data-ad-format="auto"

Diskriminatif



Diskriminasi sudah menjadi hal limrah di negeri ini bahkan di seluruh dunia, di zaman kapitalisme ini diskriminasi tidak bisa di hindari serta nyata ada di depan mata, sudah lumrah terjadi pembiaran asal mampu. menjunjung demokrasi dan menghormati diskriminasi. orang-orang yang menang dalam kompetisi akan mendapatkan semua hak istimewa, sedangkan sisanya akan mendapat perlakuan diskriminatif.

begitu pula jika seseorang mampu membayar maka akan mendapatkan hak istimewah.
jika tak mampu membayar akan mendapatkan perlakuan diskriminatif,

pelatanan publik milik pemerintah tentunya bukan lagi menjadi rahasia. mulai dari instansi pendidikan, kesehatan, sosial, bahkan instansi agama menjunjung diakriminatif. di instansi kesehatan pasien dengan menggunakan BPJS akan mendapat pelayanan yang berbeda, mulai dari jenis obat, antri berjam-jam, harus urus sana urus sini, perlakuan pegawai yang tidak mengenakan. berbeda bagi orang yang mampu membayar pribadi biyaya kesehatan. semua yanh di alami menengah kebawah bagai 180° berbedaanya. ini juga terjadi di dunia pendidikan.

lebih parahnya lagi instansi keagamaan menjalankan tradisi kapitalis ini. untuk orang yang berduit perlakuanya yang di berikan bak seorang raja, dua bulan yang lalau saya membaca sebuah berita seorang konsumen yang hendak membeli mobil secara cash di tolak di salah satu dealer hanya karena penampilanya yang tidak menunjukan sebagai orang kaya.

bukankah ini aturan dalam masyarakat, tak ada bedanya dimanapun. Hanya 1 dari 100 yang bisa mendapatkan hak istimewah ini

Kndaru




0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE