data-ad-format="auto"

KORBAN MODERENISASi

Oleh Hasan Ismail


Menanti hari, gemericik air sungai, merona warna senja, bercengkrama bersama alam. Kawan kecil menghampiri. "Ham" biasanya dia dipangil.

Hamparan tanah yang tersisa, padi-padi yang baru ditanam menemani obrolan.
Lama tak jumpa dengannya. Serasa masih sama dengan yang dulu, Ham yang "jangkung, kurus, terbata-bata dalam bicara, dan selalu tertawa" . Pasca lulus SMA/SMK baru berjumpa lagi hari ini.

Kampung ini mengingatkan ku pada beberpa kawan seangkatan ketika masih di sekolah dasar, sebut saja Ham, Wahyu, Agung, Devi, Olif, Nurul, Muffa, Ayuk, Bashit, Badholi, Didit, Toing, Adi, Anam, Injing, Lina, Hamdan, Yudi, Rozi, Imam, Ali bathin, Desi, dan Fani.
Bersama mereka kami bermain dan bercanda gurau bersama alam. Tak bisa dipungkiri tangis pun biasa kami dengar diantra sekrumunan generasi yang dilahirkan antara 1992-1994.

Tahun 2011, setelah lulus dari SMA/SMK sederajat, jalan hidup harus memisahkan generasi ini. Ada yang memilih untuk keluar dari kampung halaman untuk mengadu nasib kekota, ada pula yang keluar pulau bahkan sampai keluar negeri, ada pula yang masih bertahan dikampung.
Ada yang melanjutkan studi "kuliah", ada yang kerja, ada pula yang menikah.

Sepeninggalan kami, kampung pun teramat sepi. Hanya menyisakan beberapa pemudi, yang memilih untuk menikah diusia dini.
Kami kebanyakan menganggap bahwa harus ada sebuah loncatan untuk melanjutkan cerita hidup, maka kebanyakan dari kami memilih keluar dari kampung tercinta.

Sebut saja Ham yang memutuskan untuk merantau  keluar negeri
untuk mengadu nasib dan Ham pun meninggalkan kampung halaman. Begitupun dengan saya yang harus merantau keluar kota.

Senja pun mulai menghilang bersama sang surya, malam pun mulai tiba. Kami melanjutkan obrolan sambil berjalan menuju rumah. Kampung yang dulu masih asri dan masih banyak sawah dan tempat permainan yang bisa dimainkan oleh anak-anak kecil bersama alam, mengelilingi ingatanku.
Atas nama pembangunan dan kemajuan sawah, - sawah pun jadi korban pembangunan. Atas nama kebutuhan, warga pun merelakan aset dan sumber penghidupanya untuk dijual. Bangunan-bagunan pun kini menjulang tinggi diantara rumah - rumah warga kampung. Lapangan tempat bermain pun jadi saksi bisu. Kehampaan pun terjadi. Anak - anak kecil kini disibukan dengan alat-alat moderenisasi dan tak lagi mau bersahabat dengan alam.

Ahhh pembangunan, moderenisasi dan semboyan - semboyan kemajuan. Alam ku pun jadi korban. Banyak warga yang kehilangan mata sumber pangan, bank pun masuk sebagai pahlawan bertopeng kepentingan. Anak-anak pun lupa dengan alamnya.
Apakah hasil yang seperti ini yang disebut pembangunan, moderenisasi dan kemajuan??

Hatipun murka atas ini semua. Ini salah siapa?
Generasi kami pun harusnya malu atas semuanya yang terjadi.

Semboyan  kemajuan pun telah memakan alam dan generasi baru.
Esok kemajuan akan memakan apalagi sebagai tumbal kerakusannya??

4 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Cafepena mengatakan...

Timur masih tetutup kabut

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Cafepena mengatakan...

Hahahaa. Bojonegero iku ejahan nya gitu..

 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE