data-ad-format="auto"

SUARA ANAK KECIL



Oleh Ulung Hananto
Sore yang cerah di sebuah perkampungan  yang ramai diisi oleh anak-anak kecil, yang memanfaatkan waktu liburan sekolahnya untuk bermain, mengingatkan pada masa kecilku yang begitu menyenangkan. Menyenangkan karena kurasa duniaku sewaktu kecil benar-benar jauh dari peradaban teknologi. Sembari menikmati sore hari ini, terlitas dipikirku mengingat Kebahagian penuh dengan kenangan yang indah bersama kawan-kawanku. Kupandangi juga mereka yang sedang asik bermain permainan tradisional yang kurasa sudah tercipta berabad-abad lamanya ini. Ada yang bermain petak umpet, boneka-bonekaan,lompat tali ada juga  yang cuma bersenda gurau dan bertukar cerita pengalaman masing-masing. Bahagia akan kesederhanaan itu terlihat jelas dari raut wajah mereka. Pandanganku berahli ketika terlihat dari ujung perkampungan itu terdapat sebuah kereta kelinci yang akan melewati perkampungan ini. Terdengar dibalik kereta kelinci tersebut terdapat lagu anak-anak yang mengundang naluri kekanakanku muncul dan anak-anak yang sedang bermain tadi ikut bernyanyi. Kamipun sangat menikmati setiap bait lagu anak-anak yang diiringi oleh penyanyi yang sesuai dengan umurnya itu. Namun, durasi lagu anak-anak tersebut agaknya sudah selese dan memutarkan lagu selanjutnya. Tiba-tiba yang disayangkan setelah lagu itu selesai, bukan lagi lagu anak-anak yang di putar, melainkan lagu dangdut dengan musik ciri khasnya. Saya tidak bersependapat bila kereta kelinci itu diiringi lagu-lagu dangdut, yang notabennya merupakan genre lagu remaja ke dewasa tersebut. Rasanya inginku sampaikan pendapatku ini kepada si pengemudi kereta kelinci tersebut. Tetapi itu tidak mungkin karna kereta kelinci itu sudah jauh meninggalkan perkampungan ini. Miris melihat ini rasa kepeduliankupun muncul, Saya merasa kasihan dengan anak-anak zaman sekarang yang tidak bisa mendengarkan lagu-lagu yang seharusnya di dengarkan di usia mereka yang masih belia seperti saat ini. Namun keresahanku belum selesai ditambahi ketika anak-anak yang sedang bercanda ria tadi tiba-tiba membicarakan sebuah kisah percintaan yang ada di sinetron yang di siarkan salah satu stasiun TV. Sungguh ironis anak zaman sekarang. Pikirku yang memikirkan bagaimana masa depan mereka, bila masa kecilnya sudah diisi dengan opini sebuah TV yang tidak mampu mereka saring pesan yang mereka peroleh.  Ternyata tidak hanya lewat lagu dan siaran yang ada di televisi yang merusak moral anak-anak kecil zaman sekarang. Melainkan  permainan game online yang sekarang menjadi candu setiap pemainya atau biasa disebut gamers. Pandangku berahli menjauhi anak-anak yang sedang bermain tadi dan melihat dari salah satu penyedia tempat media permainan online yang ada di perkampungan ini. Rasanya siang sampai malam tak pernah sepi oleh anak-anak yang ingin bermain game online. Mereka menghabiskan waktu beberapa jam hanya duduk di depan layar monitor dengan membuang ribuan rupiah atau bahkan puluhan rupiah secara percuma. Begitu kasihan masa kecil anak-anak zaman sekarang karena masa kecil yang seharusnya mereka hiasi dengan kesenangan,keceriaan dan penuh dengan kenangan di rusak oleh kaum industri yang tidak bertanggung jawab akan psikolog mereka. Bukan hanya mirisnya zaman anak-anak yang terjadi pada diperkampungan ini. Di sebuah warung kopi ketika hendak bertukar pendapat dengan seorang teman, saya melihat kejadian yang amat sangat tidak wajar. Nampak ada beberapa anak terlihat masih Sekalah Dasar, usianya sekitar 8-10 tahunan ikut cangkruk bersama tanpa ditemani orang dewasa. Di warung kopi yang kebanyakan merupakan tempat orang dewasa beristirahat, melepas penat seharian. Parahnya mereka menghisap rokok juga. Yang sangat mustahil bila mereka mampu membeli dalam hitungan per -packan. "Sungguh sangat rusak anak bangsa sekarang," pikirku dalam hati. Dalam benak saya mengatakan " apakah ini yang dinamakan perbedaan zaman?," . Moral anak bangsa yang seharusnya di bentuk untuk menjadi seorang yang berguna untuk bangsa. Harus di rusak oleh kaum industri yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi mereka. Di mana peran para pelindung anak atau bahkan kaum orang tua yang memikirkan nasib anak-anaknya, ketika moral anak bangsa dirusak. Kita yang disebut kaum intelektual, masihkah kita disebut orang pintar bila masih membiarkannya masalah ini. Mungkin di sini peran mahasiswa sangat di butuhkan untuk membantu mengembalikan moral anak-anak ini. Semoga hal ini mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

2 wicara:

www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
www.pusat-grosir-surabaya.blogspot.com mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
 

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

IKLAN

TRANSLATE