Alumni F. Psikologi Untag Surabaya
April 23, 2011
Setahun setelah peresmian candi Prambanan Putri Hita sweet seventeen dirayakan di alun-alun kraton dengan pesta yang meriah, selama dua malam, seluruh lingkungan istana dan alun-alun di hias, perabotan ditata mulai dari pintu gerbang sampai paseban agung di rias dengan bunga-bunga dan kain warna-warni untuk menyambut tamu-tamu bangsawan yang datang. Puspita yang sudah setahun menemani Putri Hita melihat wajah tuannya tidak begitu gembira dan tampak murung di malam ulang tahunnya. “Bukankah permintaan tuan putri untuk mengundang rakyat jelata telah dikabulkan Maharaja? Apa yang membuat kanjeng putri tampak murung?” Tanya Puspita perlahan, dan Putri Hita hanya menggelengkan kepala. Sambil menghela nafas panjang dan berat, Putri Hita berkata, “Bi, bukannya saya tidak mau dinikahkan, seperti tradisi yang sudah ada, bahwa seorang putri raja harus segera menikah bila cukup dewasa, tetapi saya punya keinginan yang sangat besar”. “Keinginan apakah itu kanjeng putri, mungkin Bibi bisa memberikan saran?”, namun Putri Hita hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap memilih-milih baju pesta yang hendak dipakai. Suasana malam di alun-alun kota sangat terang benderang oleh ribuan obor yang di pasang para prajurit kerajaan untuk menyambut kedatangan rakyat jelata yang menghadiri di ulang tahun. Ratusan kembang api meluncur ke udara, percikan apinya membentuk banga-bunga mekar yang berwarna-warni, seperti bintang-bintang di langit malam sedang berjatuhan. Sungguh, pemandangan yang sangat kontradiktif dan ditentang oleh banyak bangsawan istana, bahwa rakyat tidak semestinya diperkenankan menghadiri pesta bangsawan, ini adalah pengingkaran tradisi yang sangat berani. Malam pertama, di paseban agung, gamelan terus mengalun mengiringi pesta tari yang sangat meriah. Berbagai macam makanan lezat dan mewah disajikan, buah-buahan, sampai minuman tradisional hingga arak juga telah disediakan. Di luar paseban, di setiap pojok alun-alun dibuat api unggun untuk membakar daging kambing dan rusa. Semua tamu, laki-laki dan perempuan, tua-muda semuanya diperbolehkan mengikuti pesta, menikmati daging kambing dan rusa, menikmati arak, dan makan sepuasnya. Rakyat yang hadir dalam pesta menjadi serakah seperti Srigala yang lapar, mereka mencoba berbagai jenis makanan yang disajikan, tanpa rasa malu, mengambil makanan dan menghabiskannya, mengambil lagi dan terus mengambil dan memakannya dengan lahap, seolah-olah perut mereka seluas samudra, dan semua yang disajikan ingin dilahapnya. Sambil menikmati berbagai minuman, dan pesta tari, yang merasa sangat kenyang segera berlari ke pancuran di tengah alun-alun, kemudian "huekk… " mereka memuntahkan isi perutnya sampai merasa lega, kemudian kembali lagi ke tengah pesta untuk menari dan menikmati makanan-minuman hingga berkali-kali dan memuntahkannya lagi. “ini kesempatan sekali dalam seumur hidup, kita bisa menikmati makanan raja, makanan istana yang mewah dan lezat”, kata sebagian pemuda yang telah berkali-kali memuntahkan makanannya tapi merasa belum puas dan masih ingin menelan semua yang ada. 100 juru masak istana terus hilir mudik untuk mengisi tempat-tempat sajian makanan yang telah habis, mengisi gentong air kelapa, arak, kue-kue, dan berbagai minuman tradisional lainnya. Aku tidak bertugas malam ini selain menemani Puspita yang harus mengawasi tuannya yang sedang duduk di kursi paseban menghadap alun-alun untuk melihat rakyatnya yang berpesta. Di samping pot besar, Puspita merasa sudah sangat lelah, ia menyandarkan kepalanya di bahuku, tanpa berkata apapun. Tangan kanannya memegang lengan kiriku, dan tangan kananku memeluknya, Puspita sudah sangat mengantuk. Malam ini aku menggantikan tugasnya mengawasi Putri Hita yang tetap tenang duduk di paseban dan terus tersenyum melihat para tamunya yang berpesta seperti orang-orang kesurupan berpesta menjadi gila ditengah udara berbau kemenyan. Bulan berada di atas kepala tanda tengah malam tiba. Bulan tinggal sepotong merah menyala seperti buah semangka. Puspita masih lelap tertidur sambil duduk dan bersandar di dadaku. Aku tetap memeluknya dan merebahkan kepalanya di pahaku sambil menyandarkan punggungku di pot besar. Sesekali waktu aku mengibaskan tangan dan kakiku untuk mengusir nyamuk yang suaranya seperti ratusan lebah. Di bawah sinar bulan yang redup, wajah Puspita sangat indah diterangi sinar rembulan dan gaduhnya suara pesta. Pesta meriah yang tidak lebih indah dibandingkan kecantikan Puspita, yang sekali waktu aku mengarahkan wajahku ke Putri Hita untuk memastikan Sang Putri tetap aman, dan kembali memandangi wajah cantik Puspita yang pulas dalam tidurnya. “Ohh… Puspita, wajah indah dan rambutmu, menjadi pelangi di cakrawalaku, dengarkanlah suara hatiku yang telah terlambat ku ucapkan ini” bisikku dalam hati sambil memandangi wajahnya yang tampak lelah. Dhongggg…… Dhoonnngggg….. Dhooonnngggg….. bende di tabuh hingga tiga kali, suaranya menggelegar hingga terdengar sampai ke sudut-sudut malam, gaungnya membuyarkan lamunanku, juga membangunkan Puspita. Sejenak Puspita memandangku, dengan cepat dia memeluk sebentar dan menatap mataku, ia mencium tanganku kemudian membalikan badan dan berlari menuju Putri Hita yang harus segera diantar ke peraduannya. Bulan sepotong, kemenyan dan suara bende menandakan pesta di hari pertama telah usai ….. beberapa jam kemudian, Alun-alun kota membisu seperti kuburan raya. Bersambung …..

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar