data-ad-format="auto"

=Yaa Dzal Wabal=



Berikut adalah ukara pambuka yang disampaikan Cak Nun pada Kenduri Cinta “Gerbang Wabal”--15 Januari 2016:



Keniscayaan pada manusia pada akhirnya hanya bisa mengeluh kepada Allah. Berdasarkan penderitaan yang sangat panjang, yang para penderitanya sendiri tidak sanggup mengatasinya, berdasarkan tiadanya pilihan selain memohon cinta dan kemurahan Alloh, berdasarkan kadar berbelit belitnya permasalahan yang tingkat ilmu manusia tidak sanggup menyelesaikannya.
Doa ini dihaturkan dengan memohon agar Allah bertindak sepadan kepada siapapun saja: individu, suatu golongan atau kaum yang merupakan sumber terbangunnya kegelapan, kedholiman dan kerusakan-kerusakan dalam kehidupan umat manusia atau suatu bangsa yang memenjarakan manusia manusia lainnya di dalam ketidakberdayaan, kebingungan, dan penderitaan yang berkepanjangan.
Doa ini disusun atas dasar kerinduan yang sangat mendalam dan panjang kepada tindakan tegas dan nyata dari keadilan Allah Yang Maha Membalas kedholiman-kedholiman . Siapapun yang mengendalikan keadaan zaman, kedholiman-kedholiman yang mengakibatkan perusakan dan kerusakan manusia atau suatu bangsa, penggelapan dan kegelapan, pembodohan dan kebodohan, penipuan dan ketertipuan, pemiskinan dan kemiskinan serta pemunafikan dan kemunafikan .
Doa ini dihaturkan dengan sikap rebah-pasrah dihadapan Allah SWT agar menurunkan kuasanya ke bumi, agar jika bagiNya yang terbaik adalah kehancuran atau kematian atas kaum perusak kehidupan itu maka Allah SWT akan mewujudkan kematian itu. Serta apabila bagiNya yang terbaik adalah kelahiran dan kebangkitan para pejuang dan penyetianya , maka Allah akan mewujudkan kebangkitan-kebangkitan anak-anakku itu .
Akan tetapi doa ini dihaturkan kepada Allah tidak dengan menyertakan amarah, tidak dengan kebencian dan dendam. Melainkan dilantunkan dengan persembahan iman kepada Allah , kenikmatan memperjuangkan tauhid kepadaNya , serta cinta dan penghormatan kepada nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya.
Doa ini disusun tidak dari sikap merasa benar dan suci--oleh dan atas diri penyusunnya. Melainkan merupakan ungkapan kerinduan dan permohonan yang mendalam agar jika kaum perusak kehidupan di negeri ini dan penyebar penderitaan di Nusantara ini menolak hidayah, maka Allah SWT memisahkan mereka dari kaum penyetia Allah, dan menjauhkan mereka dari kehidupan yang dirahmatiNya.
Doa ini dipegang teguh dan diamalkan oleh hamba Allah yang meyakini keadilan dan kasih sayangNya . Kepada siapapun yang senantiasa menjaga kebersihan tauhidnya dari amarah dan benci. Doa ini berasal tidak dari kekuatan dan kebesaran, melainkan dari kelemahan dan ketidakberdayaan . Serta dihaturkan dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah Yg Maha Berhak atas--dan untuk menentukan--kematian atau kelahiran, kehancuran atau kebangkitan serta kemusnahan atau kelestarian atas siapa dan apa saja yang dimata keadilan Allah layak untuk mendapatkan itu semua.
Semoga para penghatur doa ini pada malam hari ini dianugerahi oleh Allah ridho dan rahmah . Kehdupan dan maslahah. Waktu yang cukup, peluang yang terbuka, bekal yang memadai serta kelapangan perjalanan dan keteguhan perjuangan.
Semoga Allah SWT memperkenankan dan membimbing para penyetianya yang duduk santun pada malam hari ini. Di dalam memperjuangkan pengikisan atas segala perusakan, serta memperbaiki keadaan dan memperteguh kebangkitan-kebangkitan yang segera akan Allah wujudkan. Aamin ya robbal alamin

3 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...

Itu kan cara pandang 'bambang we..edan' yang skolastik, tentu saja ngomongnya begitu. Coba jika yang ngomong Tan Malaka, tentu lain perspektifnya. Barang daur ulang kok diloundry toh ya.

Stefanus Arie mengatakan...

Iya ya, orang sekuler gak gitu. Doanya ya kerja itu sendiri.

Stefanus Arie mengatakan...

Iya ya, orang sekuler gak gitu. Doanya ya kerja itu sendiri.

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE