Oleh Hasan Ismail
Siang belum berganti sore, langit terlihat cerah, sesekali awan berjalan menemani sang surya menyapa dunia.
Mata baru saja terbuka. Sudah beberapa hari ini, ku baringkan tubuh lelahku dikampus.
Entah apa yang terjadi pada diri ini, hinga akhir" ini jarang pulang kekost. hal yang seperti ini bukan yang pertama terjadi pada diri ini. Aku keluar dari ruangan tempat tubuhku berbaring, "ruang pojok gedung graha wiyata L201". Aku duduk tertunduk di depan perpustkaan. Wajah lusuh, kesadaran belum sepenuhnya menyatu dengan raga ini. Sejenak memoriku memangil ingatan peristiwa dua tahun lalu, kala diri ini bersama dua kawan se-organisasi yang tidur di satu ruang, satu lantai, dan satu atap. Ruang L201. Disini kami menikmati seluruh kesederhanaan yang terbalut senyum manis dari kelaparan yang mendera. Menahan lapar adalah kebisaan kami. Bercanda, tawa, dan mengigil kedinginan tatkala musim hujan datang, menghiasi dinding - dinding kepiluan.
Setiap malam, obrolan pun menghangatkan suasana dingin dimusim hujan. "Ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan yang terbalut dalam nuansa idiologi", jadi santapan malam kami, sesekali perut mngerutu menyuarakan suara - suara laparnya. Diskusi semakin malam semakin mejadi-jadi. Namun rasa lapar itu semakin lama semakin tergerus oleh asiknya obrolan. Sang waktu pun tak mampu menghentikan obrolan kami.
Sesakali kami terlihat seperti para pngamat sosial, politik, dan ekonomi jempolan.
Dialektika dalam argumentasi pun tak mampu kami hindari. Terkadang diri tertawa sendiri atas ketidak tahuan tetang wawasan cakrawala pengetahuan yang kami miliki. Meski begitu, kami tak pernah mau mengalah dalam penyapaian gagasan.
Heemmm seru, gokil,.....
Dua tahun yang lalu, kami sama-sama masih dibangku kuliah awal, yang minim pengetahuan dan tak tahu menahu apa itu politik dan sebagainya. Chak dilatarbelakangi lulusan SMK TKJ, chuk "SMK multimedia" dam jhuk "SMA IPA". Meskipun kami sama-sama tidak memiliki latar belakang pendidikan sosial dsb. Namun, "Politik, ekonomi, dan lain sebagaianya" pun menjadi santapan makan malam kami bertiga. Hanya kondisi realita sempit dan sedikit campuran pemahaman idiologi marhaenisme menjadi pondasi dan dasar kami dalam berbicara!!
Tak kenal petang, tak kenal lapar, dan tak kenal akan kemewahan adalah kehidupan kami.
Sang surya terus bergerak kearah barat, dan tak ada satupun orang yang mampu mencegah sang surya untuk pergi dari mata ini. Aku pun terbangun dari dudukku. Di bawah gedung graha wiyata, terdengar suara-suara dari kawan yang lagi berlatih, "unit kegaiatan mahasiswa pencak silat dan tari". Aku pun perlahan-lahan menuruni tangga, lantunan suara mereka, nyaring dan menghentak jatung harapan. Mataku pun terperangah saat melihat gerak-gerik dan liukan tumbuh mereka dangan wajah yang atusias dalam berlatih.
Aku menghela nafas, dan hanya diam berdiri dipojok kanan tangga.
Seraya, bibir ini berkata "jadikan apa yang kau lakukan untuk yang kau inginkan."
Siang belum berganti sore, langit terlihat cerah, sesekali awan berjalan menemani sang surya menyapa dunia.
Mata baru saja terbuka. Sudah beberapa hari ini, ku baringkan tubuh lelahku dikampus.
Entah apa yang terjadi pada diri ini, hinga akhir" ini jarang pulang kekost. hal yang seperti ini bukan yang pertama terjadi pada diri ini. Aku keluar dari ruangan tempat tubuhku berbaring, "ruang pojok gedung graha wiyata L201". Aku duduk tertunduk di depan perpustkaan. Wajah lusuh, kesadaran belum sepenuhnya menyatu dengan raga ini. Sejenak memoriku memangil ingatan peristiwa dua tahun lalu, kala diri ini bersama dua kawan se-organisasi yang tidur di satu ruang, satu lantai, dan satu atap. Ruang L201. Disini kami menikmati seluruh kesederhanaan yang terbalut senyum manis dari kelaparan yang mendera. Menahan lapar adalah kebisaan kami. Bercanda, tawa, dan mengigil kedinginan tatkala musim hujan datang, menghiasi dinding - dinding kepiluan.
Setiap malam, obrolan pun menghangatkan suasana dingin dimusim hujan. "Ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan yang terbalut dalam nuansa idiologi", jadi santapan malam kami, sesekali perut mngerutu menyuarakan suara - suara laparnya. Diskusi semakin malam semakin mejadi-jadi. Namun rasa lapar itu semakin lama semakin tergerus oleh asiknya obrolan. Sang waktu pun tak mampu menghentikan obrolan kami.
Sesakali kami terlihat seperti para pngamat sosial, politik, dan ekonomi jempolan.
Dialektika dalam argumentasi pun tak mampu kami hindari. Terkadang diri tertawa sendiri atas ketidak tahuan tetang wawasan cakrawala pengetahuan yang kami miliki. Meski begitu, kami tak pernah mau mengalah dalam penyapaian gagasan.
Heemmm seru, gokil,.....
Dua tahun yang lalu, kami sama-sama masih dibangku kuliah awal, yang minim pengetahuan dan tak tahu menahu apa itu politik dan sebagainya. Chak dilatarbelakangi lulusan SMK TKJ, chuk "SMK multimedia" dam jhuk "SMA IPA". Meskipun kami sama-sama tidak memiliki latar belakang pendidikan sosial dsb. Namun, "Politik, ekonomi, dan lain sebagaianya" pun menjadi santapan makan malam kami bertiga. Hanya kondisi realita sempit dan sedikit campuran pemahaman idiologi marhaenisme menjadi pondasi dan dasar kami dalam berbicara!!
Tak kenal petang, tak kenal lapar, dan tak kenal akan kemewahan adalah kehidupan kami.
Sang surya terus bergerak kearah barat, dan tak ada satupun orang yang mampu mencegah sang surya untuk pergi dari mata ini. Aku pun terbangun dari dudukku. Di bawah gedung graha wiyata, terdengar suara-suara dari kawan yang lagi berlatih, "unit kegaiatan mahasiswa pencak silat dan tari". Aku pun perlahan-lahan menuruni tangga, lantunan suara mereka, nyaring dan menghentak jatung harapan. Mataku pun terperangah saat melihat gerak-gerik dan liukan tumbuh mereka dangan wajah yang atusias dalam berlatih.
Aku menghela nafas, dan hanya diam berdiri dipojok kanan tangga.
Seraya, bibir ini berkata "jadikan apa yang kau lakukan untuk yang kau inginkan."

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
4 wicara:
Aamiien semoga terwujud mas mail
Amiin.... :)
Ahai....
Posting Komentar