data-ad-format="auto"

Putri Ratu Memaksa Melihat Tuhan (Bag. 5)



Syaiful AH
Alumni F. Psikologi
Untag Surabaya
April 26, 2011

Menjelang Purnama tiba Siang di musim kemarau yang sangat terik, angin menerbangkan debu-debu di jalanan, dan jalan berbatu menuju gerbang kota yang panas membakar kaki-kaki penduduk yang berjalan tanpa alas kaki. Penduduk dari segala penjuru kota menuju benteng sebelah utara kraton, menuju gudang lumbung penyimpanan bahan-bahan makanan dan binatang yang diternakkan oleh istana untuk kebutuhan makanan keluarga istana dan tentara. Penduduk datang berbondong-bondong memenuhi janji Sang Putri Ratu, janji untuk disejahterakan, untuk memperoleh bantuan kebutuhan makan, beras, jagung, gandum, dan beberapa hewan selama musim paceklik dan kemarau panjang. Sebagian penduduk datang berjalan kaki, sebagian menunggang pedati bersama rombongan keluarga, laki-laki dan perempuan, orang-orang tua yang dipapah oleh keluarganya, juga anak-anak yang sebagian masih dalam gendongan ibunya. Matahari semakin tinggi, ratusan penduduk bergerombol memadati jalan depan pintu gerbang yang masih tertutup rapat. Dari dalam benteng terdengar suara gamelan mengalun perlahan untuk menghibur penduduk, yang mulai bersijingkat menahan panas dan berlarian mendekati pohon-pohon di pinggiran benteng untuk berteduh. Udara semakin panas, rasa haus semakin mencekik leher dan membuat suasana siang menjadi semakin mencekam dan gelisah, bayi-bayi mulai menangis kehausan di siang yang terik. Ratusan penduduk mulai gelisah, ratusan penduduk mulai berteriak kehausan dan lapar. Penduduk mulai mendekat ke pintu gerbang dan memanggil-manggil Sang Putri. Suara alunan gamelan sudah tidak dihiraukan lagi, dan penduduk terus memanggil-manggil sang Putri yang telah ditunggu berjam-jam, namun tak kunjung menunjukkan dirinya. Matahari mulai bergeser ke barat, Sang Putri berdiri di atas tembok benteng dan melambaikan tangannya pada penduduk yang mulai tergolek di jalanan depan gerbang utara. Penduduk yang melihat kehadiran Tuan Putri segera bangkit berdiri dan dengan penuh semangat bersorak-sorai memuji Sang Putri, penduduk yang telah lemas kehausan segera berdiri, dan bergmebira, “Wahai Penjelmaan Dewi Saraswati, segera turunkanlah berkahmu”, penduduk terus memuji, dan puluhan tentara keluar dari samping dinding membagi-bagikan air minum pada penduduk yang kehausan, pada anak-anak dan orang-orang tua. Penduduk dengan beringas berebut air minum dan jajanan pasar yang dibagikan oleh para tentara. Pintu gerbang masih tertutup, dan penduduk yang telah terpenuhi dahaganya terus memuja dan berteriak, “Hyang Saraswati, Sang Ratu Mataram, segera turunkanlah berkahmu pada kami”, suara penduduk semakin keras dan tidak sabar. “Wahai rakyatku yang telah memuja dan mendoakanku, Maharaja telah berkenan memberimu berkah, segera ambilah beras, gandum, dan jagung juga ayam dan kambing yang telah disiapkan”. Derit suara gesekan kayu yang berat terdengar, tanda pintu gerbang telah dibuka. Di hadapan penduduk terlihat bertumpuk-tumpuk beras, gandum, jagung, kelapa, pisang, dan puluhan ayam juga domba-domba disiapkan dekat dengan dinding lumbung padi. Dengan sangat beringas ratusan penduduk lari berhamburan, suara jerit ibu-ibu dan perempuan, tangis anak-anak dan suara orangtua yang jatuh dan terinjak penduduk lainnya menghiasi senja yang akan segera tiba. Dari atas dinding-dinding benteng, puluhan pasukan Mahisasura berjubah hitam, muncul dan berdiri tegak memandang Sang Putri yang masih berdiri tegak di di atas dinding benteng. Puluhan tentara berkuda tiba-tiba hadir di luar pintu gerbang dan beberapa sudut jalanan. Sesaat kemudian Putri Ratu mengangkat sapu tangan hijau ke udara, pasukan Mahisasura menyiapkan anak-anak panahnya dan penduduk masih berebut beras dan gandum, saling tarik menarik, suaranya gaduh, dan karungnya segera rusak, gandum dan beras berceceran di tanah, yang hampir merata memenuhi halaman benteng gerbang utara. Tangan Sang Putri melambaikan sapu tangannya, ke udara dan segera pasukan Mahisasura mengangkat busurnya dan memasang anak-anak panahnya. Di luar gerbang, tentara kavaleri di atas kudanya dengan kelewang yang terhunus. Sang Putri melepas sapu tangannya, dan pasukan Mahisasura menarik tali busur panahnya, Sapu tangan berwarna hijau lepas dan mengambang di udara, dan anak panah mengarah ke bawah. Dengan sekejab, sapu tangan Sang Putri menyentuh tanah, dan teps….switt…switt..switt… teps… suara ratusan anak panah meluncur seperti hujan deras tumpah dari langit, suara jerit tangis ketakutan, suara kesakitan, dan suara-suara penduduk berhamburan meregang nyawa. Penduduk berlarian tanggang langgang, ratusan anak panah mengejar, menembus punggung, dada, leher, perut dan kepala. Ratusan anak panah terus meluncur seperti hujan deras, suara penduduk meregang nyawa dan ringkik kuda-kuda tentara Kavaleri diikuti suara kelewang menebas leher di depan pintu gerbang, darah muncrat ke udara, kepala terpenggal dan tubuh-tubuh penduduk yang berusaha menyelamatkan diri, bersimbah darah di depan gerbang utara. Senja telah tiba, halaman benteng utara lumbung padi bersimbah darah, bumi berselimut darah, bunga-bunga dan rerumputan berwarna darah….. semburat cahaya matahari senja, beras dan gandum adalah darah… langit berwarna darah…. Sang Putri memandang ke angkasa, menatap matahari senja yang meleleh menjadi darah, dan… Bersambung

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE