data-ad-format="auto"

#1

Oleh Stefanus Arie
FISIP Untag SURABAYA

Hasil gambar untuk surat



Ketika hujan deras dan jalanan mulai tergenang. Aku tak tahu apa yang menarik dibahas malam ini
Sebuah perbincangan tentang ritus agama?
Tapi aku tak tertarik bertukar pikir menyoal mana yang salah dan yang benar.
Bukankah kebenaran - jika meminjam sudut pandang Kami Ilyas - sejatinya tak ada. 
Bukankah kebenaran itu ada menurut sudut pandang masing-masing. Atau sebuah renungan pendek?
Mungkin, tapi saat ini aku sedang ingin menulis. Menulis apa saja, karena hanya itu yang kubisa. Tak mahir pula.
Bukan menulis secara harfiah di selembar kertas, tapi menulis kata-kata disebuah laptop. Mungkin, sekadar ingin mendengar suara 'tuts' keyboard laptop diketik.

Hujan deras dan jalanan mulai tergenang. Tuts keyboard laptop yang beradu itu seperti suara hujan yang membentur atap-atap rumah, melankolis sekaligus tegas. Tentang bunyi-bunyian yang tak mau tunduk pada sekitar. Seperti kegelisahan atas apa yang sudah mapan. Sesuatu yang telah menjadi kesepakatan bersama. Bahwa di tiap malam, keheningan adalah postulat yang akan ikut serta.

Tapi sesuatu yang telah disepakati bukankah membosankan? Sesuatu yang menunggu untuk dirubah, dihancurkan, dan ditata ulang. Seperti negara yang terlampau korup, pemimpin yang dungu dan masyarakat yang terlalu bebal. Malam seperti kali ini seringkali melahirkan keinginan-keinginan revolusioner, yang akan menguap seperti kentut di keesokan paginya.

Suara tuts yang beradu dengan jari-jari itu seperti melenakan. Sebuah beau geste yang sebenarnya hanya sebuah kehampaan dari ketiadaan pekerjaan. Tapi bukankah itu tak penting? Saat aku menulis ini, ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa tulisan ini akan menjadi penting. Atau setidaknya memiliki manfaat. Namun sampai saat ini aku masih belum tau apa yang akan kutulis.

Sementara jari-jariku terus menulis kata-kata yang nir makna. Ingatan masa lalu berkelebatan serupa "blietzkrieg". Menghantarkan fragmen-fragmen kenangan yang mau tak mau datang. Seperti canda tawa di sebuah warung kopi, perjalanan dalam sebuah kereta api, kutipan dari sebuah buku yang tak seberapa terkenal, dan perdebatan panjang yang disertai kemarahan. Semua datang silih berganti tanpa bisa dikendalikan.

Betapa terkutuknya sebuah kenangan bisa jadi tergantung perasaan yang dibawanya.
Seperti sepotong sajak cinta tentang senja yang turun perlahan. Atau kemarahan atas sebuah pengkhianatan yang disertai pemakluman. Dan kenangan itu datang tanpa sebuah narasi yang runut. Menghasilkan badai perasaan dalam diriku. Seperti sengau marah yang tertahan di ujung hidung saat bersin.

Hujan diluar tak membuatku berhenti menulis. Padahal rinai hujan sedang memukul-mukul jendela di kegelapan. Membawa imaji tentang jari-jari mungil peri yang sedang menunggu penyelesaian harapan. Tapi aku memilih acuh dengan semua itu. Karena mempercayai peri-peri adalah keniscayaan pada subjek transenden selain Tuhan.

Bunyi tik tok tik tek trot itu semakin merdu, mengandaikan diri sebagai Mozart yang tuli dalam proses penciptaan mahakaryanya. Bahwa dalam segala anomali ada sebuah keindahan jika kita cukup sabar untuk menikmatinya pelan-pelan. Aku semakin resah. Karena belum ada kesadaran untuk apa aku menulis ini. Untuk apa aku menyusun kata-kata ini. Sementara keresahan semakin kalut. Ingatan terus berkuasa dan menarik aku ke masa lalu. Masa dimana semua kata-kata ini belum tercipta.

Hmm...

Apakah tidak terlalu larut untuk melankoli?

Hujan semakin deras, jalanan sudah lama tergenang.

3 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Stefanus Arie mengatakan...

Kok bagus trs pak? Kritiknya mana?

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE