oleh: Dia Puspitasari
Secara etimologis, dialektika berasal dari Yunani "dialego" yg artinya adalah pembalikan atau perbantahan. Sedangkan, dalam pengertian lama dialektika dimaknai sbg metode pencapaian kebenaran melalui pertentangan dalam perdebatannya dari satu pertentangan berikutnya. Selanjutnya, dialektika dipergunakan untuk memahami sebuah realitas dalam konteks apapun.
Dengan demikian, mungkim berfikir dialektis salah satu indikatornya adalah memahami realitas (dlm konteks apapun) sebagai totalitas dalam artian keseluruhan yg ada di dalamnya meemiliki unsur-unsur yg saling bernegasi (mengingkari-diingkari), kontradiktif (melawan-dilawan) dan kemudian saling bermediasi (memperantarai-diperantarai).
Bukankah dalil kehidupan nyata ini saling berkontradiksi, bernegasi dan kemudian bermediasi ? menyitir sedikit gagasan Franz Magnis Suseno baahhwa dialektika memandang apapun sebgai kesatuan dari apa yg berlawanan sbg perkembangan melalui langkah-langkah yg saling berlawanan sbg hasil proses yg maju melalui negasi atau penyangkalan.
Jadi, kekhasan negasi adalah apa yg dinegasikan tidak dihancurkan melainkan yg disangkal hanyalah sebagiaan yg merepresentasikan ketidaksesuaian tetapi kebenarannya tetap dipertahankan termasuk dlm konteks romans. Hegel sebenarnya tidak pernah menggunakan tesis, antitesis dan sintesis (perlu dikaji lagi dgn peelbagai literasi tentunya) melainkan dual yaitu yg berstruktur dua yakni tesis , antitesis dan antitesis antitesisnya dan seterusnya (Magnis Suseno, 2999: 62).
Penganalogian sederhananya, terminologi pulau. Pulau adalah tanah (tesis). Ini salah, sebab India juga tanah tetapi bukan pulau. Pulau itu bukan tanah tetapi air (antitesis), karena tidak ada pulau tanpa air. Tetapi pernyataan itupun tidak benar (antitesis antitesis). Pulau bukan air melainkan dan bukan juga tanah melainkan tanah yg dikelilingi oleh air (sintesis). Sehingga kebenaran pulau hanya tercapai melalui dua bentuk negasi.
Lantas, bagaimana dialektika dalam konteks romans ? proses berfikir dialektis ? baik menurut Hegel ataupun Marx dgn "dialectical materialism" (mutlak multitafsir).
Kategori:
entah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar