data-ad-format="auto"

Putri Ratu Memaksa Melihat Tuhan (Bag 4)



Syaiful AH
Alumni F. Psikologi Untag Surabaya
April 24, 2011

10 perwira mencoba maju mencoba keberuntungan, dan segera mengelilingi Putri Hita yang tetap berada di samping Santi pengawalnya. Perwira pertama merayu, “Oh Putri… jika kau berkenan menjadi istriku, ambil semua gajiku untukmu”, serentak Putri Hita mengusirnya, “minggirlah kamu”. Kemudian perwira kedua langsung mencoba merayu, “hai Putriku, aku adalah komandan kavaleri yang berprestasi, cerdas, dan telah memenangkan 3 kali pertempuran”, dan belum selesai berbicara Putri Hita segera mengusirnya, “pergilah perwira, kamu telah gagal”. Perwira ketiga maju, “Lihatlah aku apa adanya, seorang pria yang selalu hidup dalam kesenangan, menikahlah....” “cukup..!!” Putri Hita segera mengusirnya, dan perwira keempat hingga kesembilan juga telah gagal. Pria kesepuluh mencoba merayu, “hai gadis sombong, jadilah istriku, dan apapun yang kamu inginkan, aku dapat memenuhi layaknya para Dewata”, sambil tertawa Putri Hita, segera bertanya “Sekarang aku ingin melihat wajah Tuhan, dan segera penuhilah keinginanku”. Perwira itu tampak gugup, Putri Hita, segera mengusirnya, “pergilah !!! engkau hanyalah pembual”. Suara bende berdengung keras, tanda jam malam tiba, pesta malam ini telah usai. Sejenak Putri Hita menengadah ke angkasa, meandang langit yang berhias dengan bintang-bintang, suara serangga malam, desir angin yang menerpa paras cantiknya, dan pesta yang mulai terasa hambar, pesta yang sudah tidak menarik karena kekecewaan para perwira yang gagal dan bangsawan yang bertanya-tanya tentang penghianatan pada negera. Para tamu satu per satu beranjak pulang, lampu-lampu di balairung juga paseban mulai dimatikan, suasana malam menjadi mencekam. Selain suara jangkrik dan burung malam tidak ada kehidupan, terasa buruk, gelap dan sepi. Menjelang subuh tiba, suara pintu gerbang berderit, dan 4 prajurit jaga segera mendorong pintu untuk menutup kembali gerbang utama. Putri Hita didampingi Santi Mahesasura pergi berkuda, bergerak cepat diikuti beberapa pasukan pengawalnya. Tanpa ada yang tahu kemana Sang Putri pergi selain pengawal gerbang yang membuka pintu tanpa pernah berani bertanya, kemana Sang Putri hendak pergi. Derap kuda menderu menembus kabut pagi, dan prajurit penjaga hanya memandang para penunggang kuda yang semakin jauh menembus kabut. Hari itu, di istana mendadak ribut dan tegang, Maharani memanggil semua pengawal dan penjaga istana, juga semua Dayang dan Emban dipanggil menghadap untuk memberikan keterangan tentang perginya Sang Putri Mahkota. Tidak satupun berani berkata dan menatap Maharani yang tampak murka. Putri satu-satunya yang akan menggantikan tahta pergi tanpa pamit dan tidak ada yang mengetahuinya. Sebagai kepala pengawal keluarga raja, saya segera mohon ijin pada panglima untuk mencari Putri Hita, dan seluruh Teliksandhi (mata-mata) juga telah dikerahkan ke seluruh penjuru negara. Pencarian tidak ada hasil, hingga 10 hari telah lewat, akhirnya pada hari yang ke-11 kami menemukan Putri Hita bersama beberapa tentara Mahisasura yang mengawalnya sedang duduk santai di bawah pohon, di pinggiran hutan yang menuju Candi Geding Songo yang dibangun oleh mendiang kakek buyutnya Sri Maharaja Dyah Tulodong. Aku memerintahkan semua prajurit untuk berjaga, dan 2 prajuritku segera kuperintahkan pergi ke istana untuk menyampaikan berita tentang keadaan Sang Putri. Dengan hati-hati aku mendekati Sang Putri, dan sungguh tidak terduga, Sang Putri menerima kehadiranku, yang semula aku menduga Sang Putri akan marah dan mengusirku. Dua hari kami berkemah di pelataran Candi Geding Songo di pegunungan Dieng, menemani Sang Putri yang bermuram durja, entah apa yang dipikirkan. Menjelang senja, 2 prajuritku yang memberikan kabar ke istana kembali bersama Maharani beserta para pengawal dan beberapa Dayang tiba. Mereka langsung menjumpai Sang Putri. Semua pengawal dan Dayang diperintahkan keluar dari tenda, hingga kami tidak tau apa yang sedang diperbincangkan. Keesokan harinya Maharani bersama pengawalnya, juga beberapa Dayang kembali ke istana. Semua perbekalan ditinggalkan selain yang diperlukan untuk bekal di perjalanan, tetapi Dayang Puspita dan seorang emban diperintahkan oleh Maharani untuk menemani Sang Putri yang masih belum berkenan kembali ke istana. Matahari semakin tinggi, tanda hari telah siang. Sang Putri memanggilku untuk segera bersiap meninggalkan dataran tinggi Dieng dan kembali ke istana. Seluruh prajurit telah bersiap dengan perasan gembira, kuda-kuda meringkik, dan kereta pembawa bekal telah disiapkan di tengah barisan bersama kereta Sang Putri bersama Dayangnya. Santi berkuda tepat di depan kereta Putri dan Pasukan Mahisasura berada di samping kiri dan kanan kereta. Pasukanku berada di bagian depan dan dibagian belakang kereta yang membawa perbekalan. Semuanya bergerak melalui jalan-jalan desa yang tampak lengang. Sepanjang perjalanan menuju ke Istana, sang Putri memandangi wajah-wajah rakyat jelata yang kelaparan dan orang-orangtua yang sakit akibat wabah paceklik yang telah terjadi di tahun ini. Putri Hita memerintahkan kami berhenti, dia turun dari kereta untuk melihat beberapa ibu-ibu dan anak-anaknya yang bersimpuh dipelataran rumah, Tiba-tiba dari rumah-rumah, penduduk keluar dan berbondong-bondong mendekati Sang Putri dengan suara isak tangis. Rakyat desa yang lapar, kurus, dan kusam menangis tersedu-sedu memohon berkah dan pertolongan sang Putri. Suara tangis dan kesakitan, ketakutan dan kelaparan membahana, menggetarkan langit yang biru terbentang. Dengan rasa iba, Sang Putri memerintahkan prajurit untuk menurunkan perbekalan makanan, beras, dan lauk pauk dari dalam kereta tanpa tersisa. Seluruh perbekalan untuk makan tentara selama satu hari telah habis dibagikan pada rakyat jelata. Dengan perasaan gembira dan tak terduga, rakyat desa segera berhamburan berebut makan, berdesak-desakan dengan suara tangis yang tiada henti-hentinya, sambil berucap terima kasih yang tidak ada habis-habisnya di sela suara-suara bayi yang menangis dan anak-anak yang gembira bersama ibunya yang berkerumun mengelilingi sang Putri. Tanpa membalikkan badan, Sang Putri segera memerintahkan saya untuk menyerahkan beberapa ekor kuda pada rakyat agar dapat disembelih sebagai lauk. Hari semakin terik, dan angin terasa sangat mahal, keringat rakyat bercucuran mengalir dari tubuh kurus yang mengkilat dibakar terik matahari, bau badan tubuh-tubuh yang kurang makan, dan debu-debu yang berterbangan dihempas angin musim kemarau. Sang Putri dengan suara keras namun teduh berkata, “Wahai Rakyatku, kabarkanlah berita ini pada saudara-saudara kalian di desa-desa lainnya yang terkena musibah. Katakan pada mereka, Tuanku Maharaja mengundang kalian pada siang di saat Purnama tiba, pergilah ke istana, di pintu gerbang utara, kami akan memberikan kalian beras dan gandum, juga lauk-pauk”. Serentak rakyat bersorak sorai gembira dan memuja kebaikan hati Sang Putri, suara rakyat yang lapar bergemuruh, sangat gembira disela-sela suara tangis ibu-ibu yang merasa bahagia. Bersambung….

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE