Di waktu pagi selalu ada perdebabatan antara seorang ibu dan anaknya. Ibu itu kerasnya layak batu yang tak mampu dipecahkan palu atau bahkan alat pemecah khusus batu sekaligus. Ia selalu beragumen benar dengan setiap kata-kata pedas yang ia keluarkan, bila anaknya tak mampu padamkan api dihatinya. Ia juga bagaikan momok yang menakutkan dengan asap mengepul dikedua telinganya seperti kereta api yang hendak berangkat untuk mengantar penumpangnya. tapi ada yang menarik, dari seorang ibu, ia selalu membawa kedua sayapnya meskipun beban yang ia bawa sangatlah berat. Disetiap pagi, ibu akan selalu menyiapkan masa depan anaknya terdahulu dibandingnkan anaknya sendiri yang masih merangkai mimpi namun di pulau kapuk. Sedihnya lagi, ibu harus merasakan menelan empedu ayam, yang rasanya sangat pait. Lantaran anaknya membentak tak mau menuruti keinginan ibu yang justru baik untuk kemajuan dirinya(anaknya). Terkadang, ibu juga yang selalu disalahkan karna hal yang tidak ia ketahui. Anaknya yang menutut ibunya sempurna, lupa bahwa ibu jugalah seorang manusia. Setiap hal yang tidak sengaja menyakiti seorang anak, murka yang besar yang diterima seorang ibu.
Pertanyaan untuk kita termasuk juga saya sendiri. "Pantaskah kita menyakiti ciptaan Tuhan yang jauh lebih sesetia dari apapun dimuka bumi ini,"ibu"?"
Di waktu pagi selalu ada perdebabatan antara seorang ibu dan anaknya. Ibu itu kerasnya layak batu yang tak mampu dipecahkan palu atau bahkan alat pemecah khusus batu sekaligus. Ia selalu beragumen benar dengan setiap kata-kata pedas yang ia keluarkan, bila anaknya tak mampu padamkan api dihatinya. Ia juga bagaikan momok yang menakutkan dengan asap mengepul dikedua telinganya seperti kereta api yang hendak berangkat untuk mengantar penumpangnya. tapi ada yang menarik, dari seorang ibu, ia selalu membawa kedua sayapnya meskipun beban yang ia bawa sangatlah berat. Disetiap pagi, ibu akan selalu menyiapkan masa depan anaknya terdahulu dibandingnkan anaknya sendiri yang masih merangkai mimpi namun di pulau kapuk. Sedihnya lagi, ibu harus merasakan menelan empedu ayam, yang rasanya sangat pait. Lantaran anaknya membentak tak mau menuruti keinginan ibu yang justru baik untuk kemajuan dirinya(anaknya). Terkadang, ibu juga yang selalu disalahkan karna hal yang tidak ia ketahui. Anaknya yang menutut ibunya sempurna, lupa bahwa ibu jugalah seorang manusia. Setiap hal yang tidak sengaja menyakiti seorang anak, murka yang besar yang diterima seorang ibu.
Pertanyaan untuk kita termasuk juga saya sendiri. "Pantaskah kita menyakiti ciptaan Tuhan yang jauh lebih sesetia dari apapun dimuka bumi ini,"ibu"?"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
1 wicara:
Posting Komentar