data-ad-format="auto"

DIALEKTIKA HUMANISME (Madzab SEMOLOWARU) 1


AWALNYA (BAGIAN PENDAHULUAN)

Oleh Achluddin Ibnu Rochim
FISIP Untag Surabaya

                

Meski tak tuntas, saya senang ketika mulai berangkat besar oleh Tuhan diberi kesempatan bertemu dengan banyak buku–buku yang semasa kecil tidak pernah saya bayangkan, bahkan mendengar nama tokoh pengarang atau judulnya saja, saya tidak pernah. Judul buku dan para pengarang besar yang ikut membangun kebesaran kota–kota dunia. Ada ‘Catatan Paris’, ada ‘German Ideologi’, ada ‘Madzab Frankfurt’, ada ‘Piagam Madina’, ada ‘Semangat Timur’, bahkan ada ‘Spirit Bandung’ dan ‘Utan Kayu’, pendeknya dari Yunani hingga Bukhara.
                Di Surabaya saya bersyukur diberi waktu emas ketika bertemu dengan kelompok anak–anak muda yang ‘tidak terima’, selalu gelisah, selalu berproses. Saya begitu kagum dengan ‘amarah fikir’ mereka. Di situ saya banyak menyimak, menerima, menimbang, membanding, kadangkala mengefront luapan banjir konsep–konsep mereka.
                Awalnya saya heran, mengapa di Surabaya ini terdapat begitu banyak penalar bertegangan tinggi tercecer di setiap ‘sudut’ kota. Di manakah ruang–ruang, gedung–gedung, rumah tempat anak–anak belajar? Yang saya temui mimbar mereka adalah tepian kali, majelis mereka di warung–warung kopi, kaki lima, bahkan emperan–emperan super building. Saya bertanya apakah fenomena beginian ini merupakan sesuatu yang ‘khas kota industri’, sebagai salah satu limbah kota di antara limbah yang sebenarnya?
                Karena awalnya itu pula, saya menjadi euforia ikut larut kesenangan dalam histeria marahnya pikiran, sebuah banjir besar, yang boleh saja dinamakan ‘Madzab Surabaya’. belajar dari awalnya itulah, hingga akhirnya saya menjadi mesin photo copy bagi para pendahulu saya. Teori–teori mereka menjadi cat aneka warna dalam pikiran ini. Seperti sebuah seni instalasi, saya kebingungan tak menemukan ujung pangkalnya, di mana bermula, mencabang, persimpangan, terminal dan berakhirnya. Dalam suasana chaos ide begini, adik–adik keburu dilepas dari gendongan ibu–ibu Surabaya, tentu saja nasib sial bakal menimpa sebagian adik yang berlari ke saya. Sebab sepikul pertanyaan surga mereka dan kesengsaraan ibunya tidak mungkin saya penuhi puasnya, yang bisa saya lakukan hanya mengulang lagi perkataan para bijak yang pernah mampir ke benak saya sebagai jawaban.
                Berawal dari pertemua dengan adik–adik ini, saya malih rupa menjadi orang sok tahu dan sok bisa, saya tak suka ini, dan apa daya, penthil susu ibunya barusan copot dari mulut mereka dan permintaan usia itu tidak boleh ditolak, seketika itu minta maka seketika itu harus ada, tidak ada musti diadakan. Dengan rasa sedikit malu saya gelarkan tikar, kemudian saya hidangkan secangkir kopi dan berjuta busa omong kosong, agar pertemuan ini layak disebut komunitas diskusi. Keren memang, kalau sudah menyandang nama ini, karena bisa saya pakai sebagai bahan jawaban ketika ditanya orang, aktivitasnya di mana mas? Oh, kenalkan nama saya philosopran dari komunitas diskusi filsafat kepleset!
                Buku saku dalam bentuk dialog ini adalah rekaman dari peristiwa pertemuan dengan berbagai macam arus pikiran di atas, banyak pertanyaan–pertanyaan yang saya sudah lupa bentuk kalimatnya. Saya tidak bisa klaim, bahwa pertanyaan dalam buku saku ini adalah pertanyaan saya. Dan saya juga tidak bisa klaim, bahwa 100 persen jawaban–jawaban dalam buku ini merupakan jawaban saya, sebab banyak sekali saya kutip secara habis–habisan pemikiran para tokoh pendahulu saya.
                Di sisi lain, saya ingin mengabadikan pertemuan itu dengan sebuah tulisan agar menjadi sejarah, sebab sejarah yang tidak dicatat akan menjadi dongeng, dan saya mau mengambil peran pembantu dalam dongeng, tak ada bakat! Akhirnya saya tulis dalam wujud buku saku ini dengan membuat emajineri pertanyaan–pertanyaan adik–adik saya, yang penting representatif. Dan salah satu diantaranya yang paling representatif dan berkesan adalah Adang Mulyono. Toh, selama ini inti dari segala pertanyaan anggota kelompok itu ditanyakan oleh nama yang saya sebut tadi.
                Akhirnya, saya ucapkan terimakasih kepada Tuhan yang mengadakan raga dan jiwa saya, kepada para penemu konsep yang saya taati, kepada orang tua yang menjadi faktor penyebab saya, kepada guru–guru yang sakit hatinya ditahan ketika saya masih bodoh dulu, kepada kawan–kawan yang telah menyerang dengan pertanyaan edan–edanan, kepada penemu kalimat klise berikut, "kepada semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini". Mudah–mudahan buku saku ini bisa menjadi sedikit pengisi waktu kosong ketika menunggu bis datang atau sang pacar, dari pada nganggur akan nampak kikuk di depan umum. Dan kurang lebihnya, saya minta maaf, terutama jika ini ternyata tetap tidak bisa menghibur anda.
   Terimakasih Wallohu almuafiq ila aqwamitthoriq, wassalamua’alaikum Wr. Wb.

01/09/2002
Kali Semolowaru, Surabaya

Achluddin IR

LANJUTAN

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE