data-ad-format="auto"

Dinamika politik kampus




GMNI Komisariat UNTAG Surabaya
(Diskusi juma'atan "DBR")



Dinamika politik kampus.

Tema yang terkesan kaku dan begitu menakutkan bagi orang awam. Atau bahkan menjadi ancaman bagi mereka para pemegang kekuasaan baik di kalangan struktural universitas maupun mahasiswa.Namun perlu diketahui pembahasan kali ini bukan bermaksud untuk melakukan satu pembentukan gerakan perlawanan atau Machtsvorming dan machtsaanwending. Pembahasan dinamika politik dilingkungan kampus, khususnya mahasiswa adalah satu bentuk perluasan wawasan dan pengetahuan mengenai dinamika dilingkungan mahasiswa.
Sebelumnya kami minta maaf, jika kajian kali ini ada pihak-pihak yang tersinggung.
Dinamika atau dalam bahasa Inggris "Dynamics" awalnya dikenal sebagai salah satu ilmu alam yang mempelajari tentang gerak dan gaya penyebabnya. Ilmu ini diketemukan pertama kali oleh Galileo. Menurut Galileo, bila sebuah benda dibiarkan sendiri, maka akan bergerak lurus beraturan dan akan berhenti pada suatu titik, jika terdapat gaya lain yang menghentikannya. Pernyataan ini dikenal sebagai prinsip Galileo, yang secara kuantitatif dirumuskan oleh Sir Isaac Newton. Kemudian seiring perkembangan zaman, kata dinamika banyak dipakai untuk menggambarkan sebuah fenomena dalam ranah ilmu sosial dan humaniora. Apabila dipandang dari perspektif ilmu sosial dinamika berarti perubahan, dan dalam konteks dinamika social, juga berarti perubahan sosial. Menurut Kingsley Davis, dinamika sosial adalah perubahan yang terjadi di dalam struktur dan fungsi masyarakat Dan menurut Samuel Koenig, dinamika sosial adalah modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan manusia Berdasarkan kedua definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan dinamika sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat yang ditimbulkan oleh modifikasi-modifikasi di dalamya. Sedangkan pengertian dari dinamika sendiri adalah perubahan baik secara cepat maupun perlahan dari sebuah susunan struktur dan fungsi dalam sebuah masyarakat.
Sedangkan Menurut kamus besar bahasa Indonesia dalam arti sosial yakni gerakan masyarakat secara terus-menerus yang menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan.
Sedangkan politik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “Politeia”, yang akar katanya adalah polis dan teia. Kata polis ini memiliki arti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri. Adapun kata teia memiliki arti urusan. Maka, kata politik bisa diartikan sebagai urusan kehidupan.
Dalam bahasa Inggris, politics adalah suatu rangkaian asas atau prinsip, keadaan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu.Harold Laswell mengemukakan bahwa politik membahas tentang masalah apa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Willem Zeven Berger berpendapat bahwa politik dihubungkan dengan dua hal, yaitu seni (kunst) dan ilmu (wetwens cahp). Prof. Miriam Budiarjo berpendapat bahwa politik merupakan bermacam-macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan pelaksanaan tujuan itu. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan masyarakat dan bukan tujuan pribadi seseorang. Selain itu, politik juga menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik dan kegiatan perorangan. Joyce Mitchel menyatakan bahwa politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau perbuatan kebijaksanaan untuk masyarakat atau melalui cara umum. Karl W. Duetch menyatakan bahwa politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum.Sedangkan kampus menurut kamus besar bahasa Indonesia memili arti lingkungan bangunan universitas tempat semua kegiatan belajar mengajar serta administrasinya. Dari konsep tersebut kita jadikan satu dasar dalam kajian malam ini. Namun Perlu diketahui bahwa kajian mengenai dinamika politik kampus tidak di fokuskan pada konsep-konsep di atas.

Dalam perkembanganya, kampus telah menjadi faktor utama dalam berkehidupan dimasyarakat atau negara. Seiring berjalannya waktu Dinamika dalam kehidupan kampus terus-menerus ber evolusi. Evolusi kehidupan kampus dipengaruhi oleh masyarakat kampus yakni sistem, pelaksana universitas, dosen, mahasiswa. Tak bisa dipungkiri dinamika kampus sering juga dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang ada di universitas, salain itu dinamika kampus juga dipengaruhi oleh budaya dilingkungan masyarakat global. Namun jika kita amati, telah terjadi pergeseran orientasi dalam dunia kampus. Dan pergeseran tersebut terjadi secara dinamis.
Sering kita menerima informasi baik dalam buku sejarah maupun yang lainnya, Pada masa sebelum kemerdekaan orientasi kampus yakni untuk mendidik mahasiswa "masyarakat pribumi" untuk dimanfaatkan dalam kepentingan kolonial. Namun proses pembelajaran dan pengajaran dan bertambahnya pengetahuan mahasiswa saat itu, menjadi titik balik perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda, yang dimotori oleh para tokoh-tokoh intelektual saat itu, hatta, syahrir, Soekarno, dkk.Perjalanan mahasiswa sebagai masyarakat kampus tidak berhenti, pada tahun 1966 dinamika politik yang terjadi di masyarakat kampus melahirkan satu gerakan bersama dalam penurunan rezim Orde lama, pada tahun 1998 terjadi penurunan orde baru yang dikenal dengan semboyan reformasinya.
Dalam berbagai pergesekan didalam kampus yang begitu dinamis, telah melahirkan sejarahnya. Meskipun dalam setiap pristiwa tersebut mengalami pro dan kontra.
Pasca reformasi kini masyarakat kampus memiliki tantangan yang begitu dinamis sesuai dengan zamannya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap zaman memiliki masanya Dan setiap masa memiliki zamanya.
Dalam pergulatan informasi, tradisi dan budaya yang semakin dinamis telah merubah wajah masyarakat kampus. Seiring dengan kebebasan dan keluasan informasi yang masuk, turut mempengaruhi orientasi dari masyarakat kampus.  pasca reformasi, yang mendasarkan pada kebebasan, dan semakin bertumbuh nya ekonomi dibidang industri menjadi faktor utama dalam dinamika dimasyarakat kampus.
Sebab Tuntutan zaman yang mengharuskan masyarakat, memiliki gelar di tingkatan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan yang dianggap lebih mapan telah Membuat masyarakat, berbondong-bondong masuk kedalam perguruan tinggi. Dan perkembangan itu diiringi dengan tumbuhnya kampus-kampus didaerah-daerah. Selain itu semakin mudahnya sistem filterisasi untuk masuk perguruan tinggi menjadi jalan bagi mereka yang membutuhkan gelar-gelar untuk meningkatkan karir dan atau mendapatkan pekerjaan yang mapan. Selain itu faktor penilaian angka-angka telah menjadi rujukan bagi mereka untuk melihat kualitas dari mahasiswa juga mempengaruhi orientasi mahasiswa. dari indikasi faktor-faktor yang begitu gamblang diatas, maka wajar jika kemudian mempengaruhi orientasi mahasiswa.
Melihat orientasi mahasiswa yang seperti ini, maka dapat kita lihat dalam realitas kehidupan di kampus, banyaknya mahasiswa yang begitu sangsi dan engan untuk mengenal yang namanya politik dilingkungan kampus. Dinamika kampus yang cendrung lebih tenang, menjadi titik dimana para pelaku perpolitikan kampus seenaknya memanfaatkan posisi yang potensial untuk meningkatkan eksistensi dan tak jarang mereka harus menghilangkan sifat kritis khas kaum intelektual, dalam menyikapi hal-hal yang bersifat keblinger yang terjadi dalam sistem masyarakat kampus.Terkadang para pelaku politik kampus memanfaatkan moment ''aji mumpung" untuk menaikan level dan jaringan untuk kepentingan pribadi, meskipun mengunakan uang mahasiswa, mereka dengan bangga membusungkan dadanya.Sikap-sikap elitis para pelaku politik kampus tak bisa dipungkiri menjadi satu candu dikalangan mereka.
Di zaman yang begitu mengagung-agungkan kebebasan dan intelektualitas, diam-diam mengalami kebuntuan. Dan pergolakan yang sangat serius, kekacauan fikir dan nurani telah membawa pada tindakan-tindakan yang begitu menjijikan. mereka yang duduk di sistem mulut nya telah terkunci, akalnya telah mati, nuraninya rusak, matanya telah buta dan telinganya telah tuli bahkan urat kemaluannya sudah lenyap.
Kepentingan pribadi telah menjadi prioritas utama, mengalahkan kepentingan pendidikan dan pengajaran. Sistem yang dibuat hanya dijadikan alat pemuas kepentingan. Dinamika politik kampus yang telah mengalami masa krisis dan berada pada titik nadir. Hanya bisa berharap pada dosen yang masih memiliki spiritualitas ilmu dan kesalehan sosial serta pada mereka para mahasiswa yang masih siuman dari racun yang akan dan telah menidurkannya. mereka yang ada disistem adalah orang yang masih mementingkan kepentingan pribadi. Sudah saatnya masyarakat kampus yang mayoritas tidak masuk dalam sistem, bergandeng tangan dan membentuk komunitas-komunitas maupun wadah-wadah yang independen yang tidak terpengaruh oleh sistem yang bobrok, dan membangun satu kekuatan baru dalam uapaya pencerdasan berfikir dan nurani.

0 wicara:

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE