Oleh: Dewi Ratna (F..sikologi)
Tertidur diantara kertas-kertas yang berserakan.
Sejenak kuingat tokoh-tokoh yang berusaha kuhidupkan lewat imaji. mereka sibuk berbicara bagaimana aku harus menentukan alurnya dan menemukan ending yang kurasa harus "pas"!
Terjaga tengah malam, membuatku sadar satu hal : tak ubahnya penulis adalah Tuhan dalam cerita fiktifnya, sutradara kehidupan?
Mungkin inilah hidup,? ketika kita dipilih untuk hidup! kita tetap harus melaluinya dengan cara kita masing-masing. berusaha menentukan alur untuk menemui sebuah akhir bahagia dalam kehidupan.
Tapi, kita tak ubahnya hanyalah tokoh-tokoh yang sibuk berbicara dalam kepala. Dan hanya sedikit penulis yang akan mengakhiri ceritanya dengan ketidak bahagiaan.
Disini tidakkah kau paham?
Tuhan akan mengakhiri cerita hidupmu!
Sejenak kuingat tokoh-tokoh yang berusaha kuhidupkan lewat imaji. mereka sibuk berbicara bagaimana aku harus menentukan alurnya dan menemukan ending yang kurasa harus "pas"!
Terjaga tengah malam, membuatku sadar satu hal : tak ubahnya penulis adalah Tuhan dalam cerita fiktifnya, sutradara kehidupan?
Mungkin inilah hidup,? ketika kita dipilih untuk hidup! kita tetap harus melaluinya dengan cara kita masing-masing. berusaha menentukan alur untuk menemui sebuah akhir bahagia dalam kehidupan.
Tapi, kita tak ubahnya hanyalah tokoh-tokoh yang sibuk berbicara dalam kepala. Dan hanya sedikit penulis yang akan mengakhiri ceritanya dengan ketidak bahagiaan.
Disini tidakkah kau paham?
Tuhan akan mengakhiri cerita hidupmu!
yakinlah menjadikanmu BAHAGIA bukanlah hal sulit bagi-Nya 


https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
5 wicara:
Wah nampaknya sama dengan saya: penyuKa aliran Jabariyah. (colek nanik) pesantrenisme skolastik hehe
Kun fayakun....:-)
N inilah kehendak tuhan.
Hhahahha aq aliran sungai jagir...
Posting Komentar