Ragil Ajeng Pratiwi
FISIP Untag
Malam ini memang ada yang berbeda dari sebelumnya, ketika ruang rindu memang tatkala jauh lebih lebar dari sebuah akal logika. Pernah merasakan rindu pada suatu hal yang sudah "klik" ? memang sedikit menggelikan bila lembaran pena ini harus menjadi pelarian akhir dari ujung rindu itu sendiri. Bukankah bisa rindu kita gambarkan dalam bentuk variabel kata agar si yang dirindukan itu merasa paham? Oh tidak lagi-lagi akal berbentrok dengan rindu yang kalang kabut itu. Si perindu merasa terlalu cengeng bila bentuk ungkapan rindu bisa disampaikan pada variabel kata yang medianya disampaikan secara lisan. Namun, ada hal yang menarik dari rindu, bila setiap jengkalan jarak dan komunikasi tiada bertemu. Maka doa akan selalu tumbuh layaknya cinta yang akan bersemi. Biarkan yang dirindu berkembang dengan kuat bahwa harinya indah adalah salah satu harapan doa yang diberikan perindu. Salam rinduku, lelaki manisku.

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar