data-ad-format="auto"

Putri Ratu Memaksa Melihat Tuhan (Bag. 3)



Syaiful AH 
Alumni F. Psikologi Untag Surabaya
April 24, 2011

Pesta Ulang tahun hari kedua.Putri Hita sengaja tidak memakai pakaian pesta yang menawan seperti pada hari pertama, pesta yang dihadiri rakyat jelata, agar rakyat jelata mengetahui kecantikannya, kemolekan tubuhnya dan kemewahan hidupnya. Putri Hita ingin semua rakyat jelata yang telah setahun mengalami paceklik, gagal panen dan mulai dilanda wabah kelaparan, serta ketegangan hidup diambang perang bisa bergembira. Tetapi malam ini Putri Hita menggunakan baju zirah sebagai pakaian pesta, baju perang yang digunakan para senopati kerajaan telah dipilihnya, dengan sebilah keris di pinggang, Putri Hita didampingi Dayang Puspita menyambut kedatangan para bangsawan dan Perwira. Sri Maharaja Dyah Balitung bersama Permaisuri Pramodhawarddani duduk di Balairung. Sesaat kemudian Putri Hita hadir, berjalan perlahan menuju paseban tempat pesta berlangsung dengan dikawal oleh pasukan Mahisasura. Maharaja sangat terkejut melihat putrinya menggunakan baju Zirah, dan dikawal oleh Santi dengan pasukan Mahisasura. Serentak ibunda Sang Maharani bertanya, “anakku, apakah yang hendak kamu lakukan dengan membawa Wara Mahisasura?”, tanpa menoleh ke arah Maharaja dan Permaisuri, dan sikap yang tidak sopan, Putri Hita memaparkan, “Ampun Ayahanda dan ibunda, keadaan Negeri ini dalam keadaan kelaparan, dan tentara bersiap berperang”, kemudian Putri Hita melanjutkan, “Ananda telah mendengar dan melihat persiapan Balaputra Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa dari Putra Samaratungga, keturuna wangsa Syailendra bersiap menyerang Mataram, dan dibantu oleh para Perwira Mataram yang berhianat”. Suasana ulang tahun mendadak sangat tegang, kembang api yang tidak tampak lagi, suara gamelan terhenti. Semilir angin malam, bau kemenyan, dan pasukan Mahisasura yang tiba-tiba muncul dipimpin oleh Santi berdiri melingkar dalam posisi mengepung para bangsawan dan perwira yang hadir dalam pesta. Para Perwira saling menoleh, seperti menyelidik teman-temannya sendiri, juga memandang ke arah para bangsawan, semua tamu saling menoleh dan menyelidik dan bertanya-tanya, siapakah gerangan penghianat yang dimaksudkan. Suasana ulang tahun menjadi tegang, apalagi pasukan Mahisasura yang berjubah hitam, dengan sebilah keris di pinggang dan parang yang terhunus telah mengepung ruang pesta. Seketika itu Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu yang berkuasa, berdiri dengan wajah murka dan memerintahkan pasukan Mahisasura kembali ke baraknya. Sesaat kemudian suasana hening, dan Maharani segera berdiri dan memerintahkan gamelan dimainkan, dan kembang api diluncurkan. Para penari segera turun ke tengah paseban, kembang api meluncur di udara menghiasi langit malam, dan Maharaja bersama Permaisuri mempersilahkan pesta dimulai. Putri Hita bukan seorang prajurit, apalagi perwira, Sang Putri adalah gadis remaja, dan Permaisuri mulai menduga bahwa putrinya terpengaruh Santi dan Pasukan para pendekar wanita Mahisasura. Puspita yang senantiasa tetap berada di dekat Putri Ratu malam ini, segera membisikkan, “Wahai ndoro Putri, bergembiralah di hari ulang tahunmu kanjeng ndoro, dan mintalah pada ayahanda sesuatu sebagai hadiah, hadiah yang bisa membawa ndoro putri mencapai keinginan yang selama ini kanjeng ndoro Ratu mimpikan”. Putri Hita masih tampak murung di paseban sambil menghadap ke arah para bangsawan yang berpesta. Sesat Puspita bergerak mundur dari kursi paseban sambil merapatkan telapak tanggannya menyembah Maharani yang mendekati putrinya, “mintalah sesuatu pada ayahmu anakku, ibunda tidak mengerti keinginanmu, maka mintalah hadiah ulang tahunmu, mintalah apa yang kamu inginkan selama ini”. “Baiklah ibunda, aku menghadap ayahanda Maharaja”. Putri Hita segera bangkit dan bersujud di depan Maharaja, dan Maharaja segera bertitah, “apakah yang hendak kamu sampaikan sebagai hadiah dari ayahanda anakku”. “Ayahanda Maharaja, Engkau adalah Mahacambu titisan Hyang Syiwa.” Sejenak Putri Hita menunduk dan menghela nafasnya, “Ananda ingin Ayahanda Maharaja mengabulkan 2 permintaanku sebagai hadiah”, maka sang Maharaja berkata “mintalah, ayahanda akan memenuhinya”, maka Hita berkata “ayahanda, ananda ingin Maharaja mengangkat aku sebagai Waraksatria, dan ….. “ Putri Hita tidak melanjutkan permintaan keduanya, ia terdiam dan menundukkan kepalanya, hingga Maharaja segera bertanya, “apakah permintaanmu yang kedua anakku?” Putri Hita terdiam dan menunduk, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. “Ayahanda Maharaja, ananda belum memikirkan permintaan yang kedua ini, ampun ayahanda, nantilah ananda sampaikan permintaan yang kedua ini”. Sambil bersujud menyembah, Putri Hita segera mengundurkan diri dan kembali ke Paseban. Maharaja Dyah balitung segera mengumkan dan mengangkat Putrinya sebagai Senopati, yang memimpin pasukan Mahisasura yang sebelumnya dipimpin oleh Santi yang masih bibinya sendiri. Setelah penobatan dirinya sebagai Senopati di Ulang tahunnya, Putri Hita berdiri di tengah Paseban, membuyarkan hiruk pikuk pesta dan suara gamelan. Putri Hita tiba-tiba bersuara lantang, “Wahai para perwira, silahkan kalian maju semua untuk merayuku, dan bila kalian berhasil maka kalian akan menjadi suamiku”. Sungguh perilaku Putri Hita sekali lagi mencengangkan para bangsawan dan perwira, perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang Senopati Sang Putri Mahkota Mataram. Perilaku yang membuat Maharaja dan Permaisuri terperanjat tidak menduga. Bersambung

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE