data-ad-format="auto"

Putri Ratu Memaksa Melihat Tuhan (Bag. 1)



Syaiful AH 
Alumni F. Psikologi Untag Surabaya
April 22, 2011

Pemugaran Candi Prambanan sudah hampir sempurna, seluruh bekas-bekas batu pahatan dan bongkahan batu besar untuk pembangunan candi juga kayu-kayu penyangga telah selesai dibersihkan dan disingkirkan. Pembangunan Candi yang megah hingga memakan waktu 3 periode pemerintahan, mulai dari Sri Maharaja Watuhumalang, Rakai Garung, hingga Sri Maharaja Dyah Balitung. Kini telah disiapkan untuk diresmikan, dan Hita sang Putri Raja yang masih berusia 16 tahun, calon pewaris tahta, kini turun langsung mengawasi proses persiapan acara peresmian Candi Prambanan. Telah seharian, Sang Putri belum keluar meninjau persiapan selain menerima laporan dari para pengawas dan panitia peresmian. Putri Hita yang telah selesai memerintahkan penulisan prasasti Calcuta yang akan ditorehkan tapak kaki Maharaja sebagai tanda peresmian Candi begitu asyik membaca lontar yang berisi cerita yang dia tulis sendiri, cerita fiksi tentang pembangunan Prambanan oleh mahluk-mahluk gaib. Di tempat peristirahatannya, di luar halaman Candi Putri Hita telah beberapa hari menulis cerita tentang Prambanan, dalam versi fiksi, yang mengisahkan perjuangan seorang pangeran Bandung Bondowoso, dengan kesaktiannya mampu membangun Prambanan hanya 1 malam, meskipun telah gagal oleh kecurangan Roro Jonggrang. Putri Hita memerankan dirinya sebagai Roro Jonggrang yang dikutuk dalam cerita itu, Sambil tersenyum, Putri Hita membaca kembali tulisannya dalam lontar, dan dia tampak tertawa puas. Saya sebagai Komandan pasukan yang mendapatkan tugas dari Raja hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh yang sering tidak masuk akal yang dilakukan Putri Hita. Dari perilaku membuat dan bermain layang-layang sampai menghamburkan perbekalan makanan tentara dan membagikannya pada rakyat miskin. Putri Hita kadang sangat kaku, keras kepala dan semaunya sendiri ini juga tidak segan-segan bermain dengan anak-anak desa sekitar Prambanan, atau menghabiskan waktunya untuk belajar pada seorang pertapa. Memang bukan tugasnya untuk mengawasi bangunan, namun Putri Hita bersikeras meminta pada ayahnya untuk menggantikan peran seorang Rakrayan sang ahli bangunan, dan Putri Hita juga tidak menolak kehadiran Rakrayan di lapangan untuk memberikan saran-saran padanya. Termasuk menentukan ornament candi, yang mengesankan bahwa candi ini bukan untuk umat Hindu pemuja Syiwa saja, tetapi ini juga untuk umat Budha, seperti itulah gagasan Putri Hita pada Rakrayan, sehingga 4 candi Perwara pada bagian atasnya diberi batu tegak lurus yang menjadi simbol bagi rakyat penganut Budha. Meskipun pada awalnya para Rakrayan menolak usulan Putri Hita karena rencana awal bangunan Candi ini adalah untuk umat Hindu, dan fungsinya sebagai tempat abu jenasah. Namun Putri Hita dapat meyakinkan para Rakrayan, dengan alasan menarik simpati umat Budha, agar selalu mencintai Rajanya. Sikap Putri Hita itu membuat penganut Budha juga merasa sangat dihargai, dan semua pemeluk agama di kerajaan Mataram juga semakin mencintai Putri Hita yang kini mulai beranjak dewasa. Menjelang malam purnama, Putri Hita memanggil saya, dan meminta mengawal dirinya ke Gunung Dieng untuk bertapa. Sepanjang jalan saya berpikir dan mencoba menawarkan pada Putri Hita agar mengangkat seorang pelayan atau Dayang yang bisa menghiburnya. Selama ini para Dayang yang ditugaskan membimbing dan menjaga sang Putri sudah cukup tua, dan pikirannya sangat tradisional. Karena itulah Putri Hita menolak dan membiarkan para Dayang tetap tinggal di istana. Putri Hita kurang berkenan dengan cara berpikir para Dayang tua yang tidak up to date, dan tidak mampu diajak berdiskusi tentang pergolakan hidup, tentang politik, filsafat, dan pencarian Tuhan. Sang Putri membutuhkan sesuatu yang baru, yang modern, suatu teknologi dan pengetahuan terkini, dan setidaknya Putri Hita perlu seorang Dayang sebagai teman bicara yang bisa memandang dirinya sebagai gadis dewasa. Setelah usai meditasi, dalam perjalanan pulang menuju Prambanan, saya memberanikan diri menawarkan teman untuk Putri Hita, seorang perempuan agar diterima sebagai Dayang istana yang menemani Putri Hita. Sungguh saya tidak menyangka, Putri Hita adalah perempuan cerdas, dia tidak banyak bertanya bertele-tele, praktis dan singkat layaknya seorang manajer human resources development yang sedang melakukan rekrutmen dan segera memerintahkan saya untuk menjemput perempuan yang saya ajukan. Dengan penuh semangat, sesampainya di Prambanan saya segara berkuda menjemput Dewi yang selama ini sangat ingin mengabdi di kerjaan Mataram. Dewi telah siap, dan kami berdua terpaksa harus menunggang satu kuda menuju Prambanan yang memakan waktu satu hari perjalanan, hingga malam tiba dan kami harus menunggu pagi hari untuk menghadap Putri Hita. Siapa namamu bibi?, tanya Putri Hita, dan tanpa berani memandang wajahnya dewi menjawab, “nama saya Dewi, Gusti Putri”, Putri Hita langsung tertawa keras yang membuat Dewi semakin menundukkan kepalanya dengan rasa takut. “Apakah kamu seorang Putri?” tanya Putri Hita, “ampun beribu ampun Ndoro, saya hanya orang desa yang papa”, dan Putri Hita langsung menyela, “kalau begitu aku panggil kamu Bibi Puspita saja, karena kamu bukan keturunan bangsawan, semoga kamu tidak keberatan Bibi” suara Putri Hita pelan, melunak sambil tersenyum, dan membuat Dewi terlihat lebih lega dan segera menganggukkan kepala. Bersambung .......

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE