data-ad-format="auto"

DIALEKTIKA HUMANISME (MADZAB SEMOLOWARU) 36






Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya



Mengambil kesimpulan dari paparan Ideologi anda secara global di atas, dapatlah dikatakan bahwa dengan ideologi Liberalisme–Kapitalisme yang dikembangkan sampai dengan hari ini, ternyata tidak dapat juga menghantarkan umat manusia pada cita – cita kebahagiaan atau kesejahteraan.
       Betul, ideologi ini yang telah membawa umat manusia pada tingkat kesengsaraan yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Ideologi ini melahirkan ketergantungan antar individu, antar sektor, antar wilayah dan antar negara. Ada banyak klaim yang menyatakan bahwa dengan ini kesejahteraan akan datang, itu hanya harapan. Sebab yang terjadi tidak demikian, sebagai misal petaka yang menimpa negara ketiga yang telah diubah struktur ekonominya menjadi lebih banyak bersifat monopoli, oligopoli, konglomerasi, kroniisme, kapitalistik dan kering tanpa emosi manusia. Praktek–praktek mereka lebih dekat dengan ekonomi yang mendasarkan pada paradigma Growth. Padahal, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak merepresentasikan kondisi riil masyarakat yang sebenarnya. Angka pertumbuhan tidak dapat menjelaskan kemiskinan sosial yang meluas di mana–mana.
       Klaim, redistribusi melalui fiskal ternyata hanya terakumulasi pada investasi sektor modern. Pembangunan atas biaya fiskal pajak sebagian besar hanya berputar–putar pada pusat–pusat kantong pereknomian saja. Produk primer dan industri yang menyerap sebagian besar investasi dengan tingkat produktifitas tinggi tidak berhasil redistribusi ke masyarakat kelas bawah, justru kembali dinikmati masyarakat kelas atas yang memiliki akses ke arah itu.
       Praktis, akses kaum miskin terhadap tanah. Kredit, pendidikan dan peluang kerja serta angkatan kerja, pengangguran tetap tidak tertampung. Dengan pajak dibangun infrastruktur jalan tol, pelabuhan udara, pelabuhan laut, plaza, pusat hiburan dan sebagainya, sementara kaum bawah tak memiliki akses untuk menikmati itu, mengingat daya beli mereka tidak menjangkau.
       Klaim, Consumption redistribution memang mampu mensubsidi sedikit prosentase untuk kelas miskin, nyatanya banyak tidak sampai ke obyek akibat cacatnya birokrasi dalam regulatoir efisiensi dan efektifitas.
        Sedangkan klain Investment redistribution tidak terjadi akbat modal dari sektor tradisional agraris justru dihimpun oleh perbankan untuk dibawa ke kota (sektor modern). Redistribusi investasi yang selama ini diharapkan akan mampu memberikan sumbangan kepada kelas miskin agar mendapat kesempatan usaha melalui investasi dari subsidi kelas atas, nyatanya tidak berjalan optimal. Sebaliknya, perbankan membuka kantor hingga pelosok desa menyerap uang desa dibawa ke kota. Artinya, permodalan kaum atas justru disubsidi oleh kaum kecil via penyerapan dana masyarakat melalui bank.
          Klaim, Wage restraint juga tidak tercapai karena upah riil ternyata ditukar kelas pengusaha sehingga kelas miskin justru mensubsidi kelas pengusaha. Upah yang diharapkan dapat mengangkat potensi beli masyarakat, potensi konsumsi dan potensi saving, nyatanya tidak terbukti. Upah minimum para buruh di negara ketiga teramat murah. Dengan pendapatan kecil maka kelas miskin dalam memuaskan konsumsinya dilakukan dengan cara seleksi beli. Kebutuhan prioritas tinggi saja yang dibeli. Produsen kecil menyesuaikan harga produk dan jasa untuk menyamakan dengan kemampuan beli kelas miskin. Sistem upah di negara ketiga membuat kelas miskin mensubsidi kelas pengusaha kaya.
       Model perubahan sosial dengan landasan ideologi semacam ini akhirnya menemukan muaranya, yakni mendegradasikan tingkat manusia pada derajat yang teramat rendah. Nilai–nilai kemanusiaan yang selama ini  diagungkan dan menjadi tujuan dunia telah digadaikan dengan cara sistem Liberalisme–Kapitalisme ini. Harkat kemanusiaan merosot pada tingkat yang teramat parah. Yang terjadi akhirnya adalah penjajahan kultural, penjajahan struktural, lebih kencang dan besar lagi adalah penjajahan peradaban. Penjajahan terhadap manusia yang dilakukan oleh peradaban yang salah, tatanan sosial yang keliru.

LANJUTAN

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE