ini bukan pasien runah sakit tsbt padahal jelas ada gelang tertera nama rumah sakit itu. Saya sempat ber adu argumen karena masalah ini. Tapi nasib buruk menimpa orang skizofrenia ini.

Saya teringat lagi dengan kampanye presiden jokowi dengan jargon REVOLUSI MENTAL Untuk memperbaiki karakter bangsa yang lebih baik.  Baik identik dengan sehat secara tersirat pak jokowi menyatakan masyarakat indonesia sakit jiwa hihihih. Karena mental yang buruk.


Kembali kedalam topik tulisan ini. Kesehatan mental di negeri paling besar pengaruhnya berada di perkotaan, lembaga survei internasional menyatakan indonesia menempati 10 besar dunia negara dengan indeks kebahagiaan yg baik.
Ini tidak patut di banggakan karena alasan kita menempati peringkat itu indonesia masih memegang budaya lokal, belum tentu 10 tahun ke depan kita masih bisa ada dalam lingkaran itu.

Indonesia kekurangan orang yang beranibturun tangan dalam mengahadapi masalah kesehatan mental, yang terbaru forum lembaga eksekutif mahasiswa nasional dari satu prodi, tidak berani meentukan sikap terhadp kejahatan seksual yang menimpa anak-anak indonesia, yang jelas masalah ini bisa merusak masa depan penerus bangsa.

Tidak adanya aksi nyata mahasiswa membuat lebel mahasiswa sebagai agen perubahan hanyalah omong kosong, Soekarno pernah melontarkan "beri aku 10 pemuda, akan aku goncangkan dunia" pemuda seperti apa yang di maksud beliau, apa seperti mahaaiswa sekarang yang bermental tempe, tidak berani mengambil keputusan, tidak berani mengambil resiko.

Mental seperti ini terbawah ke lembaga yang yang menaungi prodi saya. Mereka tidak berani mengambil sikap tegas dalam menyelsaikan kesehatan mental negeri ini. Masih banyak orang skizofrenia yang tidak mendapatkan penanganan secara ilmiah. Tidak adanya pencegahan kejahatan seksual terhadap anak, tidak ada lembaga konseling non profit di kampung-kampung. Saya teringat ucapan gubernur bem saya ketika dia berdialog dengan dosen "jangan ambil psikologi sosial, karena gak ada duitnya"  pernyataan yang mengglitik namun sangat berbahaya...

Jika mental kita seperti itu hanya berorientasi pada uang, kesenagan semata tanpa peduli dengan rakyat, "
Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka

Di hari kesehatan mental dunia ini kita bisa maknai begitu luas, kita sebagai pemuda, mahasiswa yang notabennya orang terdidik, harus merubah mental kita  agar lebih peduli terhadap sesama. Pancasila berisi 5 sila, sila ke 2 sampai 5 berhubungan dengan sesama manusia. Kembalilah ke mental gotong royong, mental tenggang rasa, mental untuk membangun negeri ini.

Salam mahasiswa



0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE