Ragil Ajeng Pratiwi / FISIP
Tangis riuh paduh terwujudkan dari sepasang kekasih yang sedang mengaduh perasaannya kepada Tuhan. Perempuan yang menutup sebagaian tubuhnya dengan kain panjang itu terlihat tak dapat membendung perasaannya. Dilihatlah kekasihnya bermata kaca, sembari lelakinya bermelas mengelus kening wanita malang itu diatas pangkungannya. sedikit pembicaraan lelakinya itu pada dirinya. Ia berkata "meskipun waktu memisahkan mereka, Tak akan rasa cinta itu terpisah karna tuhan juga ikut serta dalam percintaan suci itu," .
Panah waktu terus berdentum keras. Agaknya kali ini lebih terdengar karena kesunyian yang tercipta. Hingga pada detiknya terasa berat , terasa juga pada aliran darah yang semakin cepat menuju jantung. Tak dapat dihitung tetesan air mata kesedihan yang telah jatuh bertubi-tubi disajadah tempatnya meminta elus pada Tuhan pencipta kehidupan ini. Ciuman bibir yang bisa dibilang terakhir, karna belum tentu kembali bersentuhan menjadi tanda perpisahan itu terjadi. dentuman jantung mereka semakin tak menentu arah layak bom atom hirosima oleh kawanan sekutu. Dalam tubuhnya terasa tusukan tak nampak. Sakitnya luar biasa tak terucap setelah pak polisi yang mengawal lelaki milik wanita malang tersebut yang telah menjadi terdakwa. Iya... hukuman 15 tahun, yang ditetapkan oleh Hakim berkuasa.

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar