Gagasan layaknya seekor ayam. Jika hanya dikurung dalam sangkar ia hanya menunggu si-tuan untuk diberi makan. Ayam ini tidak bisa memilih makanan apa yang harus di makan, ayam ini tidak akan bisa survive ketika di lepas ke alam bebas, karena terbiasa menerima jadi (junk food gagasan). Insting hidupnya (freud) mati dan membusuk Layanya elang yang di sita dari rumah pribadi sebagai hiasan, harus di rawat di penangkaran a insting hidupnya dan insting matinya kembali hidup. .
Bandingkan dengan ayam kampung dan burung yang bebas di alamnya. Mereka memakan apa saja fan tidak takut mengambil resiko jika mengalami keracunan, diijinkan berbenturan dengan ayam yang lain.
Sama dengan gagasan. Jika ia hanya dikembangkan di gedung sekolah, menunggu para guru untuk memberikan asupan gagasan, tidak dapat menolak makanan yang ada, hingga gemuk gagasan instan namun kosong di dalam layaknya ayam broiler. Ketika bertarung di luar ia akan kalah dengan ayam ayam. kampung yang hidup bak separta. lalu bagaimana jika guru tidak memberikan gagasan? Tentu para pelajar akan impoten gagasan dan tak mampu untuk berdiri.
Bukankah belajar yang sangat efektif ketika individu itu dalam keterdesakan (the power of kepepet) apapun aral melintang akan di sapu habis.
Karena gagasan tidak dapat di asuransikan
Kategori:
Essai
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

https://orcid.org/0000-0003-2892-5411
0 wicara:
Posting Komentar