data-ad-format="auto"

Putri Ratu Memaksa Melihat Tuhan (Bag. 8)



Syaiful AH
Alumni F.Psikologi Untag Surabaya
April 29, 2011

Di Balairung istana, Mahapatih, dan beberapa tumenggung juga perwira telah duduk dihadapan Maharaja. Sesaat kemudian Putri Hita sebagai seorang Senopati Utama sekaligus pewaris tahta didampingi Ksanti datang berjongkok dan kemudian menyembah Maharaja sebagai rasa hormat. Wajah para tumenggung dan perwira tampak serius memandang kedatangan Putri Hita yang hendak menyampaikan peristiwa pembunuhan di Puri Boko di Istana Timur, kecuali Tumenggung Kriya yang wajahnya tampak pucat pasi dan sangat gelisah. Putri Hita menyampaikan pada Maharaja bahwa dirinya tidak mengetahui siapa samhala durjana (pembunuh bayaran) itu, karena dua orang telah melarikan diri dan tiga orang telah tewas, serta dua prajurit jaga gugur. Mendengar bahwa tiga samhala telah tewas, wajah tumenggung Kriya mendadak tampak lega, dirinya merasa aman dari tuntutan hukum karena mendalangi percobaan pembunuhan keluarga raja. Mahapatih segera bertanya, “jadi tidak ada bukti dan saksi siapa dalang pembunuhan ini ananda senopati?”, dan segera putri Hita menjawab, “tidak ada saksi paman, karena satu pembunuh yang hendak kami tangkap hidup-hidup segera menelan racun, seketika itu meregang nyawa”. “Apakah mungkin para pembunuh itu orang suruhan Pangeran Wawa dimas prabu?” Tanya patih pada maharaja, dan segera Maharaja menjawab, “saya tidak yakin kakang patih, namun biarlah telik sandi yang menyelidiki masalah itu dan dibantu oleh Rakrayan Dharmadyaksa Ring Kasyaiwan (Kepala Pengadilan untuk pemeluk agama Hindu) dan Rakrayan Kasogatan (Pimpinan agama Buda)”. Pagi hari matahari cukup terik setelah semalam suntuk turun hujan deras, istana Puri Timur tampak lengang, dan tidak seperti hari-hari sebelumnya, Sang Putri yang lebih banyak menghabiskan waktunya dalam kamar, kini telah tampak di pendapa, berbaring menghadap halaman dan menyandarkan kepalanya di tangan kanan. Putri Hita telah merias diri seolah akan mengunjungi pesta, dengan berpakaian yang mengundang birahi pagi meskipun tidak menggunakan perhiasan untuk mempercantik penampilannya. Dayang Puspita bersama para pelayan istana mondar-mandir mengantarkan minuman dan makanan untuk sarapan pagi tuan putri. Penampilan sang Putri pagi ini telah menghidupkan suasana, semua kehidupan di istana Puri terasa lebih indah dan penuh gairah kembali. Ayam-ayam jantan terus menerus berkokok, dan burung-burung di pepohonan halaman puri terdangar riang bersahut-sahutan, berkicau merdu, bunga-bunga kemuning dan melati mekar, dan baunya semerbak memenuhi seluruh istana puri seolah menyambut keceriaan Sang Putri. Pengawal datang menuju pendapa dan menyampaikan kedatangan Tumenggung Kriya yang sekarang masih di depan pintu gerbang. Putri Hita segera mempersilahkan masuk, dan didampingi pengawal hingga di tangga pendapa, Tumenggung Kriya melihat Putri Hita berbaring santai. Tanpa menyambut dan memberi hormat, sang Putri mempersilahkan Tumenggung Kriya untuk duduk dan segera menikmati sarapan pagi yang telah dihidangkan. “Ada apakah gerangan yang membawa paman Tumenggung mengunjungi puri pagi-pagi begini?”, sambil menikmati kopi pagi dan menatap Sang Putri yang masih berbaring dengan menyangga kepalanya di tangan kanan, dan pakaiannya yang mengundang birahi, membuat Tumenggung Kriya tersedak, dan gelagapan saat hendak menjawab pertanyaan Putri Hita. “Paman sejak pagi berkeliling kota, mengunjungi desa-desa dan melihat kehidupan rakyat papa ananda Putri”. Putri Hita terus bertanya, “bagaimana keadaan rakyat kita paman?”, Tumenggung Kriya segera menghentikan makanannya, matanya terbelalak saat putri Hita merubah posisinya, bangun dari berbaring untuk duduk menyandarkan punggungnya di balai. Saat menurunkan kedua kakinya, jariknya tersingkap. Putri Hita duduk dengan sikap manja, dan membiarkan kainnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang indah. “Bagaimana paman?”, Tanya Putri Hita yang membuat Tumenggung kriya tersentak dari lamunannya, sambil menelan ludahnya. “Ananda Putri, rakyat kita hidup dalam keadaan sejahtera, musim hujan ini membawa berkah bagi sawah dan ladang yang sekarang hendak ditanami padi dan palawija”. “Syukurlah paman, lalu bagaimana dengan desa Sima (tanah hadiah dari Raja) yang ditinggali Pangeran Wawa, bagaimana kabar dari sana?”, Tumenggung Kriya yang sedang terpesona memandangi keindahan tubuh Putri Hita, dan kecantikan wajahnya di saat tidak memakai pakaian Senopati Utama sangat tercengang, terkagum-kagum, dan berkali-kali menelan ludahnya. Birahinya terasa sampai di kepala. Dengan terbata-bata segera menjawab, “ohh..oh.. tidak..tidak.. mereka..emm.. rakyat Pangeran Wawa dalam keadaan yang baik dan makmur, meskipun belum menunjukkan kesetiaan pada paduka Maharaja”. Tumenggung Kriya berusaha menenangkan dirinya, jantungnya yang terus bergetar keras, pikirannya semakin kacau, dan berusaha menahan birahinya yang semakin lama semakin sulit dikendalikan. Udara harum melati dan kembang kemuning memenuhi ruang pendapa, Putri Hita yang sudah cukup usia masih sendiri, dan tubuhnya yang indah, kulitnya yang bersih dan harumnya semerbak serta kecantikannya bagai bidadari membuat Tumenggung Kriya semakin gugup diterjang birahi. “Matahari sudah meninggi, silahkan paman menyantap sarapan pagi bersama saya, mari silahkan paman”. Dengan penuh selera Tumenggung Kriya menyantap habis makanan yang diambilkan Putri Hita di piringnya, sambil tersenyum Putri Hita berdiri menepukkan tanganya. Segera emban pelayan berlarian mengemasi piring-piring dan makanan di atas meja. Dayang Puspita hadir dan menyerahkan nampan untuk membawa baju Sang Putri sebagai ganti, baju seorang Senopati Utama untuk segera berangkat ke Istana. Saat itu pula Putri Hita segera meminta Tumenggung Priya untuk segera pulang. Sesampainya di tangga pendapa, Tumenggung Kriya membalikkan badannya, dengan nekat dan berani dia menyampaikan hasratnya pada Putri, “Ananda Putri, paman berharap sudilah ananda Putri tinggal bersama paman, ini demi keamanan ananda, … sungguh Paman sangat prihatin dengan keadaan ananda yang sendiri dan paman dengar ananda sering menyendiri dalam kamar. Paman sangat mencemaskan itu”. Putri Hita tersenyum, dan dengan tatapan yang menggoda putrid Hita berkata, “Paman saya tidak bisa tinggal bersama seorang yang telah memiliki istri, tidak tega menyakiti hati Nyai Tumenggung”. Dan Tumenggung Kriya segera menjawab, “Paman hanya tidak tega padamu ananda Putri, baiklah paman segera pergi”. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Tumenggung Kriya memikirkan kalimat Putri Hita yang masih terngiang-ngiang ditelinganya, “Paman saya tidak bisa tinggal bersama seorang yang telah memiliki istri, tidak tega menyakiti hati Nyai Tumenggung”. Sambil mengekang tali kudanya untuk melaju lebih cepat, Tumenggung Kriya telah menemukan cara untuk mendapatkan Putri Hita, Putri calon pewaris tahta setahun lagi setelah dewasa, Mahaputri yang cantik bagai bidadari telah mengganggu birahinya, “ya, istriku harus mati”. Kuda sang Tumenggung melaju kencang memasuki kota, dan dalam pikirannya tetap terngiang “saya tidak bisa tinggal bersama seorang yang telah memiliki istri”, dan mulutnya terus berguman, “istriku harus mati”. Bersambung

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE