data-ad-format="auto"

Sandiwara ""' Alam dan lingkungan




Oleh: ismail (hilang orang)


terik matahari, suara motor, 
asap  pabrik, limbah pabrik dan debu jalanan.
ditepian jalan, raut wajah yang masih tak percaya, zaman telah berubah.
diusia senja,  tubuh yang semakin menua, bersandar dipepohonan  tepi jalan.


Negeri yang asri dan sejuk hanya ada diingatan.
Udara panas bisa jadi hujan dalam sekejap!!
Bicara tentang alam bicara juga tentang kehidupan. Sebab kehidupan adalah alam.
Tak pelak PBB pun menaruh perhatian khusus mengenai alam dan sebagainya. Sebagai wadah internasionalisme, dari negara-negara yang ada di dunia PBB  sangat getol menyuarakan tentang lingkungan, baik dalam konferensi, seminar maupun didalam perkuliahan.


Di Indonesia pemerintah juga melakukan upaya normalisasi disektor lingkungan dan alam. Banyak anggaran yang dikeluarkan, oleh pemerintah maupun PBB dalam upayanya untuk normalisasi lingkungan dan alam.
Dikalangan bawah, mayarakat, pemuda dan intelektual juga melakukan upaya dengan tujuan normalisasi alam dan lingkungan .
Namun upaya yang sudah dilakukan terkesan sia-sia dan bahkan menghambur-menghamburkan uang.
Dilain sisi, mereka mencoba untuk melakuakan normalisasi alam dan lingkungan, namun exploitasi terhadap alam masih saja dilakukan?

Mereka yang menamakan pecinta lingkungan/alam sebagai pemain sandiwara kelas atas.
Tidak bisa dipungkiri, masyarakat lah yang jadi kambing hitam, mayoritas masyarakat menenga-kebawah adalah korban juga dijadikan tersangka, oleh sebab itu masyarakat dituntut untuk membayar keruskan alam yang terjadi, meskipun mereka tidak tau apa yang dan telah dilakukannya, sunguh miris melihat drama ini.

Alam sebagai sumber kehidupan jadi magnet yang cukup menarik dalam kehidupan masyarakat, Dengan begitu rakyat akan ter hegemoni, sebab masyarakat sebagai pihak yang merasa salah dan juga sebagai korban kerusakan alam. Dengan cara itu Mereka "pencinta lingkungan" (aktivis lingkungan) mencari popularitas dengan dalih normalisasi lingkungan,"politik pencitraan", namun masih membiarikan exploitasi besar-besaran terjadi.
Ada pula yang mencari makan dengan dalih perjuangan lingkungan, yang satu ini biasanya terjadi dikalangan aktivis kelas perut (aktivis nasi bungkus).

Di era modern pembahasan lingkungan/alam sangat menarik perhatian, temanku berkata bahwa lingkungan sudah menjadi satu madzhab tersendiri, khusunya dalam perjuangan Gender, mereka menyebutnya "Ecofeminisme", dengan doktrin perjuangan perempuan sama dengan lingkungan, bahkan dengan tegas mengatakan bahwa alam adalah perempuan. Dengan doktrin tersebut, perjuangan alam adalah manifestasi dari perjuangan gender.
Begitulah kira-kira yang dikatakan temanku dalam perbincangan kemarin.

Sesungguhnya aku tidak mempermasalahkan mengenai perjuangan lingkungan.  Dalam sudut pandangan subjektif ku, perjuangan lingkungan hanya akan menjadi semboyan suci, Sebab mereka yang mengatakan sebagai pejuang lingkungan dan sebagainya adalah dalang dan pemain sandiwara dalam kerusakan lingkungan itu sendiri.
Lantas siapa yang harusnya disalahkan dalam keruskan lingkungan dan alam ini?
Masyarakat, aktivis, pemerintah atau PBB?
Atau bahkan kerakusan dan ketamakan yang sifatnya abstrak itu yang disalahkan dan bertanggungjawab atas tragedi yang begitu mencekam ini?

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE