data-ad-format="auto"

Segitiga bermuda dalam Mobil (1)



Syaiful AH
Alumni F.Psikologi Untag Surabaya
April 16, 2011

Hujan mulai reda, meskipun tinggal gerimis yang terus berkurang, namun sekali waktu kilatan petir masih nampak jelas menyambar dari balik awan yang pekat bergulung dan menakutkan. Suara air yang jatuh dari talang air yang mengalir ke selokan maish cukup jelas, dan angin yang tidak berhembus membuat suasana sore di Warung Mbah Walid terasa beku. Namun, hujan yang turun deras sejak siang hingga sore ini menjadi berkah bagi Warung Mbah Walid yang akhirnya menjadi lebih ramai pengunjung. Orang-orang yang sejak siang menghindari hujan, akhirnya duduk dan memesan lagi makanan atau minuman yang sudah tidak tersisa di atas meja. Mulai dari mahasiswa kos-kosan dan terbiasa nongkrong di warung kopi, buruh bangunan, para sarjana yang mencari kerja dengan pakain rapid an tas jinjing, juga pegawai Pemerintah yang terjebak hujan sejak siang karena naik motor entah dari mana. Suasana soere ini jadi terasa sangat aneh, suasana suram oleh mendung telah mengalahkan lampu warung Mbah Walid, juga pikiran para pengunjung warung yang tidak menentu. Dengan gembira, Hita yang melayani Mbah Walid berjalan di antara kursi pengunjung warung sambil bertanya, “Roti bakar, sapa tadi yang pesan?”. Aroma kopi dan roti bakar terasa khas saat Hita lewat disamping kursiku untuk mengantarkan pesanan pada seorang perempuan yang Nampak murung duduk di sebelahku. Suasana sore ini sungguh tidak seperti biasanya, meski warung ini tetap khas sebagai tempat mahasiswa dan karyawan yang masih muda-muda untuk nongkrong, berdiskusi dan bahkan hanya sekedar untuk cuci mata serta mengendorkan otot-otot yang lelah bekerja. Tetapi soere ini suasana memang benar-benar berbeda, tidak banyak asap rokok, juga tidak seperti biasanya yang selalu diputar music tape CD dengan lagu keroncong atau hip-hop, juga tidak ada suara televisi. Apakah semuanya dalam keadaan rusak, sepertinya tidak, tetapi Mbah Walid sengaja tidak memutar CD atau TV agar pengunjung bisa menikmati suasana sore yang muram dalam keadaaan hening dan menghadapi diri sendiri. Tak ada suara TV dan tape, namun sekali waktu hanya terdengar suara motor yang melintas, juga mobil, dan beberapa orang yang asyik membiacarakan tentang terror oleh ulat-ulat di beberapa daerah juga teror Bom di Polres Cirebon. Biasanya, di saat ramai pengunjung seperti ini Mbah Walid kelihatan sibuk dengan pesanan-pesanan baru pelanggan yang meminta tambah kopi, atau STMJ, atau pesan Indomie tambah telor untuk mengganjal perut yang mulai berteriak. Kini yang ada hanya Hita yang selama ini banyak kelihatan mengurusi warung, juga Rani dan Rista yang bergantian memasak dan melayani pengunjung. Ohh… ternyata Mbah Walid sengaja menggunakan perempuan muda dan cantik ini untuk memikat konsumen, agar warungnya lebih banyak pengunjung? Itu yang saya pikirkan, sambil memuji kreativitas Mbah Walid yang mau memberdayakan perempuan agar warungnya tidak kalah bersaing dengan café-café dan depot-depot yang luas dan lebih mampu menciptakan suasana melalui desain interiror ruangan yang natural. Sore ini memang bukan sore yang biasa, selain mendung dan suasana yang sedikit hening, ada kejadian yang cukup aneh. Perempuan yang ternyata bernama Inka yang duduk di pojok dengan beberapa temannya menangis dan nampak kebingungan. Mereka adalah pengunjung rutin tempat ini, dan aku sering melihatnya, juga kenal meskipun tidak begitu akrab. Mereka kelihatan sangat bingung, dan sesekali ada pengunjung lainnya mendatangi tempat duduk mereka untuk berbicara, dan di wajah mereka kelihatan sangat serius, tidak percaya, dan sangat mencekam. Sesekali waktu mereka melongok keluar dan menunjuk sebuah mobil yang diparkir di seberang jalan, tepat di sebelah surau tua, di samping kolam rumah Mbah Walid. Entah apa yang mereka bicarakan, dan aku tetap asik berbincang dengan beberapa teman lama yang sore itu sengaja mengajak bertemu di warung yang sudah sama-sama kami kenal ini. Sesekali waktu aku melirik kea rah tempat duduk di pojok, ke arah Inka yang masih tampak galau dan seperti sedang ketakutan. Tetapi aku tetap bertahan untuk tidak peduli dan melanjutkan ngobrol dengan teman-teman lama, apalagi aku sudah merasa senang bisa ngobrol dan menghabiskan banyak waktu dengan teman lama yang bagiku sudah cukup istimewa, cantik dan bagiku sungguh menyenangkan bila memandangi wajahnya yang indah. Tetapi perhatianku kembali terseita ketika melihat beberapa orang berdiri dan mendekat ke tempat Inka, dan mereka bersama-sama keluar warung menuju ke arah mobil. “Ada apa ini ya?” tanyaku pada teman perempuanku, si Dewi, “ya..entahlah mas”. Aku mencoba melongok ke luar, dan melihat orang-orang yang tadinya dalam warung sudah berada di sekitar mobil tanpa ada yang masuk dan menyentuhnya. Sebagian mendekat dan menempelkan wajahnya ke kaca mobil seperti mencari-cari sesuatu. “Apakah yang sedang terjadi ya?” pikirku, dan rasaya aku mulai penasaran. “Ayo Wi, kita lihat sebentar” sambil memegang lengan Dewi aku melangkah keluar menuju orang-orang yang bergerombol di sekitar mobil. Aku mencoba bertanya, “ada apa Inka?”, dengan terbata-bata dan wajah yang masih sembab oleh tangisan, ketakutan dan kebingungan si Inka bercerita kalau dirinya bersama 6 orang datang ke warung ini setelah dari Kos-kosan teman mengambil barang-barang yang akan dipindah. Semua barang telah diangkut dalam mobil sport yang ukurannya memang cukup besar, computer, laptop, dan beberapa tas pakaian serta peralatan mandi dan kewanitaan juga telah diangkut dalam mobil. Tetapi lihatlah, seperti beberapa orang yang penasaran menempelkan wajahnya ke kaca untuk melihat ke dalam mobil. Aku mencoba mengikuti orang-orang itu dan melihat, tak ada satupun barang di dalam mobil. Aneh, “lalu apa masalahmu, tidak ada barang satupun di dalam mobil?” Sambil menangis Inka mengatakan, “semua yang ada di dalam mobil hilang seketika saat mobil di tutup”, “ahh… bagaimana mungkin?”, “tadi kami berenam, saat si Qbay mau ambil HP yang tertinggal dalam mobil dia tidak kembali, aku telpon juga tidak bisa”, ya..mungkin Qbay sedang membeli rokok dan bertemu temannya untuk ngobrol hingga sampai 3 jam belum kembali karena asyiknya. “tidak, Dilla juga hilang di dalam mobil, dia pamit untuk berbaring di mobil karena kepalanya pusing, juga tidak kembali?”. “Lho bagaimana kamu tau?” tanyaku. Inka mendekat dam membuka mobilnya, “siapapun yang masuk ke dalam mobil dan menutupnya tiba-tiba hilang, lihatlah” sambil menunjuk, dan yang ku lihat dalam mobil tidak ada satupun barang-barang selain yang menempel dengan dinding dan lantai mobil. Seseorang yang penasaran mencoba melemparkan ponselnya ke jok mobil dan menutupnya, sejenak membukanya kembali dan benar …. Ponsel itu telah lenyap, aini kejadian aneh. Sesaat kemudian 2 Polisi yang telah ditelpon Inka datang, setelah mereka berbicara si Polisi membawa kunci mobil dan dengan tenang masuk serta menutup pintu mobil. Hingga 5 menit berlalu aku tidak mendengar suara mesin mobil menyala, dan seorang Polisi lainnya mengintip ke kaca yang sebenarnya cukup gelap untuk melihat dalam mobil. Polisi itu membuka pintu mobil dan yang dilihat hanya kunci mobil yang sudah menancap di stang kemudi. Polisi yang telah masuk dalam mobil itu juga telah lenyap tanpa bekas. Polisi dan kami semua sangat bingung dengan kejadian itu, dan sebagian dari orang-orang sudah mengusulkan untuk segera mencari paranormal dan orang sakti. (Bersambung)

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE