data-ad-format="auto"

Produk perguruan Tinggi sampah





Kandaru
Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya



Tanpa koneksi, ataupun tanpa relasi, output atau produk atau lulusan dari perguruan tinggi akan menjadi "sampah" kelak.
Birokrasi kampus, sesekali perlu di gedor, agar tak terlarut dalam gegap gempita masyarakat kurban industri, demi menjadi anthek kapital dalam pemenuhan tenaga kerja melulu. Semakin lama semakin ke sini, nampak bahwa ruang-ruang kelas di kampus bukan lagi menjadi laborat untuk menguji cara berfikir kritis mahasiswa.
Pengelola kampus, pun juga mayoritas mahasiswanya, telah terilusi oleh gelar sarjana, dan menjadikannya mitos bahkan assesoris sosial yang dianggap dapat membuat gemerlap status semata.
Mereka tidak ingat bahwa belajar di kampus tak boleh melupakan imajinasi radikal tentang perubahan. Sehingga menjadi mahasiswa bak aktivitas bekerja yang berbayar, bukan di bayar sebagaimana "BURUH"
Seolah gelar Sarjana hanyalah merupakan pemenuhan kebutuhan dasar sebagaimana teori Abraham Maslow memenuhi kebutuhan fisik (makan, sex dan tidur), ini menunjukan bahwa masih banyak mahasiwa yang berkutat dalam kebutuhan paling mendasar dari hidup (dan celakanya Gelar Sarjana dimasukkan dalam salah satu kebutuhan di sana).
Mahaiswa masih tergiring oleh opini publik bahwa seorang sarjana harus bisa bekerja di kantor, punya bawahan, memiliki rumah dan mobil. Sebagaimana semua kebutuhan fisik yang berada pada dasar dari teori motivnya Maslow. Akibatnya, untuk memenuhi semua itu akhirnya mahaiswa menggaji perguruan tinggi untuk mendapat selembar kertas berisikan "IJAZAH"
Bisa ditebak ujungnya, tak lain mahasiswa bak sekadar komoditi alias barang jualan bagi perguruan tinggi yang memiliki nilai tawar dan nilai jual dari almamater si mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa termasuk dalam generasi yang tertipu (deluded hybrids)
Mengapa demikian?
Sebab mahasiswa telah dijerumuskan oleh sistem kampus ke dalam dosa-dosa besarnya. Dan Dosa Besar Mahasiswa itu adalah:
1. Tidak suka membaca
2. Enggan berdiskusi
3. Malas bersosialisasi
4. Malas menulis

Sistem kampus sudah tidak lagi mewadahi kita. Di lain pihak diri kita sendiri juga malas untuk melakukan 4 pondasi dasar mahasiswa. Lantas, mau jadi apa kelak? Apakah hanya bermodal ijazah mu? lalu kikuk di lapangan? Semuanya berpulang pada pilihan yang mahasiwa sendiri pilih dan pegang. Entah pilihan yang dipengaruhi oleh kontrak sepihak tapi terpaksa disepakati sebelum mahasiswa masuk ke perguruan tinggi, atau mencari opsi sendiri demi Aufklarung, demi Renaissance, demi ngelmu.
Pada pihak lain tantangan dari negative spirit kampus juga menggerogoti pelan-pelan pada niatan mahasiswa yang sudah serius ingin mengelola dirinya sendiri dalam proses pencerdasan di luar runang-ruang kelas. Forum-forum diskusi mahasiswa dilirik sana-sini oleh para pejabat kampus dianggap sebagai perkumpulan perusuh (penyempitan area-area publik untuk diskusi dan pembatasan penerangan dengan alasan jam malam, mengindikasikan ini). Belum lagi opini dari kalangan mahasiswa POP (sampah) sendiri mengenai forum-forum macam ini yang selalu dipersepsikan sebagai keburukan. Diperparah lagi dengan watak Kampus yang lebih mengedepankan pembangunan infrastruktur dibanding pembangunan nalar mahaiswanya.
Opini mahasiswa digiring layaknya itik ternak oleh para dosen dalam setiap kesempatan. Kuliah atau kelas merupakan formalitas yang tidak boleh di tinggalkan, soal tersadarkan atau tidak, urusan nomor sekian. Kebutaan akan jati diri ini dimanfaatkan oleh beberapa kaum mahasiwa yang menyatakan berintelek tapi menanamkan doktrin serta menebar kebencian terhadap komunitas-komunitas lain.
Sistem pendidikan perguruan tinggi saat ini telah mengkebiri aktifitas mahasiswa dengan menyibukan para calon sarjana dengan tugas-tugas kuliah, sehingga membuat kebingungan dan kecanduan yang berdampak hilangnya pemahaman peran mahasiswa dalam masyarakat. Budaya intelektual tergantikan dengan budaya skeptis.
Jika sudah demikian adanya, apa layak jargon "Mahasiswa adalah agen perubahan masyarakat"? sedang Kampus sendiri saja belum becus mengubah mahasiswanya.

to be continu....

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE