Alumni F.Psikologi
Untag Surabaya
April 27, 2011
Putri Hita menuruni tangga dari dinding benteng, dengan mata yang tetap menatap mayat-mayat, dia berjalan melewati genangan darah, dan berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat menghadap matahari senja. “Hai Dewata, hai Tuhan Hyang Agung, … lihatlah para pemujamu yang sengsara dan tidak berdosa tertelungkup binasa di bawah kakiku”…. Dengan berteriak lantang dan mencabut kerisnya, “Hai Tuhan, marahlah… marahlah padaku dan tunjukkanlah wajahmu..!!! hai Tuhan marahlah..dan tunjukkan kemarahan-Mu”. Sang Putri menatap matahari yang perlahan-lahan semakin memerah darah, memenuhi langit yang berubah menjadi darah, menunggu kemarahan Tuhan hingga matahari tidak tampak lagi. Prajurit segera menghambur membersihkan mayat-mayat, Puspita dengan sisa-sisa tenaga dan menahan kengeriannya merengkuh lengan Sang Putri yang masih menggenggam kerisnya, Puspita menununtunya sambil memeluknya seperti ibu dengan anaknya, segera ia membersihkan darah-darah di kaki dan tangan Putri Hita. Senopati Ksanti bergerak dengan kuda di malam gulita menuju istana Medang (Istana Raja Mataram Hindu) dikawal 10 prajurit Mahisasura untuk melaporkan pemberontakan yang dilakukan penduduk yang sudah gila, penduduk yang dihasut para bangsawan Medang yang berhianat dan penduduk yang dihasut Pangeran Wawa keturunan Syailendra yang dendam pada wangsa Sanjaya dan keturunannya, Syailendra yang dibuang dan membangun istana Sriwijaya. Dihadapan Maharaja, Ksanti memuji Putri Ratu yang telah memperjaya (menumpas) para pemberontak hingga tak tersisa. Peristiwa pembunuhan ratusan penduduk oleh tentara Mahisasura membuat hati Maharaja Balitung sangat gelisah. Keesokan harinya Maharaja segera memanggil para Rakryan, dan para perwira, juga Putri Hita serta Senopati Ksanti yang memimpin tentara Mahisasura. Prabu Balitung yang sudah tua dan selama ini lebih banyak berpikir tentang pembangunan candi-candi, irigasi, dan persenjataan perang mulai ditentang beberapa bangsawan. Maharaja telah disinggung bahwa dirinya melanggar ajaran Tri Parama Arta, ajaran mendiang ayahanda Sang Maharaja Rakai Watuhumalang, dan pelanggaran yang menjadi sebab musim paceklik dan kemarau panjang sebagai hukuman Dewata. Dan kini Sang Putri Mahkota berbuat dosa dan melakukan pembunuhan keji pada orang-orangtua, perempuan dan anak-anak yang kelaparan. Sejak peristiwa pembunuhan dan pertemuan di balairung, beberapa bangsawan sering mengunjungi istana. Dalam keadaan yang masih tercengan oleh perbuatan putrinya, Maharaja yang selama ini sangat dekat dengan Mahamantri Daksottama mulai memikirkan kelangsungan pemerintahan dan penggantinya, dan Maharaja menjadi sangat gelisah saat Mahamantri Daksottama hendak mengundurkan diri karena turut merasa berdosa. Tumenggung Kreya segera mendesak Daksottama untuk tetap mendampingi Maharaja, dan memberikan saran pada Maharaja agar Daksottama diangkat memimpin Negara untuk sementara apabila Maharaja hendak meninggalkan istana, karena Putri Ratu masih sangat muda, dan putra laki-laki juga belum cukup umur untuk memimpin. Biarlah Mahamantri Daksottama sang teknokrat yang akan menggantikan sementara dan akan mendampingi Maharani Sri Ratu Hita bila ckup deawasa dan jiwanya telah matang untuk menjalankan Tri Parama Arta. Bulan purnama telah lewat, Maharaja didampingi permaisuri selesai bermusyawarah dengan para pangeran dan punggawa tentang siapa pengganti dirinya. Maharaja Balitung memutuskan untuk menobatkan Daksottama sebaga Raja Medang sementara sampai Putri Hita cukup dewasa, dan mampu menjalankan Tri Parama Arta. Keputusan itu cukup mengejutkan permaisuri, namun titah raja adalah untuk dipatuhi. Rasa khawatir Permaisuri terhadap keputusan Maharaja mengangkat Daksottama semakin hari semakin kuat dan membuat dirinya menjadi sangat gelisah. Permaisuri begitu yakin bahwa Raja Medang Daksottama, nantinya tidak akan menyerahkan tahta pada putrinya. Senja telah lewat, suara serangga malam, burung-burung hantu liar terdengar riuh. Pintu gerbang berderit dan kereta kuda yang dikawal 10 tentara berjubah hitam, melaju kencang terlindung bayang-bayang bulan, kereta bergerak ke arah timur, di kediaman Putri Hita. Sang ibunda permaisuri menemui Putrinya yang beberapa hari mengurung diri dalam kamarnya. “Ibu… ananda tidak berkeinginan menjadi Ratu, dan biarlah Paman Daksottama yang menjadi Maharaja, beliau orang yang bijak, seorang ahli, yang telah membangun negeri ini untuk kemakmukaran rakyat dan memuliakan Dewata”. “tetapi anakku, Daksottama masih ada keturunan darah Wangsa Syailendra, bukan keturunan Maharaja Rakai Sanjaya, juga Maharaja Rakai Pikatan”, tetapi Putri Hita hanya terdiam, tidak menanggapi perkataan ibundanya. “Anakku, sebenarnya apa yang kamu inginkan?”, Putri Hita tetap terdiam, “apa yang kamu inginkan?, ibu hanya ingin menjaga sumpah Maharaja mendiang buyutmu Sri Ratu Rakai Kayuwangi”. Putri Hita tersenyum pada ibundanya, dan dengan suara yang gemetar segera menjawab, “Ibunda, aku memiliki syahwat yang sangat besar, aku ingin melihat wajah Tuhan, Hyang Dewata yang menciptakan jagat raya ini”. Sang Ibu memandang tidak percaya, dan segera membalikkan badan untuk kembali ke istana. Ksanti segera memerintahkan pasukannya untuk mengawal permaisuri hingga istana. Dalam kamarnya, Putri Hita segera memanggi Senopati Ksanti dan Dayang Puspita untuk menemaninya bicara. Dengan setia Puspita menemani Sang Putri, dia duduk di bawah tempat tidur sambil memijit-mijit kaki Sang Putri. “Bibi senopati, tuju hari lagi bulan purnama tiba…. Ayahanda Maharaja akan menyerahkan tahtanya pada Mahamantri Daksottama, apa pendapatmu bila aku tidak ingin duduk di singgasana”. Segera Senopati Ksanti menjawabnya, “ampun Ndoro Putri, apapun keputusan yang Ndoro Putri sampaikan, saya selalu mendukung dan mematuhinya”. “Tetapi dibalik keputusan Ayahanda Maharaja menobatkan Daksottama, ada Tumenggung Kreya yang bersekutu dengan Pangeran Wawa”. “inilah yang mungkin dikhawatirkan ibunda permaisuri tuanku”. Putri Hita hanya diam termangu, sesat kemudian Sang Putri bertanya pada bibi Puspita, “apa pendapmu bi?”, sambil tetap memijit kaki sang Putri, Bibi Dayang segera menjawab, “ampun ndoro, hamba hanyalah orang yang papa tentang tata Negara, namun menurut hamba, ndoro putri tentu masih ingat kalau punya satu permintaan yang belum disampaikan pada ayahanda maharaja”, kemudian bibi Dayang melanjutkan, “mungkin ndoro putri bisa memikirkan satu permintaan itu untuk segera disampaikan, mumpung ayahanda masih menjadi Maharaja, agar ayahanda tidak merasa berhutang dalam hidupnya”. Sehari sebelum penobatan Daksottama, Putri Hita menghadap sang Prabu Dyah Balitung di istana. Sesampainya di balairung sudah duduk Tumenggung Kreya, dan beberapa Punggawa lainnya untuk melaporkan perkembangan tugas masing-masing. Putri Hita segera duduk bersimpuh menyembah Maharaja untuk menyampaikan tujuannya. “Apa yang hendak kau sampaikan anakku?, ayahanda masih ingat tentang satu permintaanmu yang belum kamu sampaikan, maka sekarang katakanlah permintanmu”. “Ampun Ayahanda Maharaja, seperti yang telah disampaikan beberapa telik sandi (mata-mata/ inteljen) pada tuanku Maharaja, bahwa Pangeran Wawa sedang menghimpun tentara untuk melawan kerajaan Medang. Hamba mohon ayahanda memberikan kesempatan pada ananda untuk memimpin tentara menggantikan Senopati utama kerajaan Medang pada saat penobatan Mahamantri Daksottama, tetapi mohon ampun ayahanda Maharaja bila permintaan ananda ini dipandang berlebihan”. Seluruh bangsawan dan perwira yang hadir di balairung terperanjat mendengar permintaan Putri Hita yang tidak pernah menjadi tentara apalagi menjadi perwira di pertempuran. Dan sejenak para punggawa tampak gelisah menunggu jawaban Maharaja. Putri Hita tetap menunduk dan sesaat memandang sekelilingnya, memandang wajah-wajah para punggawa yang memandanginya, dan Putri Hita melihat Tumenggung Kreya yang memandanginya dengan wajah sinis, sambil tersenyum merendahkannya, dan pandangan yang menelanjangi dirinya. Dan Putri Hita tetap berdiam tanpa kata menunggu keputusan Maharaja Bersambung …..

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar