data-ad-format="auto"

Segitiga Bermuda dalam Mobil (Bag.6)



Syaiful AH
Alumni F.Psikologi Untag Surabaya
April 17, 2011

Giliran Mbah Walid mengajak kami untuk mencobanya masuk, benar, “ayo kita coba mbah”, kata Mbah Walid yang sudah puluhan tahun mendalami kehidupan Spiritual, dan ini adalah fenomena tentang lorong waktu, yaitu dunia fana (ruang fisik kita) di bumi, jika memasuki lorong waktu, berarti hilang secara misterius, dan jika keluar dari lorong waktu itu, maka artinya adalah muncul lagi secara misterius. Ahh… ini hanya teori, tetapi kenyataannya tetap mengerikan. “Bukan”, kata Mbah Walid, “ini nyata, Menurut sebuah naskah kuno menyatakan bahwa Raja Iskandar Agung pernah mencoba masuk ke kawasan agung itu (Segitiga Bermuda) dan sekembalinya mereka mengatakan bahwa tempat itu berpasirkan permata dan berbatukan berlian. Tempat yang dipenuhi dengan kabut putih tebal itu sangat indah untuk dipandang tapi sangat berbahaya untuk di datangi” Waktu hanya kurang 15 menit dari subuh, dan kami telah siap untuk masuk dalam mobil. Pintu mobil telah dibuka, dan wartawan asing yang kebetulan di Surabaya mulai sibuk memasang kamera nir cable persis di bagian dashboard agar bisa melihat langsung orang-orang yang berada dalam mobil, kamera yang dilengkapi dengan infra merah, dan pengeras suara juga diletakkan di dashboard dan jok belakang kemudi. Jendela pintu bagian tengah di buka, dan kami semua masuk dalam mobil. Jendela pintu tengah mulai saya tutup atas perintah Kyai muda yang duduk di samping saya, namun jendela pintu bagian kemudi masih tetap terbuka, karena mbah Walid masih berbicara dengan Hita dan Perwira Polisi serta Kameramen yang memberikan instruksi bila terjadi apa-apa, dan suara kunci mobil terdengar “klik” tanda mobil akan dinyalakan meski jendela belum tertutup penuh, dan “glek” jendela mobil telah tetutup penuh diiringi suara dzikir oleh dua Kyai yang turut dalam mobil. Semua telah tertutup rapat, dan Mbah Walid menoleh ke arah saya, “hayo mbah dolan mumpung ada mobil nganggur”, gurau Mbah Walid membuat saya kaget dan sedikit lebih tenang dari semula yang cukup tegang. Inka yang tau saya masuk ke dalam mobilnya ternyata juga sudah menelpon dan menyampaikan pada istri saya, yang saya juga sempat ngobrol sebentar sebelum jendela mobil saya tutup. Anehnya, meskipun istri saya juga melihat keganjilan mobil ini dari berita dan siaran langsung di televisi, dia tidak menghawatirkan saya saat saya meminta ijiin untuk ikut masuk dalam mobil, dan menganggap itu hanya berita bohong yang dibuat untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah-masalah politik, dari keinginan DPR yang membangun gedung yang banyak dikritik masyarakat. Dan saya merasa nyaman tanpa beban untuk ikut masuk dalam mobil, setelah istri saya mengijinkan, juga Dewi yang melepaskan tangan saya saat memasuki Mobil. Aku memandangi kecantikannya, dan mencium keningnya. Wajahnya nampak begitu khawatir, sambil menutup jendela aku mengatakan, “Dulu aku pernah tertarik kepadamu, sayang aku terlambat mengatakannya, bahwa engkau pernah lewat dalam hatiku”, dan Dewi menghambur menciumku, betapa aku merasa sangat tenang dan damai, saat Dewi memelukku, “semoga kamu bisa kembali ya mas”, dan “mudah-mudahan, tetapi aku sudah mulai yakin”, kataku. Suara mobil menderu dengan sangat halus karena mobil mewah keluaran terbaru. Semula tegang dan berkeringat terasa berkurang saat Mbah Walid menghidupkan AC mobil, dan lampu sein juga sudah dinyalakan. “lampunya kok mati ya” tiba-tiba mbah Walid mendongak ke depan sampil memutar-mutar saklar lampu mobil. AC terasa berhembus dari lubang angin, dan membuat udara terasa sejuk, kemudian AC menghembuskan kabut, kabut semakin tebal berkilauan hingga aku tidak melihat Kyai muda atau Mbah Walid lagi dalam mobil ini. Aku melihat diriku telah berubah, dan melihat mbah Walid yang tersenyum memandangku kemudian pergi entah kemana, juga dua Kyai muda yang sejenak memandangku kemudian juga pergi. Aku berpikir, kemana barang dan orang yang hilang dalam mobil ini ya?” sesaat aku melihat Polisi, Wartawati, dan dua Dukun yang hilang hadir di depanku sambil menyapa dan tersenyum, tapi aku tidak melihat barang-barang yang dikatakan Inka, dan tiba-tiba semua barang yang lenyap berada di bawahku. Semuanya terasa aneh dalam mobil ini, pada saat aku memikirkan sesuatu, maka sesuatu itu muncul dengan sendirinya. Aku ingin melihat diriku, melihat badanku. Ohh… ternyata bentukku menjadi seperti mirip telor, oval, bukan, elips, juga bukan, segitiga, juga bukan, kubus, juga bukan, balok juga bukan. Apa nama bentuknya tubuhku ini, kulitku menjadi bening seperti kaca yang tembus pandang, juga bukan … tiba-tiba kulitku berwarna hitam saat aku mengatakan kulitku sebening kaca, ya kulitku menjadi hitam, ohh… bukan, kulitku merah, tidak..kulitku adalah putih, ohh.. kulitku terus ebrubah warna menajdi kuning, hijau, biru dan terus berubah saat aku menilai warna kulitku sendiri. Aku harus keluar dari mobil, dan aku merasa telah berada di luar ….. semuanya terasa melelahkan, dan aku harus pulang menemui istriku. Ohh… kenapa badanku menjadi lentur dan bergerak sangat cepat, kini aku sudah di rumah, dalam kamar dan meliha istriku sholat subuh. Aku ingin melihat anakku di kamar depan, dan sejenak aku sudah berada di kamar depan, tanpa melewati pintu dan aku mampu menembus dinding. Ohhh….. apakah aku ini sudah mati?? Aku melihat Dewi tetap termangu di samping mobil dan matanya berkaca-kaca. Aku mendekat dan menciumnya meski dia tidak merasakannya. Aku tidak merasa takut, khawatir, sedih atau perasaan apapun. Aku menciumi anakku dan menggodanya, sungguh ini tidak seperti biasanya. Setiap kali anakku ku cium, dia selalu tersenyum, meskipun saat dia masih tertidur. Aku menjumpai istriku, dan seperti biasanya aku mendekat kemudian memeluknya dari belakang, dan kucium lehernya. Kenapa istriku diam saja, apakah dia tidak merasakan apapun saat aku cium?. Aku coba berteriak keras memanggilnya, dan dia tetap diam saja, hanya tampak seperti mencari sesuatu. Istriku ke kamar depan dan membangunkan anak pertamaku untuk shalat. Aku tidak sedih, tidak merasa gembira, juga tidak merasakan apapun. Aku harus kembali ke mobil itu, suasananya masih tetap seperti malam tadi, juga Warung mbah Walid juga masih sepi selain Polisi dan wartawan yang duduk di warung menunggu petugas Lapan dan petugas dari Bappeten (Badan Pengawasan dan pengendalian tenaga nuklir) yang didatangkan dari Jakarta. Ohh… pagi in aku harus pulang mengantarkan anakku berangkat sekolah, dan aku telah berada di rumah melihat istriku menangis sambil memegang ponsel, juga anak-anak berada di dekat ibunya sambil memanggil-manggil ayahnya. Ohh… ternyata aku ini adalah roh, aku telah mati setelah masuk dalam mobil itu. Aku melihat anak-anakku bersedih dan menangis, tetapi aku tidak merasa sedih, aku juga tidak gembira atau senang melhat diriku yang telah tidak terikat oleh ruang dan waktu, juga tidak memiliki emosi apapun. Saat aku berpikir tentang Osaka, maka aku telah berada di Osaka hanya dalam satu detik, dan kembali ke rumah melihat istri dan anak-anakku yang mulai menelpon orangtuaku, saudara-saudaraku juga kerabatnya yang lain. Bila benar aku sudah mati, lalu dimana malaikat penjaga kubur? TAMAT

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE