Oleh: BAHTERA SAWO
(Taman Baca Sawo Kamis)
Sore menjelang malam, datang lagi, kegelapan. Ketidak jelasan akan semua hal sirna. Dan kejelasan akan semua hal pun lenyap begitu saja. Di bahtera yang telah usang, sisa-sisa dari masa silam. Secangkir kopi dan rokok, menghiasi meja. Tak ada yang istimewa lagi di tempat ini. Buku-buku yang bisanya tertata rapi di pelataran dan mahasiswa-mahasiswi yang berbondong-bondong kini telah menepi.
Tak terasa kini sudah saatnya, menginsafi segala sesuatu yang dilahirkan masa reformasi.
Reformasi Indonesia bagaikan renaisans Eropa, mungkin seperti itu.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masa renaisans Eropa telah merubah cara pandang baru dalam berkehidupan. Semangat Humanisme Renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan nilainya, berbeda dengan abad pertengahan di mana prasangka pada hakikatnya manusia penuh dengan dosa, Namun anggapan itu sirna, dan di zaman renaisans manusia dianggap sangat hebat dan berharga. Kaum Renaisans mengambil titik tolak dari diri manusia. Humanisme Renaisans lebih menekankan pada individualisme.
Selanjutnya gagasan mengenai individualisme mendorong pada pemujaan yang tak terkendali pada kecerdasan pikiran. Tak bisa dipungkiri Humanisme Renaisans membawa dampak yang amat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, bahkan mendorong manusia pada pengetahuan anatomi sampai di mana manusia berusaha membedah orang yang sudah mati, untuk mengetahui susunan tubuh itu sendiri. Dampak lain yang diakibatkan semangat Renaisans membuka pintu seksualitas dan pintu kebebasan. Pandangan baru mendorong suatu cara pandang yang baru. Manusia ada bukan semata-mata demi Tuhan. Oleh sebab itu manusia boleh bahagia dalam kehidupan nya di sini saat ini. Dan dengan kebebasan baru menjadikan manusia tak TERBATAS. Kini manusia melangar semua batasan.
Berangkat dari hal ihwal yang berbeda, Reformasi Indonesia memiliki kemiripan dengan zaman renaisans Eropa. Kemiripan yang bisa kita lihat dari semangat Renaisans dan reformasi yakni terletak pada penjebolan dinding-dinding pembatas dan menuju kebebasan. Dengan semangat kebebasan, demokrasi dan HAM. Telah merubah cara pandang baru dan cara hidup yang baru.
Pemujaan terhadap individualisme, telah menjadi bagian dari semangat reformasi. Tak pelak tujuan dari Renaisans dan reformasi mengerucut pada kepuasan dan kekuasaan duniawi.
Dengan semangat pembaharuannya, kini reformasi dan renaisans menemui titik ketidak jelasan dalam kehidupan. Kebebasan yang melampaui batas khas zaman renaisans juga terulang di reformasi. Semboyan kesucian manusia kini telah memakan manusia lainnya. Semboyan keadilan manusia telah mencederai manusia. Semboyan akan kesejahteraan malah menghasilkan kemelaratan.
Ketidak jelasan dari reformasi telah sampai pada titik di mana masyarakat mengalami masa sulit. Reformasi telah mendalangi terjadinya kesenjangan sosial. Bukan hanya itu Reformasi manjadikan cara pandang yang berbeda dan mendorongnya kecurigaan masal antar manusia.
Semangat individualisme mendorong pada siasat dan intrik-intrik kepentingan individu.
Meskipun perlu diakui bahwa semangat reformasi telah membuka mata kita kepada dunia.
Kini ketidakjelasan merambah ke kehidupan dan penghidupan, ketidakjelasan antar baik dan buruk, benar dan salah dan lain sebagainya.
Humanisme Renaisans dan reformasi yang dianggap sebagai pelita kini telah membakar tirai kehidupan pada persaingan dan hingga Krisis kepercayaan. Kebobrokan moral, sistem dan batasan kehidupan telah masuk pada jurang kehancuran.


https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar