Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya
KEGELISAHAN
BAGIAN II
Baiklah, jika titik tolah anda dari sana. Tapi yang ingin
saya tahu, dalam setiap pertemuan, anda selalu mengungkapkan pendapat–pendapat dengan nada yang getir. Sebetulnya suasana kesedihan apa yang sedang
anda risaukan?
Bagaimana tidak sedih. Saya
bukanlah penganut sinisme. Anda tahu, yang menyatakan setiap orang tidak perlu
memikirkan kesehatan diri mereka. Bahkan penderitaan dan kematian tidak boleh
mengganggu manusia. Manusia tidak boleh membiarkan diri tersiksa karena
memikirkan kesengsaraan orang lain, karena penderitaan dan kematian bukan
gangguan bagi manusia.
Meskipun pernyataan kaum sinisme
ini bukan berarti menunjukkan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain, di
mana arti sebenarnya justru sebaliknya, yakni oleh sebab setiap individu tidak
tersiksa karena memikirkan kesengsaraan orang lain, maka setiap individu akan
menikmati hidup bahagia dan di situlah manusia mendapatkan kebebasannya. Dan
bagaimanapun juga, secara kodrat alam, setiap manusia pasti memiliki alat
pandang. Dan ini digunakan manusia untuk melihat dunia dengan kacamatanya
masing–masing. Kebetulan saya adalah salah seorang yang memiliki ‘kacamata
sedih’ dalam melihat dunia seisinya, khususnya persoalan manusia.
Manusia dalam hidupnya selalu
dihadapkan pada berbagai persoalan. Dan persoalan–persoalan yang muncul
tersebut diupayakan oleh manusia untuk selalu dapat dipecahkan sendiri. Dalam
memecahkan persoalan itu, manusia ‘merasa sebagai Tuhan’ yang bisa
menyelesaikan persoalan dengan seluruh potensinya. Seringkali masalah
diselesaikan dengan akibat timbul masalah baru yang lebih rumit.
Sejak dahulu hingga sekarang
manusia selalu bersikap dan berbuat atas diri dan alam lingkungannya. Dan
seringkali persoalan–persoalan yang menyertai hidup manusia itu justru
diakibatkan oleh cara manusia menyikapi dirinya dalam hubungannya dengan alam
lingkungannya. Ini semua melahirkan krisis–krisis baru dalam kehidupan
manusia. Misalnya adalah krisis kepercayaan yang dialami oleh otoritas–otoritas
publik akibat dari kesalahan mengurus penyelenggaraan kehidupan sosial.
Kesalahan penyelenggaraan sosial ini sebagai konsekuensi dari penerapan
konstitusi yang ingin diterjemahkan sebagai penyelesaian persoalan bersama
tetapi dalam kenyataan menjadi penyelesaian masalah bagi kepentingan golongan
tertentu.
Krisis ekonomi juga menjadi
persoalan. Telah terjadi perubahan persepsi atas kata ‘sejahtera’ di mana
sejahtera hanya dipahami sebagai kecukupan ekonomi. Sehingga terjadi perubahan
orientasi masyarakat dari kehidupan dari kehidupan yang holistik ke arah
perbaikan ekonomi saja. Sikap tersebut selalu mengintepretasikan nasib sebagai
identik dengan perbaikan ekonomi. Interpretasi semacam ini akan berakibat para
terabaikannya pembangunan di sektor lain (non ekonomi). Padahal banyak sektor
dalam kehidupan ini harus juga perlu untuk dibangun, seperti sektor pendidikan,
agama, kebudayaan, dan lainnya.
Orientasi ini mengkondisikan
masyarakat untuk menjadi industrialis, maka dalam kondisi seperti itu akan terjadi
degradasi nilai–nilai kemanusiaan (de-humanisasi) pada tingkat yang
menyedihkan. Ini juga berakibat pada percepatan perubahan manusia ke sektor
modern dan tercerabutnya manusia dari sektor tradisional agraris oleh mobilitas
tinggi dari pinggi ke pusat–pusat perekonomian.
Demikian pula dengan krisis
sosial budaya. Krisis ini membuat tidak adanya pedoman hidup bermasyarakat yang
dapat dipercaya. Terjadinya berbagai tindak kekeraan atas manusia oleh manusia
lain, lunturnya norma–norma luhur yang telah melembaga di tengah manusia,
memudarnya nilai–nilai humanisme dan tergerusnya karakter egalitarian, serta
tercerabutnya manusia dari akar tradisi adi
luhung ke arah watak dan berperilaku anti sosial.
Memang begitu suratan manusia, dan itu keniscayaan yang pasti terjadi?
Itulah dia. Ini memang sudah
menjadi watak dasar manusia. Tidak mengherankan jika pada setiap saat manusia
selalu berusaha mengatasi ataupun memecahkan segala persoalan yang menimpa
dirinya itu. Bahkan, dewasa ini, ada semacam proyek dari berbagai negara di
belahan manapun bumi ini untuk menanggulangi bahaya yang mengancam atas
keberlangsungan manusia sebagai makhluk yang berkuasa di bumi ini. Dari
pertemuan ke pertemuan pemimpin negara selalu tidak bosan–bosannya
merundingkan sebuah tata dunia baru yang nyaman bagi semua penduduk manusia di
bumi.
Bukankah sudah lama negara mengambil peran dalam hal kemanusiaan ini, di mana yang menarik?
Proyek yang dikerjakan itu
adalah proyek penyelamatan tatanan sosial manusia se dunia. Oleh sebab tata
hubungan sosial masyarakat manusia dari mulai belum dikenal adanya negara
hingga penemuan negara, jatuh bangunnya negara serta perkembangan negara yang
semakin maju ini, ternyata telah membuat berbagai macam persoalan baru yang
mana persoalan itu berhubungan dengan reduksi atas nilai–nilai kemanusiaan.
Sebentar . . . bukankah justru nilai–nilai itu dilembagakan oleh institusi, yang dalam hal ini adalah negara?
Di situlah letak paradoksnya.
Negara hendak membuat proyek penyelamatan atas nilai–nilai kemanusiaan.
Celakanya, justru negaralah biangnya kerusakan nilai kemanusiaan itu. Nilai
kemanusiaan yang terredusir itu sebagai akibat kesalahan sistem sosial, sistem
politik, sistem ekonomi, serta sistem–sistem yang lain. Dan negara adalah
induk dari seluruh sistem yang ada.
Apa kaitannya antara nilai dengan sistem itu?
Adanya kesalahan sistem dalam
pengelolaan manusia atas alam serta alokasi dan distribusi sumber itu
menyebabkan krisis multidimensi. Dan yang paling dianggap parah serta mengancam
adalah semua krisis tersebut bermuara pada krisis nilai–nilai kemanusiaan.
Proses perubahan oleh negara baik secara evolusi ataupun revolusi selalu diupayakan agar manusia tetap berposisi sebagai manusia, bukankah itu sudah cukup?
Dalam rangka melestarikan spesies manusia di atas bumi inilah berbagai
macam jalan pernah coba ditempuh. Percobaan penerapan jalan itupun mengandung
kegagalan. Seperti telah kita ketahui, bahwa dengan jalan sosialisme yang
pernah ditempuh beberapa negara di dunia telah menunjukkan kegagalan dalam
menghantar masyarakat manusia ke arah kesejahteraan. Jalan kapitalisme yang
sementara ini dianggap telah menang atas komunisme pun, mulai menunjukkan ke
arah kegagalan, bahkan itu sudah mulai sangat terasa imbas yang diberikan
kapitalisme sebagai jalan dalam membawa andil besar berbagai macam krisis di
dunia.
Seluruh perubahan sosial dengan
revolusi ataupun evolusi, itu suatu keniscayaan alam dan tak bisa ditolak. Dan
perlu digarisbawahi bahwa, atas hasil dan capaianlah yang selalu melahirkan
ketidakpuasan.
Lantas cara apa yang menurut anda cocok?
Melihat berbagai jalan yang
pernah ditempun dan terbukti gagal itu, maka ada semacam langkah–langkah
manusia dalam menawarkan formula baru yang coba diberikan dalam mengatasi
dilema akan jalan tersebut. Seperti misalnya midle way atau jalan tengah yang pernah di tempuh dengan
mengetengahkan sistem ekonomi campuran atau mix
economy system; sebuah sistem yang dilaksanakan dengan cara menggabungkan
antara jalan sosialisme dan jalan kapitalisme.
Belum lama, sistem di atas
dipakai oleh beberapa negara di dunia, datang lagi sumbangan pemikiran yang
diberikan oleh Anthony Giddens dalam bukunya “The Third Way” atau dalam Bahasa Indonesianya adalah Jalan Ketiga.
Meskipun di dalam bukunya itu Anthony Giddens tidak mau mengakui sebagai jalan
tengah antara sosialisme dan kapitalisme, namun di dalamnya mengandung sebuah
tawaran akan jalan yang dirasa baik-baik saja, boleh, bahkan perlu diambil
tidak peduli hal itu lahir dari jalan mana.
Dari berbagai tawaran akan jalan
yang dapat ditempuh tersebut, nampaknya masih belum ada penggalian pemikiran ke
arah sebuah sistem yang lebih maju dari sekedar jalan tengah maupun jalan ke
tiga. Padahal manusia diberikan kemampuan akal untuk memikirkan jalan lain
berdasarkan referensi jalan–jalan yang pernah ada selama ini.
Dalam kerangka inilah saya
selalu melihat dunia dengan ‘kaca mata sedih’, sayangnya tidak pernah punya
keberanian untuk mencoba merubah dunia
seperti harapan Karl Marx, dan saya makin lama makin tak tahan, sehingga
saya memberanikan diri hanya sekedar menawarkan sumbangan pemikiran, ingin
menawarkan cara sederhana.
Apakah mungkin, cara sederhana bisa menyelesaikan persoalan, sedang dunia sedemikian kompleksnya?
Isi pertanyaan seharusnya bukan
“bisa, apa tidak” menyelesaikan persoalan. Tetapi, “mau, apa tidak” mencoba
tawaran alternatif di luar jalan yang sudah–sudah.
Sumbangan atau tawaran ini
antara lain dihasilkan dari berbagai kritik yang dilakukan oleh pemikir–pemikir terdahulu terhadap berbagai penemuan manusia atas jalan–jalan yang
justru membuat manusia kehilangan arah di dalam hidupnya. Tawaran dari saya ini
adalah “Jalan Pembebasan Manusia’.
Saya berharap tawaran Jalan
Pembebasan Manusia ini, bisa diberikan dalam kerangka untuk kesejahteraan
manusia itu sendiri hingga bisa membebaskan manusia dari sistem tata sosial
dunia yang menjajah ini. Karena saya melihat penjajahan atas manusia yang
terjadi ini, akibat dari hubungan manusia dengan alamnya, akibat hegemoni
struktur politik ekonomi negara terhadap masyarakatnya, akibat revolusi dan
evolusi alam dan sosial yang dibuatnya.
Saya berharap setelah diberikan
kritik atas segala penjajahan manusia pada manusia ini, maka akan ada solusi
dengan lahirnya suatu bentuk masyarakat baru yang membebaskan dan membawa
manusia kepada kebahagiaan. Dan arus pemikiran inilah yang saya maksud dengan 'Madzab Surabaya'.
LANJUTAN
LANJUTAN

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar