Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya
FISIP Untag Surabaya
Mengambil kesimpulan dari paparan Ideologi anda secara
global di atas, dapatlah dikatakan bahwa dengan ideologi Liberalisme–Kapitalisme
yang dikembangkan sampai dengan hari ini, ternyata tidak dapat juga
menghantarkan umat manusia pada cita – cita kebahagiaan atau kesejahteraan.
Betul, ideologi ini yang telah
membawa umat manusia pada tingkat kesengsaraan yang sudah tidak bisa ditolerir
lagi. Ideologi ini melahirkan ketergantungan antar individu, antar sektor,
antar wilayah dan antar negara. Ada banyak klaim yang menyatakan bahwa dengan
ini kesejahteraan akan datang, itu hanya harapan. Sebab yang terjadi tidak
demikian, sebagai misal petaka yang menimpa negara ketiga yang telah diubah
struktur ekonominya menjadi lebih banyak bersifat monopoli, oligopoli,
konglomerasi, kroniisme, kapitalistik dan kering tanpa emosi manusia. Praktek–praktek mereka lebih dekat dengan ekonomi yang mendasarkan pada paradigma
Growth. Padahal, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak merepresentasikan kondisi
riil masyarakat yang sebenarnya. Angka pertumbuhan tidak dapat menjelaskan
kemiskinan sosial yang meluas di mana–mana.
Klaim, redistribusi melalui
fiskal ternyata hanya terakumulasi pada investasi sektor modern. Pembangunan
atas biaya fiskal pajak sebagian besar hanya berputar–putar pada pusat–pusat kantong pereknomian saja. Produk primer dan industri yang menyerap
sebagian besar investasi dengan tingkat produktifitas tinggi tidak berhasil
redistribusi ke masyarakat kelas bawah, justru kembali dinikmati masyarakat
kelas atas yang memiliki akses ke arah itu.
Praktis, akses kaum miskin
terhadap tanah. Kredit, pendidikan dan peluang kerja serta angkatan kerja, pengangguran tetap tidak
tertampung. Dengan pajak dibangun infrastruktur jalan tol, pelabuhan udara,
pelabuhan laut, plaza, pusat hiburan dan sebagainya, sementara kaum bawah tak
memiliki akses untuk menikmati itu, mengingat daya beli mereka tidak
menjangkau.
Klaim, Consumption
redistribution memang mampu mensubsidi sedikit prosentase untuk kelas miskin,
nyatanya banyak tidak sampai ke obyek akibat cacatnya birokrasi dalam
regulatoir efisiensi dan efektifitas.
Sedangkan klain Investment
redistribution tidak terjadi akbat modal dari sektor tradisional agraris justru
dihimpun oleh perbankan untuk dibawa ke kota (sektor modern). Redistribusi
investasi yang selama ini diharapkan akan mampu memberikan sumbangan kepada
kelas miskin agar mendapat kesempatan usaha melalui investasi dari subsidi
kelas atas, nyatanya tidak berjalan optimal. Sebaliknya, perbankan membuka
kantor hingga pelosok desa menyerap uang desa dibawa ke kota. Artinya,
permodalan kaum atas justru disubsidi oleh kaum kecil via penyerapan dana
masyarakat melalui bank.
Klaim, Wage restraint juga tidak
tercapai karena upah riil ternyata ditukar kelas pengusaha sehingga kelas
miskin justru mensubsidi kelas pengusaha. Upah yang diharapkan dapat mengangkat
potensi beli masyarakat, potensi konsumsi dan potensi saving, nyatanya tidak
terbukti. Upah minimum para buruh di negara ketiga teramat murah. Dengan
pendapatan kecil maka kelas miskin dalam memuaskan konsumsinya dilakukan dengan
cara seleksi beli. Kebutuhan prioritas tinggi saja yang dibeli. Produsen kecil menyesuaikan harga produk dan jasa untuk menyamakan dengan kemampuan beli kelas miskin. Sistem
upah di negara ketiga membuat kelas miskin mensubsidi kelas pengusaha kaya.
Model perubahan sosial dengan
landasan ideologi semacam ini akhirnya menemukan muaranya, yakni
mendegradasikan tingkat manusia pada derajat yang teramat rendah. Nilai–nilai
kemanusiaan yang selama ini diagungkan
dan menjadi tujuan dunia telah digadaikan dengan cara sistem Liberalisme–Kapitalisme ini. Harkat kemanusiaan merosot pada tingkat yang teramat parah.
Yang terjadi akhirnya adalah penjajahan kultural, penjajahan struktural, lebih
kencang dan besar lagi adalah penjajahan peradaban. Penjajahan terhadap manusia
yang dilakukan oleh peradaban yang salah, tatanan sosial yang keliru.
LANJUTAN
LANJUTAN

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar