Sebatang rokok yang menyala terapit diantara jari telunjuk dan jari tengah Tok. Dengan teratur namun tak tentu, sebatang rokok yang menyala itu dia selipkan dibibirnya. Dihisap, kemudian dihembuskannya hasil hisapannya tersebut. Seketika, asap putih keluar dari mulutnya, menyapa sunyi.
Ya, proses sirkulasi asap seperti itu cukup ampuh mengusir rasa bosan yang sedang menggodanya, persetan dengan anggapan mereka tentang isu - isu lingkungan. Dia tidak peduli.
Meskipun dengan seenaknya mereka menuduh Tok sebagai pelaku pencemaran udara.
Pernahkah mereka benar-benar memperhatikan isu lingkungan yang digembor-gemborkan itu?
Sempatkah mereka mengamati, mempelajari, dan menghitung, juga membandingkan apa saja yang menjadi antagonis bagi lingkungan?
Maukah mereka mengakui dengan jujur, bahwa hal semacam asap dari kendaran bermotor yang jumlahnya sangat sukar dihitung itu juga berkontribusi dalam mencemari udara?
Ataukah anggapan egoistis mereka hanya mengikuti roda industri yang terkenal dengan ilusi-ilusi?
Bukankah sangat tidak adil jika pertanyan-pertanyaan tadi tidak bisa mereka pertanggungjawabkan?
Di ujung malam, dengan berselimut dingin dan awan-awan bunting yang menyembunyikan bintang-bintang, Tok masih dengan sebatang rokoknya yang menyala.
Probolinggo, 23 Januari 2016


https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar