data-ad-format="auto"

DIALEKTIKA HUMANISME (Madzab SEMOLOWARU) 7

Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya



PEMBEBASAN MANUSIA
BAGIAN IV

Dan dari sana pula evolusi sejarah manusia?
      Ya, itu bagian dari dialektika. Dalam pembahasan dialektika ini kita bisa ambil dari dasar filsafat Dialektika Hegel dan Dialektika Karl Marx. Di satu kutub Hegel menganggap bahwa dialektika itu adalah ada pada tataran idea, sedangkan Karl Marx pada kutub yang lain menganggap sebaliknya, bahwa dialektika adalah pada wilayah material.
       Dialektika idea Hegel menyatakan bahwa makna kehidupan paling dalam, ada pada sesuatu yang Hegel namakan ‘Ruh Dunia’. Ruh dunia yang dimaksud Hegel di sana adalah ‘Akal Dunia’. Akal dunia itu adalah seluruh perkataan manusia, sebab hanya manusialah yang memiliki ‘ruh’. Mengenai kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah dapat dibahas, yakni kebenaran itu bersifat subyektif, maka di luar itu tidak ada kebenaran yang lain, seperti kebenaran tertinggi atau kebenaran di luar akal manusia. Seluruh pengetahuan (kebenaran) adalah pengetahuan (kebenaran) manusia.
      Oleh karena semua pengetahuan hanya ada pada manusia, maka kesadaran manusia tidak pernah kekal, tidak ada akal abadi, tidak ada kebenaran abadi, selalu berubah dari satu generasi ke generasi.
     Akal itu bergerak terus dan didalamnya mengandung pembenaran dan pertentangan yang menghasilkan penolakan dan penerimaan. Akal selalu berproses. Ruh dunia berkembang menuju pengetahuan itu sendiri yang juga terus berkembang. Sejarah adalah kisah mengenai ruh dunia yang secara perlahan mendekati kesadaran itu sendiri. Manusia selalu maju mengarah pada ‘pengetahuan diri’ dan ‘perkembangan diri’ yang semakin tinggi. Umat manusia bergerak menuju rasionalitas dan kebebasan.
        Dari semua uraian Hegel itu, maka Dialektika Idea adalah suatu proses ketika sebuah pemikiran yang dimunculkan adalah hasil dari pemikiran terdahulu. Sayangnya untuk kedepan, pemikiran itu mendapat perlawanan pemikiran lain, sehingga timbullah ketegangan di antara dua pemikiran tersebut. Pertentangan itu dapat dapat diperdamaikan untuk sementara ketika muncul pemikiran ketiga yang lebih baik di antara kedua pemikiran awal. Ini yang dinamakan Thesis, anti Thesis, anti Thesis–anti thesis (synthesis).
      Sedangkan di ujung yang lain, Karl Marx berpendapat bahwa Dialektika adalah Material. Menurut Karl Marx, Hegel berjalan dengan kepalanya. Bagi Karl Marx, sejarah tidak terbentuk dari pertentangan ide–ide yang dinamakan ruh dunia atau akal dunia. Pendapatnya, sejarah tercipta justru dipengaruhi oleh faktor material. Ini disebabkan karena cara manusia berpikir itu ditentukan oleh faktor–faktor material masyarakat semacam itulah yang menggerakkan sejarah. Intinya adalah perubahan–perubahan materiallah yang mempengaruhi sejarah.
      Dari situ Marx mengatakan, bahwa hubungan ruhaniah tidak membuat perubahan material. Justru sebaliknya, perubahan–perubahan materiallah yang membuat hubungan–hubungan ruhaniah baru.
        Masyarakat adalah material bergerak. Oleh karenanya gerak masyarakat ditentukan oleh kekuatan–kekuatan yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Kekuatan dalam masyarakat yang sangat dominan selalu melakukan pertentangan adalah kekuatan ekonomi. Kekuatan ekonomi inilah yang menciptakan perubahan dan menggerakkan sejarah.
       Kekuatan–kekuatan ekonomi melakukan hubungan ini menjadi bangunan dasar dari masyarakat. Dasar bangunan inilah yang melahirkan bangunan atas yang dinamakan dengan supra struktur. Supra struktur adalah perangkat tatanan masyarakat yang berupa jenis lembaga politik yang ada, bagaimana cara masyarakat berpikir, hukum apa yang dimiliki, ajaran agama bagaimana yang dijalankan, mitos, moral, nilai, kebudayaan, seni, filsafat, ilmu pengetahuan, dan institusi yang lain.
        Dari paparan Marx di atas, dialektika material adalah pertentangan antar kelas yang ada pada masyarakat manusia, yakni kelas penindas dan kelas tertindas. Dari pertentangan antar kelas itulah sejarah bergerak dan bentuk–bentuk masyarakat tercipta dari waktu ke waktu.
         Dasar dari pemikiran dialektika material Marx adalah bahwa realitas yang menentukan kesadaran, bukan kesadaran yang menentukan realitas.
          Selain dari paparan pemikir–pemikir terdahulu, untuk masalah pembahasan Dialektika ini juga bisa kita ambil kesimpulan dari apa yang dipaparkan Tan Malaka dalam Materialisme Dialektika Logika (Madilog) yang mengambil intisari dari Engels Anti Duhring dikatakan di sana ‘bahwa seluruh gerak alam itu bisa diikhtisarkan dengan peralihan energi yang tidak putus – putusnya, dari satu bentuk ke bentuk lain’.
         Lebih lanjut Tan Malaka mengikhtisarkan alam kita ini dengan matter in move,benda bergerak, karena gerakanlah yang menjadi sifat utama sebuah benda. Jadi dalam semua benda bergerak, kita mesti memakai dialektika. Kita mesti sadari bahwa semua benda di dunia tidak ada yang tetap, semua bergerak, berubah. Tumbuhan muncul dari bijinya, tumbuh, berbuah, dan mati. Zatnya kembali ke tanah. Ke air, dan ke udara. Hewan lahir, tumbuh, beranak, tua, dan mati. Zatnya kembali ke tanah. Logam berkarat dan luntur. Bintang yang besar sekali pun bergerak pada porosnya (1946).
       Lebih lanjut dikatakan Tan Malaka yang ia sitir dari pendapat Hegel yang menyatakan bahwa ‘yang kita sebut dialektika ialah gerakan pikiran, di mana yang seolah – olah tercerai itu, disebabkan sifatnya sendiri, saling memasuki satu sama lainnya, dengan begitu membatalkan perceraian itu’. Dikatakan juga olehnya dalam Madilog yang dia sitir dari pendapat Engels dan Mark, bahwa Dialektika dalam masyarakat adalah pergerakan adil dan zalim, kedua pengertian yang tampak berpisah, sebetulnya bisa berpadu, perpaduan sebagai hasil dari perjuangan dua benda yang nyata, yaitu dua kelas dalam masyarakat’.

Okey, landasan pikiran tentang gerakan pembebasan yang anda kutip dari Jostein Gaarder dar. Tan Malaka, telah saya pahami. Hanya saja saya belum mendengar landasan berpikir yang mendasari Negara sebagai salah satu bentuk masyarakat manusia.
        Pertentangan–pertentangan kelas dalam masyarakat seperti yang diungkapkan di atas adalah karena perebutan kebutuhan ataupun tuntutan hidup yang ingin dipenuhi dan dipuaskan. Seluruh pertentangan antar kelas inilah yang dalam sejarahnya melahirkan apa yang dinamakan supra struktur, seperti kebudayaan, nilai hidup, agama bumi, dan terpenting adalah negara dan sebagainya, yang dalam kenyataan supra struktur tersebut berwatak menindas dan menafikkan esensi kemanusiaan. Inilah mengapa dialektika Marx dinamakan evolusi sejarah manusia. Oleh karena itu dalam dasar filsafat berikutnya akan dibahas salah satu supra struktur masyarakat yang paling dominan menghegemoni manusia dan berwatak mendegradasikan asensi kemanusiaan, yakni Negara.

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE