data-ad-format="auto"

TERLANJUR HARI IBU

/

















Oleh Muhammad Hafid

Ngomonge " Happy mother day", tapi pas mama minta pulsa gak ada yang ngirim pulsa. Dasar anak durhaka. hehehe

Status dari media sosial ini menggelitik saya untuk melakukan lagi tradisi coret-mencoret di kertas. Entah bagaimana tulisan itu menginspirasi saya untuk menuliskan moment yang sudah terlanjur disebut sebagai hari ibu.

Terhitung sejak jam 12 malam lewat tadi, ucapan mengenai perayaan ini mulai berseliweran di media sosial. Tak tahu kenapa aku pun merasakan kerisauan. Entah karena efek setelah diskusi tentang injeksi media terhadap pemikiran pemuda atau hal lain. Aku tak tahu. Aku cuma bisa berharap agar para pemuda - utamanya perempuan - mampu menginterpretasikan dekrit presiden no. 316 tahun 1959 ini dengan baik.

Misalnya dengan mengingat kembali bagaimana, atau kenapa, bahkan apa yang membuat tanggal 22 Desember ini ditetapkan menjadi hari ibu. Dalam dekrit yang dibuat oleh bung Karno tersebut juga terdapat himbauan agar momen ini dirayakan secara nasional.

Konsep yang diprakarsai oleh Nyi Hajar Dewantara, Nyi Soeyatin, dan R.A Soekonto yang terjadi pada tanggal dan bulan yang sama di tahu 1928, yang lebih dikenal sebagai kongres pertama perempuan Indonesia yang dilaksanakan di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta mempunyai tujuan untuk menyatukan perempuan Indonesia dan mendukung perjuangan menuju perbaikan nasib perempuan.

Dari sana, tentu kita bisa sedikit melihat betapa tidak apatisnya perempuan muda saat itu yang tergabung dari 30-an organisasi di Jawa dan Sumatra. Jiwa kepedulian masih merekat pada diri mereka.

Melihat gambaran di atas, akhirnya perlahan kita menyadari bahwa perayaan yang terlanjur disebut sebagai hari ibu ini nampak direfleksikan sangat jauh berbeda . Entah karena brandingnnya sebagai "hari ibu", atau karena generasi penerus memang sudah tidak mau lagi menoleh ke masa lalu.
"Jangan-jangan mereka takut dibilang susah move on". Begitu kata teman saya sambil menghisap kembali rokok di tangannya.
"Sudahlah, show must go on", teman perempuan menimpali sambil cekikian.

Ya, show must go on sih show must go on, tapi show seperti inikah yang akan terus berlanjut? 

Dominasi perempuan muda tak terlihat di organisasi-organisasi, sehingga sebagian besar mereka tak mengenal lingkaran diskusi yang membicarakan hal ini. Opininya mudah digiring kesana kemari. Pemikirannya telah "digagahi" oleh media. Menjadi objek pelampiasan nafsu dari industri, hingga cara berpikirnya disesuaikan dengan  kebutuhan pasar. Bicara kesejahteraan pun harus diukur dengan nilai rupiah, bukan lagi tentreme ati.

Padahal, orang-orang Jawa jaman dulu pernah bilang "nggayuh tentreme ati sebo ing ngarsane Gusti".

Yang membuat saya semakin gak karuan, ketika saya membaca koran pagi. Di sana terpampang gambar artis perempuan idola teman saya (Arie) dengan pose sexynya yang diberi judul "Cukup 25 juta untuk pakai jasa saya, 7 juta bayar di muka alias DP, pelunasan saat di kamar" seolah sedang mempromosikan diri.

Weleeehhhh, opo-opoan maneh iki?
Ayo wes Pak Joko wow ndang diganti iku nama yang terlanjur hari ibu itu!

Piye iki, kok salah kedaden?
Dimana iki kaum intelektual??

1 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE