data-ad-format="auto"

Kangenku

Oleh Stefanus Arie


Adakah yang lebih membunuh dari kangen yang tak sampai?

Terajam batu, tapi setetes darahpun tak cucur
Bach cukup pandai memainkan Largo-nya
Melarutku dalam melodi yang berlarat-larat

Berdirilah dengan satu kaki seperti bangau, katamu
Tapi itu tak cukup menuntaskan kangenku padamu
Bukankah puncak kangen paling ilahi adalah ketika tak saling bersua, tapi diam-diam saling mendoakan?

Berdenyutlah, karena jarak kita sedekat sunyi pada sepi di nadiku
Bernafaslah, karena aku ada di tiap dengus yang terpompa
Bergumuruhlah, karena gemuruh suaramu lebih lantang dari hujan manapun

Cemara meranggas daunnya di Desember
Angin masih setia menggodaku tuk bersua
Menulislah puisi, katamu lagi, supaya kelak kangenmu memiliki tuan
Tapi tak satupun puisi tuntas kutulis
Bagaimana bisa ku tulis puisi, jika puisi itu adalah kamu

Ah, melankoli lagi…

6 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ragil Ajeng Pratiwi mengatakan...

Menyampaikan kangen aja susah ya pak didin....

Ragil Ajeng Pratiwi mengatakan...

Menyampaikan kangen aja susah ya pak didin....

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Stefanus Arie mengatakan...

Pak, bukankah meretas kangen dengan puisi merupakan bentuk paling purba? Hehehe gak punya pulsa padahal

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE