data-ad-format="auto"

DIALEKTIKA HUMANISME (Madzab SEMOLOWARU) 5

Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya


Ya . . . ya, manusia dan sejarah sebagai kesatuan
    Usaha memahami hakekat manusia lebih memperoleh kemudahan apabila orang mempertimbangkan sejarahnya. Sejarah yang dimaksud di sini tentu saja adalah sejarah atau kesejarahan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan peristiwa masa lampau sebelum manusia ada tetap dianggap sejarah, sebab menurut saya sejarah adalah hasil kumpulan dan pertautan berbagai peristiwa dengan lingkungannya. Dan dalam hal ini, saya hanya berbicara sejarah yang membentuk manusia itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dianggap bukan merupakan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu secara mandiri. Dengan kata lain manusia itu tidak bebas dari akar kesejarahan yang membentuk dirinya. Sejarah adalah kausalitas atas manusia.

Ya, saya ada gambaran. Dan bukankah ideologi ini sejak purba sudah menjadi perhatian pemikir? Dari filsafat Yunani hingga Pertengahan?
      Gerakan Pembebasan Manusia sebagai ideologi didasarkan pada Kedaulatan Manusia sebagai individu dengan segala potensi yang dimilikinya atas dunia. Faham kedaulatan individu ini berangkat dari berbagai macam aliran filsafat yang pernah ada. Filsafat–filsafat yang mendasari itu adalah mulai dari filsafat idealisme, rasionalisme, materialisme. Karena segala macam aliran filsafat memang berbicara atas manusia sebagai subyek ataupun obyek telaah.
        Dalam buku Jostein Gaarder yang akan saya kutipkan panjang lebar, filsafat idealisme dikatakan oleh Plato bahwa pasti ada realitas dibalik ‘dunia materi’. Realitas ini adalah ‘dunia ide’; disitu tersimpan ‘pola–pola yang kekal dan abadi di balik berbagai fenomena yang ditemui manusia di alam. Plato berkata: “satu wilayah adalah ‘dunia indra’, yang mengenainya kita hanya dapat mempunyai pengetahuan yang tidak tepat atau tidak sempurna dengan menggunakan lima indra kita. Di dunia indra ini, ‘segala sesuatu berubah’ dan tidak ada yang permanen. Dalam dunia indra ini tidak ada sesuatu yang selalu ada, yang ada hanyalah segala sesuatu yang datang dan pergi. Bukankah ini sangat berkaitan dengan gerakan perubahan dan manusia sebagai subyek sentralnya?
         Wilayah yang lain adalah ‘dunia ide’, yang mengenainya kita dapat memiliki pengetahuan sejati dengan menggunakan akal kita. Dunia ide ini tidak dapat ditangkap dengan indra; ide itu kekal dan abadi”.
         Selanjutnya, menurut Plato dikatakan bahwa manusia adalah makhluk ganda. Manusia memiliki tubuh yang ‘berubah’, yang tidak terpisahkan dengan dunia indra dan tunduk pada takdir yang sama seperti segala sesuatu yang lain di dunia. Semua yang diindrai didasarkan pada tubuh manusia dan karenanya tidak dapat dipercaya. Dan manusia juga memiliki jiwa yang abadi yang ada di dunianya akal, karenanya tidak bersifat fisik, jiwa dapat menyelidiki ide.

Bukankah setelah Plato masih ada varian – varian ataupun revisi berikutnya?
          Ya, setelah itu ada Socrates, setelah filsafat diapun masih ada bermacam filsafat yang kesemuanya mengacu dan pelanjut dari Socrates. Aliran itu adalah Sinisme, Stoikisme, dan Spicureanisme yang hampir semuanya berakar pada ajaran Socrates.

Tapi . . . pengikut – pengikut Socrates itu kan subyektif?
        Awalnya, ketika masih minoritas. Dan pada akhirnya, ketika kumpulan individu ini menjadi mayoritas, maka subyektif akan berubah menjadi obyektif. Bukankah obyek itu kumpulan dari keseluruhan subyek?
        Misalnya ada aliran Sinisme yang ini dilanjutkan oleh aliran filsafat Stoikisme. Filsafat ini diambil dari kata Stoa, artinya serambi. Oleh sebab diskusi selalu dilangsungkan di serambi di bawah pimpinan Seno warga Siprus.
        Kaum Stoik percaya bahwa setiap orang adalah seperti sebuah dunia miniatur atau mikrokosmos, yang merupakan cerminan dari makrokosmos. Kepercayaan ini membawa pada pemikiran bahwa terdapat suatu kebenaran universal yang dinamakan hukum alam. Dan karena hukum alam ini didasarkan pada akal manusia yang abadi dan universal, ia tidak berubah sejalan dengan berlalunya waktu dan berpindahnya tempat. Dari sini Cicero dari Romawi menemukan konsep Humanisme, yakni suatu pandangan hidup yang menempatkan individu sebagai fokus utamanya. Pendapat didukung oleh Seneca yang menyatakan bahwa bagi umat manusia, manusia itu suci, yang akhirnya menjadi slogan kaum Humanis sampai hari ini.
          Dua aliran filsafat di atas menyimpulkan bahwa manusia itu harus membebaskan dirinya dari kemewahan materi. Sedangkan bagi kaum Epicurean yang dipimpin Epicurus dan sebelumnya dirintis oleh Aristipus, menyatakan bahwa tujuan hidup adalah meraih kenikmatan indrawi setinggi mungkin. Kebaikan tertinggi adalah ‘kenikmatan’ dan kejahatan tertinggi adalah ‘penderitaan’. Oleh karena itu manusia harus mengembangkan suatu cara hidup yang tujuannya adalah menghindari penderitaan dalam segala bentuknya. Baik kaum Stoik, penganut Sinisme, ataupun pengikut Epicurean mempercayai pada usaha untuk menahan segala bentuk penderitaan, yang tidak sama dengan usaha untuk menghindari kesakitan.
        Meskipun demikian, Epicurus memberikan rambu–rambu, bahwa hasil–hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus selalu mempertimbangkan efek samping yang ditimbulkannya. Menurut Epicurus, hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek harus ditahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan yang lebih besar, lebih kekal atau lebih hebat dalam jangka panjang.
        Perlu diketahui bahwa tidak semua filosof didominasi oleh Yunani. Dari India, Sang Budha Sidarta Gautama berkata bahwa kehidupan adalah sebagai suatu rangkaian proses mental dan fisik tak terputus yang membuat seseorang terus–menerus berubah. Bayi tidak sama dengan orang dewasa; aku hari ini tidak sama dengan aku kemarin. Tidak ada sesuatu yang dapat kunyatakan ‘inilah aku’. Karena itu tidak ada ‘aku’ atau ego yang tak berubah.
      Pendapat Budha tersebut menyatakan bahwa karakter manusia dibentuk oleh sejarah–sejarah dan persepsi–persepsi atas sejarah manusia itu sendiri.


0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE