Alumni F.Psikologi Untag Surabaya
April 28, 2011
Suasana khusuk mengiringi penobatan Maharaja Daksottama, bau kemenyan memenuhi ruangan hingga pelataran istana, suara gamelan mengalun perlahan, semilir angin siang hari yang cerah menciptakan suasana terasa hening, seolah-olah semua tenaga dan pikiran seluruh penghuni kraton Boko sedang dikuras habis-habisan oleh upacara penobatan. Rakryan Panambaran dan Bhagawan Dapunta telah menobatkan dengan sumpah tri kaya parasada pada Maharaja Daksottama dan Nilakanta Sastri sebagai Mahapatih kerajaan Mataram, serta mengangkat Ratu Hita sebagai Senopati utama (Panglima Angkatan Perang). Tiga purnama telah lewat, Maharaja Dyah Balitung bersama Permaisuri yang diikuti beberapa selirnya telah mengasingkan diri di pertapaan sebelah utara Gunung Merapi. Tumenggung Kreya terus mendekati Maharaja dan berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan Putri Hita, juga adiknya Pangeran Tulodong yang masih berusia 14 tahun. Pangeran Tulodong diasuh oleh Bibi Puspita bersama Putri Hita pindah di puri timur yang agak jauh dari istana raja, dan dikawal oleh pasukan Mahisasura. Siang yang terik, berhias debu jalanan yang tebal mengepul di udara. Dari kejauhan mulai tampak puluhan prajurit berkuda berderap melaju menuju Puri timur. Kepulan debu bergerak memayungi para penunggang kuda yang menuju Puri, dan dari kejauhan laju kuda membuat formasi membelah ke samping kiri dan kanan, kereta kuda dari tengah barisan menyembul ke depan, dan penumpang kereta berdiri dengan mengangkat tangan kanannya. Mendekati Puri, kereta dan kuda-kuda melambatkan jalannya, dan tentara berkuda serentak berhenti, namun kereta kuda tetap melaju perlahan, pintu gerbang puri segera dibuka, kereta kuda masuk ke dalam halaman puri dengan meninggalkan seluruh pengawalnya di luar gerbang puri. Seorang pria tua dengan sebagian rambut yang sudah memutih, Mahapatih Nilakanta turun dari kereta, berjalan tanpa pengawal langsung masuk ke dalam puri. Ksanti menyambut kedatangan Mahapatih dan segera mengantarkan menunju balai untuk bertemu Putri Hita. Setelah saling memberi hormat, Mahapatih segera duduk dan memberikan nasehat pada Putri Hita tentang tri dharma, dan mengingatkan akan kemungkinan terjadi perang, pembalasan dendam Wangsa Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya. Mahapatih menyampaikan beberapa nasehat sesuai amanat mendiang Maharaja Dyah Balitung. Putri Hita mendengarkan dengan khusuk, sesekali kepalanya mengangguk tanda dirinya telah memahami apa yang disampaikan Mahapatih Nilakanta. Sebelum meninggalkan Puri Timur, Mahapatih Nilakanta mengingatkan, bahwa beberapa punggawa yang tidak setia pada Negara dan hendak bersekutu dan menghasut Pangeran Wawa. Putri Hita tetap terdiam, tanpa keluar sepatah katapun. Sambil memberikan hormat, Putri Hita menyertai Mahapatih yang mohon diri untuk kembali ke istana Boko, dan mengantarkan Mahapatih hingga di pintu gerbang. Menjelang senja, Putri Hita menghadap Maharaja untuk meminta petunjuk dan pelajaran tentang Pangeran Wawa yang selama ini diduga merencanakan peperangan. Tetapi Maharaja tampak tidak mengetahui dengan jelas dan pasti tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan Pangeran Wawa, juga tidak ada laporan dari telik sandi yang mengabarkan adanya persiapan tentara. Maka Maharaja berkata, “Wahai ananda Senopati, aku tidak pernah mendengar pangeran Wawa hendak menyerang Negara selain berita yang tidak jelas sumbernya”. Putri Hita menunduk, “Pangeran Wawa hanya membangun desa suma (daerah yang diberikan Maharaja sebagai hadiah) dari buyutnya karena pengampunan dan kasih sayang Maharaja Panangkaran. Jadi Ananda Ratu, tidak perlu ada persiapan bala tentara yang pergi ke sana”. Mendengar penjelasan Maharaja, segera Tumenggung Kreya segera membantah, “Ampun tuanku, hamba telah meninjau desa Suma, dan desa-desa di sekitarnya beberapa hari yang lalu, Pangeran Wawa dibantu beberapa Brahmana menghasut rakyat desa, menyiapkan senjata untuk melawan raja, seperti rakyat yang sudah gila saat menyerang lumbung istana yang dilumpuhkan oleh Mahisasura”. Kemudian Putri Hita menjawab, “Ampun pamanda Maharaja, saya juga tidak menerima laporan dari telik sandi, tetapi kanjeng Tumenggung Kriya memaparkan keadaan yang berbeda, bahwa Pangeran Wawa bersama para Brahmana hendak menyerang raja. Mohon hamba diberikan restu untuk menyelidiki masalah ini, dan jika laporan dari telik sandi itu dusta maka hamba akan menghukum mereka”, sesaat kemudian Maharaja mengangguk setuju, Putri Hita segera menyembah dan memohon ijin untuk meninggalkan istana. Musim hujan telah tiba, angin berhembus kencang, suaranya menderu bagai suara kereta-kereta kuda, langit sangat gelap tertutup mendung. Malam ini, gemericik suara hujan dan petir terdengar bersahutan, cahaya menyambar-nyambar ke tanah seperti cambuk dewata yang menerpa punggung bumi agar menyuburkan tanahnya. Hujan, petir dan angin telah menyejukkan musim kemarau yang panjang, bumi menguap, bau tanah basah setelah dibakar musim kemarau menyebar di udara sebagai tanda turunnya anugerah dewata. Malam di musim hujan yang pertama, bau tanah di udara telah menidurkan seluruh penghuni puri timur, tempat Putri Hita dan Pangeran Tulodong tinggal. Suasana malam sangat sunyi, beberapa prajurit jaga terantuk-antuk kepalanya, sebagian tertidur sambil berdiri, dan yang lainnya tertidur dalam keadaan duduk bersandar di gardu jaga. Putri Hita dalam kamarnya terus menerus memanjatkan do’a agar Tuhan menunjukkan wajahnya. Semua penghuni puri pulas tertidur. Lima bayangan hitam berkelabat melompati dinding belakang dan meninggalkan 2 parjurit jaga yang terkulai, gugur terkena sumpit beracun. Dua bayangan hitam bergerak menuju ke puri utama, dua bayangan hitam bergerak menuju ke belakang puri, dan satu bayangan hitam menebar racun di dapur utama, menyebarkan racun gentong-gentong air minuman. Tidak lama kemudian, kentongan tanda bahaya menyalak bertalu-talu. Prajurit jaga segera waspada di tempatnya masing-masing, dan pasukan mahisasura berhamburan berlarian mengepung puri timur. Dari dalam puri, di peraduan Putri Hita suara senjata tajam terus berdenting keras memecah kesunyian malam yang senyap. Hujan mulai reda, suara dentingan parang disusul suara mengerang dan suara tubuh yang jatuh terdengar, Yang hamper bersamaan dengan suara mengerang keras dari tempat peraduan Pangeran Tulodong. Di luar gerbang utama, suara dentingan pedang masih terdengar, Ksanti bertarung dengan dua bayangan hitam yang keduanya segera melarikan diri saat pasukan Mahisasura hendak membantu. Dua bayangan hitam adalah samhala durjana (pembunuh pabayaran) yang hendak menghabisi Putri Hita dan Pangeran Tulodong, kini telah binasa, dan seorang lagi yang tertangkap berusaha bunuh diri dengan menenggak racun yang dibawanya. Namun Ksanti berhasil mencegahnya, dan segera membawanya ke penjara. Dan tidak lama kemudian, satu dari dua prajurit jaga yang gugur diambil mayatnya, dilucuti pakainnya, dan menukarnya dengan jubah hitam milik pembunuh yang tertangkap hidup-hidup. Putri Hita segera menengok pembunuh bayaran yang tertangkap, dan beberapa tentara Mahisasura sedang menyiksa agar memberikan keterangan. Kedua kaki tawanan itu di rebus dalam air mendidih, mulutnya menjerit, dan melengking keras di tengah malam buta. Berkali-kali suara cambuk mengenai punggungnya, goresan-goresan panjang mulai menghiasi tubuh Samhala, namun samhala tetap bungkam. Putri Hita berdiri termangu di sudut ruang penjara, memandangi wajah samhala yang telah gagal membunuhnya. Tentara Mahisasura masih terus menyiksa, minyak panas disiramkan di kedua tangan tawanan yang terikat di kursi, mulutnya kembali menjerit kesakitan, tetapi masih tetap bungkam. Mahisasura menyiram minyak panas di kepalanya, dengan sekejap wajah samhala melepuh, dan kepalanya bergerak keras tidak beraturan diikuti suara jeritan menyayat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Tetapi Samhala tetap bungkam seribu basa. Putri Hita mendekati samhala, kemudian berjongkok dan memandangi wajah tawanannya dari dekat. Tampak sangat jelas, wajah dan pipi samhala melepuh, darah bercampur minyak panas masih membakar hamper seluruh mukanya, rambut-rambut yang rontok karena minyak panas menutupi sebagian luka-lukanya, namun tidak ada air mata, tidak ada kesedihan, dan samhala menatap Putri Hita tanpa berharap pengampunan, dan tatapan matanya seolah menantangnya untuk memasuki alam kematian. Putri Hita segera tegak dan memerintahkan Pasukan Mahisasura untuk memotong alat kelamin samhala yang kadang masih mengerang kesakitan. Dengan sangat kasar. seorang tentara Mahisasura segara merobek celana Samhala, dan mencabut sebilah pisau yang terselip di kakinya, dan kemudian segera menarik kemaluan samhala, tetapi saat kemaluannya ditarik, samhala berteriak memohon ampun agar kemaluannya tidak dipotong dan mengaku kalau dirinya dibayar oleh Tumenggung Kriya untuk membunuh Putri Hita dan Pangeran Tulodong. Di ufuk timur, langit mulai memerah tanda pagi telah tiba. Berita pembunuhan keluarga raja dilaporkan kepala pengawal jaga ke istana. Satu pembunuh mendekam di penjara, tetap disembunyikan dan menjadi rahasia. Salah satu prajurit yang gugur menjadi kambing hitam yang mayatnya harus menggantikan Samhala.
Bersambung .....

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar