Sarjana dalam hemat saya adalah ilmuan dalam suatu bidang. Ada sarjana teknik, sarjana psikologi, sarjana ekonomi dan sebagainya. Secara bahasa sarjana berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti "penciptaan". Dalam tugas akhir atau (skripsi) mahasiswa menciptakan suatu yang baru entah berupa pemahaman, gagasan, benda dan lain sebagainya.
Gelar sarjana di berikan oleh PT (perusahaan terbuka) yang dibagi menjadi dua. Maaf kesalahan, maksudnya PT adalah perguruan tinggi. Ada PT negeri ada PT swasta. Perbedaan keduanya dalam gelar sarjana adalah peluang kerja.
Ha...ha...ha... sarjana adalah ilmuan karena menciptakan, lalu kenapa dibedakan? Harusnya sarjana PT swasta dan PT negeri itu sama. Kita terkotak-kotak oleh pemahaman ini.
Sarjana merupakan gelar yang disandang oleh individu setelah di tempa selama bertahun-tahun di perguruan tinggi. Ingat bukan perusahaan terbuka.
400.000 lulusan sarjana S1 menganggur pada tahun 2015 (linkedin.com). Biaya kuliah sangat mahal kenapa masyarakat bahkan PT sendiri berorientasi pada pekerjaan?
Doktor Achluddin IR pernah menghunuskan pertanyaan dalam suatu forum (semoga akan lebih banyak dosen yang mau begadang menemani mahasiswa yang haus akan pengetahuan seperti beliau) "Kenapa kalian semua bersekolah?" Orang awam pasti menjawab untuk mendapat ilmu agar tidak bodoh, saya pun menjawab seperti itu, singkat cerita beliau melanjutkan pernyataanya. Banyak dari masyarakat menyuruh anaknya sekolah, hanya untuk gengsi, sekolah (sarjana) itu sudah menjadi tren atau gaya hidup dalam masyarakat. Akan jadi cemoohan jika orang tua tidak menguliahkan anaknya. Tak sekolah? "Apa kata calon mertua nanti?!"
Lalu siapa yang butuh ijazah? Mahasiswa, orang tua, atau perusahaan/industri dan sektor formal? Nyatanya yang lebih membutuhkan adalah perusahaan/industri untuk tujuan standarisasi dan tolok ukur, baik recruitment atau juga untuk mengklasifikasikan gaji kita. Lalu jika faktanya seperti ini kenapa justeru orang tua kita yang susah-payah menjual sawah, menjual ternak, menjual harta benda dan bekerja banting tulang untuk membiayai kuliah? Padahal yang membutuhkan ijazah sejatinya adalah perusahaan/industri, juga sektor formal dan bukannya orang tua kita? Mengapa bukan mereka yang mengeluarkan uang untuk biaya sekolah? Ini suatu pembodohan intelektual sekaligus proses pemiskinan jahat terhadap masyarakat.
Menutut hemat saya mendapat gelar sarjana untuk memberikan wawasan, pemahaman, ilmu, dan pengalaman-pengalaman untuk mempengaruhi persepsi dan sensasi kita sehingga dapat merubah reaksi individu (psikologi kognitif) di dalam lingkungan kita. Semakin berilmu dan berisi maka akan semakin menunduk, suatu filosofi yang sangat mendalam mengenai kehidupan
Awal mula pendidikan di Indonesia dibawa oleh Belanda untuk mendidik pribumi lalu mempekerjakanya di pabrik-pabrik miliknya. Dari sejarah berdirinya pendidikan tujuannya sudah salah kaprah. Untungnya masih ada pemuda yang sadar akan hal ini, sekarang kita kenal sebagai pahlawan nasional (founding Fathers)
Saya rasa semua perguruan tinggi melakukan praktik jual beli ijazah, di sadari atau tidak, kenyataanya seperti itu. Ijazah di butuhkan oleh Perusahaan dan rakyat berkorban untuk itu. (PT) Perguruan tinggi sudah berubah menjadi Perusahaan Terbuka (PT)
"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka
Kandaru

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar