data-ad-format="auto"

DIALEKTIKA HUMANISME (Madzab SEMOLOWARU) 2


TITIK TOLAK BAGIAN I


Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya




Apa sih yang melatarbelakangi pikiran anda ini?
Pada awalnya komentar saya ini lahir dari sesuatu yang bersifat pribadi, yakni rasa jengkel, mangkel, marah dan sejenisnya terhadap sistem pendidikan Indonesia yang begitu mahalnya, sehingga saya tidak dapat melanjutkan sekolah (S3 -red) hanya karena faktor tidak memiliki cukup biaya untuk sekolah. Dengan rasa marah itulah saya membuat sketsa formula mentahan yang berupa merakit hasil pikiran tokoh–tokoh dengan grand teory-nya tanpa bimbingan formal dari sekolah manapun yang akhirnya metamorfose menjadi komentar–komentar ini.
Harapan saya, ini bisa melampiaskan dendam intelektual meskipun tanpa media sekolahan sebagai jalan formal pendidikan.

Jadi tujuan utama anda adalah melampiaskan dendam agar tidak sakit hati?

He...he...he...he, iya! Tujuan itulah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk melakukan ‘perakitan pikiran orang–orang pintar’ atas tatanan sosial yang ada. Tujuan yang sekunder atas perakitan saya itu adalah ingin mengidentifikasi ketertindasan manusia di tengah sistem yang tercipta. Ini pun muncul karena faktor kegelisahan saya terhadap kelangsungan umat manusia yang tidak jelas mau dibawa ke mana oleh sejarah yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Saya tidak pernah berpikir apakah ini mau berguna atau tidak, saya tidak berharap banyak. Sederhananya adalah, minimal kegelisahan saya ini bisa meruwetkan orang lain agar ada alternatif pemikiran lain selain yang sudah ada, masalah alternatif pemikiran itu nantinya dapat menjadi kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat atau tidak, saya tidak begitu peduli. Pokoknya berkarya, titik!

Boleh tahu apa metode ataupun barangkali hipothesisnya?

Dari merakit pikiran orang ini, saya menemukan permasalahan, karena kebetulan yang saya rakit ini adalah hasil pemikiran tokoh–tokoh humanis, maka saya menemukan persoalan yang itu ditimbulkan dari akibat hubungan manusia dengan alamnya; akibat hegemoni struktur politik ekonomi negara terhadap masyarakatnya; dampak yang ditimbulkan oleh revolusi evolusi alam dan sosial terhadap manusia; dan perkiraan–perkiraan tentang suatu bentuk masyarakat baru yang membebaskan; makanya dalam rakitan–rakitan pikiran yang saya lakukan secara sederhana itu saya beranikan diri membuat hipothesis.
Nah, melihat apa yang sedang terjadi pada masyarakat manusia di muka bumi ini, saya menghipothesiskan: “segala akibat dari hubungan manusia dengan alamnya, akibat hegemoni struktur politik ekonomi negara terhadap masyarakatnya, dampak–dampak yang ditimbulkan oleh revolusi evolusi alam dan sosial terhadap manusia, dan suatu bentuk baru masyarakat yang membebaskan adalah ditentukan oleh: pertama, ‘dialektika individu, dialektika alam, dan dialektika kolektif’. Kedua, ‘takdir sejarah’. Ketiga, ‘tidak adanya perencanaan atas takdir yang dibuat oleh manusia itu sendiri”.
Barangkali pikiran saya ini, bagi orang pintar masih dianggap teramat sederhana. Hanya saja, saya dalam kesederhanaan itu tetap menggunakan cara. Cara saya adalah dengan cara pendekatan masalah secara filosofis sosiologis, artinya selain di dasarkan pada berpikir kefilsafatan, juga memperhatikan kenyataan–kenyataan yang berlangsung di tengah masyarakat.
Referensi yang saya ambil bersifat sekunder ini saya peroleh dari berbagai sumber, seperti buku–buku bacaan filsafat, himpunan undang–undang, literatur–literatur pikiran–pikiran orang pintar, dan bahan sewaktu saya sekolah dulu, dari ceramah guru–guru saya yang masih saya ingat, juga dari mass media, baik cetak maupun elektronika.
Dalam penggalian referensi yang bersifat langsungpun, saya ambil dari pengamatan pada masyarakat yang memang sudah dan sedang berlangsung. Referensi primer yang saya kumpulkan dengan cara pengamatan itu saya tambah dengan referensi yang saya peroleh dengan cara sekunder, lalu saya olah, kemudia saya simpan dipikiran saya sendiri.
Setelah referensi saya terkumpul, saya olah, terus saya analisa. Nah, dalam menganalisa referensi ini, cara yang saya gunakan adalah dengan cara membayang–bayangkan dan saya uraikan dalam hati.
Nah, kalau ada orang bertanya, baru akan saya jelaskan secara sistematik sehingga mendukung pembahasan masalah yang dijadikan diskusi atau diskursus yang sedang diketengahkan. Dengan cara–cara demikian, mudah–mudahan dapat saya pertanggungjawabkan dengan sedikit agak ilmiah.

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE